“Dia main sinetron, film, atau nyanyi lagu apa sih sekarang? Perasaan nggak pernah kelihatan deh. Munculnya cuma di acara gosip doang -_-”

“Justru habis muncul di acara gosip ini dia baru dapat tawaran nyanyi, main sinetron, dan film. Artis kan harus gitu, bikin sensasi dulu biat terkenal dan ditawari kerjaan.”

Apa iya sesulit itu mendapatkan tawaran pekerjaan di bidang keartisan sampai-sampai harus membuat sensasi dulu agar dilirik pasar? Tidak hanya satu dua artis lho yang mencoba peruntungan dengan membuat beragam sensasi seperti ini. Ada yang sensasinya kreatif (beda sama yang lain maksudnya), banyak pula yang sensasinya cuma ikut-ikutan artis lain. Kamu tahulah ya apa saja kasus-kasus para artis yang sebenarnya cuma sensasi dan jauh dari realita sebenarnya.

Lama-lama sensasi justru seolah dibenarkan, baik di kalangan artis maupun masyarakat penikmat dunia hiburan. Mungkin kamu juga salah satu pengagum kisah-kisah sensasional para artis. Secara tidak sengaja mungkin kamu jadi salah satu penyumbang kesuksesan mereka dengan membicarakan kasusnya meski kamu cuma bilang “Halah paling itu cuma sensasi”. Kamu tetap berkontribusi pada kepopuleran artis ini.

Dari penampilan sampai seksualitas, artis Indonesia seolah tidak kehabisan ide untuk mendongkrak popularitasnya

Nikita Mirzani via merahputih.com

Berbagai macam isu sudah pernah diangkat menjadi sensasi oleh para artis. Tujuannya tentu tidak jauh dari upaya mendongkrak popularitas. Entah itu hal-hal yang berkaitan dengan asmara seperti pacaran, menikah dan bercerai; persoalan gaya hidup seperti penampilan, kepemilikan barang-barang mewah, dan lainnya; serta seksualitas, kamu tentu belum lupa dengan kasus prostitusi artis kan?

Advertisement

Beberapa artis Indonesia bahkan tidak pernah segan mengumbar masalah pribadinya demi bisa diliput media gosip nasional. Artis-artis karbitan pun banyak yang melakukan hal serupa. Jangan-jangan dia baru muncul sekali jadi figuran di salah satu sinetron, lalu mengaku jadi artis dan terus bikin sensasi.

Padahal dunia hiburan jauh lebih keras, sensasi cuma mempopulerkan para artis sesaat saja. Setelahnya nggak ada yang tersisa

Syahrini via merahputih.com

Kalau tujuan para artis mencari kepopuleran, maka sensasi saja tidak akan cukup. Sensasi hanya akan mengantarkan mereka pada kepopuleran sesaat saja. Paling hanya beberapa bulan, setelah itu masyarakat akan bosan dengan sendirinya untuk menggunjingkan kasus mereka. Tanpa ada popularitas, tawaran kerja tak akan lagi berdatangan. Lagian tawaran kerja sebesar apa sih yang datang ke artis-artis sensasional? Perasaan nggak kece-kece dan menjamin jangka panjang juga. Sebut saja main film yang tidak terlalu berkualitas hingga proyek musik asal-asalan. Ya siapa juga yang mau mendukung secara serius proyek berkarya dari artis-artis yang hanya punya modal sensasi.

Artis sensasional sebenarnya kebanyakan justru mendapat cap negatif, meski ada juga bagian dari masyarakat yang menjadikan mereka panutan

Vicky via vidio.com

Sesuatu yang sensasional memang mudah ditiru dan mengundang kita untuk menirunya juga. Sikap-sikap dan tingkah laku para artis sebagai figur publik seolah jadi tren di mata masyarakat. Entah dengan tujuan mengejek atau memang benar-benar ingin menirunya. Beberapa tahun lalu kita ramai terkena wabah vickinisasi, padahal kita semua tahu apa yang dia ucapkan salah. Awalnya berniat mengejek, tapi lama-lama jadi asyik juga kalau ikutan. Yang terjadi pada fenomena Awkarin pun sama. Anak-anak muda “tidak tahan” untuk tidak menirunya meski tahu Awkarin ini dicap nakal. Belum lagi sensasi-sensasi aneh lainnya, termasuk yang berbau kekerasan. Dampaknya bisa sangat masif dan fatal.

Mereka yang tahunya hanya mengumbar sensasi harusnya berkaca pada artis lain yang tak butuh itu semua untuk jadi populer

Raisa via merdeka.com

Tanpa mengumbar kehidupan pribadi, Raisa bisa tetap terkenal dan membuktikan bahwa popularitasnya konsisten. Dia adalah salah satu contoh artis yang bisa menjadi bukti untuk membantah artis lainnya yang meyakini bahwa tanpa sensasi, popularitas tak akan ada. Bahkan di tengah badai berakhirnya hubungan dia dengan Keenan Pearce, Raisa sama sekali tidak memanfaatkannya untuk mendongkrak popularitasnya. Dia tetap konsisten dengan citra positifnya di masyarakat.

Citra positif Raisa inilah yang justru bisa menghasilkan banyak fans dan tawaran-tawaran kerja sama yang jauh lebih istimewa. Lihat saja, apakah ada iklan produk terkenal yang menggunakan artis sensasional sebagai brand ambassador? Para pebisnis nggak akan segegabah itu memilih “wakil” promosi produknya. Jadi tujuan para artis pencari sensasi sebenarnya sia-sia?

Padahal bukannya artis itu artinya seniman ya? Kenapa banyak yang nggak kelihatan karyanya?

Chelsea-Reza via merahputih.com

Artis itu seniman, karyanya macam-macam dari mulai seni peran, vokal, musik, dan lainnya. Kalau kerjaannya cuma muncul di acara gosip pamer mobil mewah, suami baru, dan cat kuku unyu-unyu apa itu artis juga? Seharusnya enggak, tapi kita kemudian lambat laun memang mulai meleburkan pemahaman yang bias makna antara label “artis” dan “selebriti”. Jika “artis” adalah seniman, “selebriti” dalam KBBI berarti “orang termahsyur”. Praktis, jika yang dibutuhkan artis adalah karya, yang dikejar selebriti adalah ketenaran yang mana bisa diraih dengan mengumbar sensasi dan isu-isu miring seputar mereka sendiri.

Melihat fenomena ini harusnya ada yang perlu diperbaiki. Entah itu dari pihak pemerintah yang membuat regulasi di dunia hiburan, kesadaran diri para artis dan yang paling gampang tentu memperbaiki dirimu sendiri. Bagaimana memilih dan memilah informasi harus selalu kamu lakukan, jangan sampai kita makin dikendalikan sebagai pasar. Anggapan bahwa bersikap kurang baik asal sensasional bisa mendongkrak popularitas sebaiknya mulai kita kikis.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!