Sahabat pena. Sebagian kamu, anak generasi 90’an pasti pernah mengalami atau mungkin sekadar mendengar istilah ini. Rasanya punya sahabat pena itu seru lho. Dari mulai gelisah menunggu pak pos datang, sampai hati yang berbunga saat membuka amplop suratnya. Senang rasanya bisa bertukar kabar dengan teman yang bahkan dari pulau seberang. Kamu antusias banget cerita seputar sekolah sampai keluarga pada sahabat penamu, walau kamu dan dia belum sempat bersua.

Kali ini Hipwee bakal ngajak kamu nostalgia dengan mesin waktu. Kembali ke masa saat kamu rajin ke kantor pos dan sohiban banget dengan pak pos. Udah siap? Yuk, bersapen (bersahabat pena)!

1. Berawal saat kamu buka rubrik surat pembaca di majalah Bobo. Ternyata ada banyak pembaca yang mencari sahabat pena. Kamu pun tertarik untuk mengirimi mereka surat.

Awalnya kamu kenal sahabat pena dari rubrik surat pembaca di majalah bobo. via www.kompasiana.com

Saat membaca majalah Bobo, kamu kebetulan melihat rubrik surat pembaca. Di rubrik itu kamu melihat ada beberapa pembaca yang tengah mencari sahabat pena. Tertera jelas alamat mereka. Kamu pun tertarik untuk mengirimi mereka surat. Karena kamu penasaran seperti apa sih rasanya punya sahabat pena dari luar daerah. Yang tak bertemu wajah tapi bisa saling bertukar.

2. Kamu jadi rajin beli amplop dan kertas surat yang lucu. Tak lupa juga perangko.

Kamu pun menyishkan uang jajanmu untuk beli amplop dan kertas surat lucu. via shirubaapen.wordpress.com

Advertisement

Mulailah kamu sisihkan uang jajanmu untuk hunting membeli amplop dan kertas lucu. Biar surat yang kamu kirimkan cantik, kamu tambahkan stiker-stiker lucu di kertas suratnya. Kadang juga kamu semprotkan parfum biar wangi. Kamu juga jadi rajin beli perangko. Malah sempat berniat untuk mengoleksinya.

3. Ada sensasi tersendiri saat kamu menulis surat untuk sahabat penamu. Dari cerita seputar sekolah sampai keluarga, kamu ceritakan pada mereka.

Saat menuliskan ini kamu sangat excited. via heybawel.blogspot.com

Ketika kamu mulai menuliskan cerita untuk sahabat penamu, ada kebahagiaan tersendiri yang kamu rasakan. Excited karena kamu bisa cerita seputar sekolah sampai keluarga dengan teman baru. Biasanya kamu mulai menulis surat sepulang sekolah atau sehabis mengerjakan PR saat malam tiba. Setelah banyak hal yang ingin kamu ceritakan dengan sahabat pena.

4. Ketika beberapa surat selesai kamu tuliskan, saatnya kamu kirimkan. Kamu bela-belain ke kantor pos saat jam istirahat. Saat itu kamu jadi rajin berkunjung ke kantor pos.

Saat lihat kantor pos kamu jadi bernostalgia. via mifsaba.blogspot.com

Beberapa surat yang sudah selesai kamu tulis, kamu masukkan dalam amplop yang cantik. Saat itu jam istirahat kamu pergunakan untuk pergi ke kantor pos yang kebetulan jaraknya dekat dengan sekolah. Tak lupa minta antar teman dekatmu. Mulai saat itu kamu jadi pengunjung setia kantor pos. Karenanya saat ini, setelah kamu dewasa, ada perasaan nostalgia kala melihat kantor pos. Terkenang akan dirimu sendiri yang saat itu masih berpakaian merah putih dengan sepucuk surat di tangan.

5. Selama menunggu balasan, kamu gelisah setiap Pak Pos lewat. Ada surat buatku ga ya? Dan seminggu kemudian kamu mendapat surat balasan. Senangnya!

Pak Pos ada surat buatku ga? via id.wikipedia.org

Surat sudah terkirim dan sekarang waktunya kamu untuk menunggu balasan. Ada perasaan gelisah setiap Pak Pos lewat depan rumah. Ada surat buatku ga ya? Ada kalanya Pak Pos ternyata hanya lewat saja dan menyisakan rasa kecewa. Tapi seminggu kemudian kamu akhirnya mendapat surat balasan. Hatimu pun senang tak karuan. Entah kenapa ketika mendapat surat balasan, kamu seperti mendapat hadiah.

6. Padahal mungkin isinya ga penting-penting amat. Sama seperti kamu, sahabat penamu pun bercerita yang tidak jauh dari urusan sekolah.

Ada perasaan senang saat kamu membuka surat-surat ini. via honeysweet.wordpress.com

Waktunya kamu membaca surat, ternyata apa yang sahabat penamu tulis tak jauh beda denganmu. Tentang sekolah dan keluarga. Mungkin kalau kamu membacanya saat ini hal-hal itu ga penting-penting amat. Tapi di saat itu, menulis untuk sahabat pena sungguh sesuatu yang menyenangkan. Karena kamu bercerita dengan teman baru yang belum pernah kamu temui.

7. Saatnya kamu membalas kembali surat mereka. Kadang kamu membalas hadiah souvenir yang mereka kirimkan. Sekadar hadiah sederhana.

Saatnya kamu membalas surat-surat mereka. via krjogja.com

Kamu pun membalas kembali surat mereka. Kamu menjawab curhatan sahabat penamu tentang permasalahan yang tengah dihadapinya. Karena sahabat penamu ternyata menyelipkan souvenir berupa stiker dan jepit rambut, kamu pun berniat membalasnya dengan memberinya souvenir juga. Kali ini kamu memberinya gelang cantik sebagai kenang-kenangan. Sekadar hadiah sederhana.

8. Walau aktivitas berkirim surat mengurangi uang jajanmu dan kadang ada surat yang tak berbalas, tapi kamu tetap menjadikannya hobi.

Walau beli perangko, amplop, dan kertas surat mengurangi uang jajanmu, tapi kamu tetap hobi bersapen. via www.tumblr.com

Tak bisa kamu pungkiri saat itu berkirim surat cukup mengurangi uang jajanmu. Lagi kadang ada surat yang tak berbalas, tapi entah kenapa kamu tetap menjadikannya hobi. Tapi entah kenapa kamu tetap menjadikan bersapen sebagai hobi kamu. Karena ada kesenangan sendiri saat berkirim surat dengan teman yang belum kamu kenal sebelumnya.

9. Kamu dan sahabat penamu memang belum pernah bertemu, tapi saling membagi kisah mengajarkanmu arti pertemanan yang lekat. Walau jarak kalian tak dekat.

Bersapen mengajarkanmu artinya pertemanan yang lekat. via salaciouseros.co

Kamu dan sahabat penamu memang tak pernah bersua. Tapi ikatan pertemanan itu hadir seiring dengan seringnya kalian bertukar kisah. Mungkin saat ini sebagian sahabat penamu hilang tanpa kabar. Tak lagi membalas surat-suratmu. Tapi, beberapa ada yang setia menjalin komunikasi denganmu, yang mungkin tak lagi dengan bertukar surat, melainkan via chatt. Karenanya bersapen mengajarkan arti pertemanan yang lekat, walau jarak kalian tak dekat.

Rindu ya dengan sahabat penamu dulu? Sebagian kamu ada yang berhasil menjalin komunikasi lagi. Sementara kamu yang kehilangan kabar mereka, kenangan saat menulis dan membalas surat-surat itu tetap tersimpan di hati. Okeh, saatnya kita kembali ke masa kini. Di mana bertukar pesan bisa dalam hitungan detik. Mungkin kamu bisa

Featured Image: priscilanicolielo.com