Beberapa hari terakhir ini, saya terpaksa harus kembali membuka kenangan saya saat masih kuliah. Pasalnya, saya dikejutkan oleh berita yang ramai diperbincangkan di media sosial. Ya, kampus tercinta saya, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), terjerat kasus yang sangat serius; yang melibatkan mahasiswa dan juga rektornya, Djaali. Mau nggak mau, saya cari tahu soal masalah yang menjurus pada plagiarisme ini.

Kalau mau jujur, hati saya nggak sepenuhnya terkejut membaca kabar ini. Sebab, aroma-aroma nggak sedap dalam praktik pendidikan di kampus saya ini sudah tercium sejak saya masih berkutat dengan wacana skripsi 2014 lalu, awal di mana rektor agung Djaali ditampuk sebagai orang nomor satu di UNJ.

Kabar yang beredar, lima mahasiswa Pascasarjana terlibat kasus plagiarisme. Sementara Djaali melaporkan balik atas dugaan pencemaran nama baik

Banyak gedung baru. via unjkita.com

Di dalam lingkungan kampus, sudah sejak lama, ternyata topik terhangat yang muncul dari tiap tongkrongan dan gelas-gelas kopi hitam adalah masalah soal plagiarisme ini. Betapa memalukan, betapa meresahkan. Ujar salah seorang adik kelas saya, topik plagiarisme yang ditutup-tutupi ini sudah ada sejak lama. Tapi baru kali ini terbongkar oleh awak media. Ya, wajar, ada lima orang mahasiswa Pasca UNJ yang tercyduk melakukan plagiat dalam mendapatkan gelar doktornya, dan dia adalah bekas gubernur Sulawesi Tenggara yang kini jadi tahanan KPK, Nur Alam (NA) beserta jajarannya di pemerintahan. Masalahnya lagi, NA lulus dengan predikat summa cum laude! Wajar dong kalau jadi tanda tanya besar di kalangan akademisi?

Singkat cerita, Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) dari Kemenristekdikti menetapkan adanya pelanggaran atas gelar yang diraih NA. Tapi berdasarkan wawancara Tirto bersama Djaali, rektor UNJ itu mengatakan nggak ada yang janggal. Sebelumnya, 10 November 2016, UNJ sudah membuat Surat Keputusan Rektor soal uji Turnitin sebagai syarat kelulusan, yang secara garis besar, UNJ menghalalkan plagiarisme untuk mendapatkan gelar sarjana, magister, hingga doktor. (WOW!) Selain itu, kabarnya Djaali pun memobilisasi Ikatan Alumni Pascasarjana untuk melakukan ‘balasan’ pada M. Nasir terkait keberadaan Tim EKA­. Mereka menilai Tim EKA ini nggak ada dalam struktur tubuh Kemenristekdikti.

Tapi ini cerita lama bagi saya. Di tahun 2013, sudah ada tulisan terkait gelar doktor yang penuh kebohongan dan berakhir sial bagi si penulis

Advertisement

Kalau yang ini, lulusnya bukan abal-abal. via www.instagram.com

Di pertengahan tahun 2013, seorang dosen diberhentikan secara sepihak, secara ilegal mungkin. Alasan yang beredar, cuma gara-gara tulisan. Saat itu, saya masih menjadi mahasiswa yang sok sibuk dengan proposal skripsi. Alhasil, mau nggak mau, saya harus banyak baca SMS dari gebetan. Kebetulan saat itu saya membaca sebuah tulisan dengan tajuk ‘Gelar Doktor Hermafrodit’ yang berisi tentang manipulasi dan prosedur untuk mendapatkan gelar. Buah tulisan dari seorang dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Saifur Rohman, yang sekaligus dosen pembimbing saya ini adalah pemberhentian yang sama sekali nggak etis, nggak ada dasar hukum yang jelas, dan langsung diberhentikan dari Pascasarjana.

Padahal, dalam tulisan yang diterbitkan koran Kompas, 2 Juli 2013 itu, nggak ada sama sekali nama UNJ, sang rektor Djaali (yang saat itu masih menjabat sebagai Direktur Pascasarjana UNJ (2009-2014), atau siapapun warga kampus UNJ yang dilibatkan. Tapi nasi telah menjadi bubur, dan nggak ada tempat di Pascasarjana buat Saifur. Sebuah kecacatan nalar bukan? Ini baru satu kasus yang saya temui secara langsung dan dekat.

Sementara bagi Djaali, ini bukan kasus pertama yang dia hadapi sebagai rektor UNJ. Banyak kasus yang pernah menimpanya

Pak rektor. via tirto.id

Berbicara soal rektor Djaali, rasanya saya atau sebagian besar alumni yang pernah merasakan kepemimpinannya (2014-2018), akan mengeluh dan sedikit abai, saking banyaknya kebijakan Djaali yang nggak asyik menurut mahasiswanya. Buat kamu yang pernah main ke UNJ, pasti kamu akan menemukan tempat parkir yang ribet—tapi sekarang isunya sedang proses perbaikan, entah kapan mulainya.

Lalu ada kasus halaman kampus yang dijadikan latar syuting FTV dan diubah nama jadi SMA Galaxy—meski saya nggak tahu siapa yang memberi izin; mahasiswa dan dosen kritis yang dilaporkan karena diduga melakukan pencemaran nama baik; adanya indikasi gurita keluarga dalam UNJ di bawah kepemimpinan Djaali; atau yang masih sangat erat di ingatan, di-DO-nya seorang mahasiswa karena mengemukakan pendapat. O, ya, kasus asusila pun pernah ada di masa kepemimpinannya. Dan masih banyak lagi. Kalau nggak percaya, coba googling, dan kamu akan mendapatkan cukup beragam berita yang sangat disayangkan selama tampuk kepemimpinan berada di tangan Djaali. Tapi semoga ini yang terakhir deh.

Kalau begini terus, sebagai alumni, saya sangsi untuk membanggakan almamater kebesaran saya. Ada yang kangen IKIP Jakarta?

Almamater kebesaran. 🙁 via salimunj.com

Agaknya memang aneh ketika saya harus bangga dengan predikat saya sebagai alumni dari kampus negeri satu-satunya yang berdiri pongah di Ibukota Jakarta. Sebagai bekas mahasiswa yang sering tidur di kampus, sudah seharusnya memang saya berterima kasih pada UNJ. Tapi untuk membanggakannya? Saya hanya bangga pada para mahasiswa kritis—yang pernah berbagi kopi dan opini selama saya berkuliah—di sana atau gedung-gedung pencakar langit yang cocok buat foto #OOTD. Kebijakan dan kepemimpinan sang rektor? Hmm. Maka, nggak heran kalau saya atau beberapa dari alumni UNJ lebih bangga menyebut dirinya sebagai alumni IKIP Jakarta.

Terlepas dari kapasitas saya sebagai alumni, tentu harapan saya semoga UNJ, UHO, atau kampus manapun yang terlibat kasus plagiarisme akut, bisa segera mengakhiri masalah memalukan ini. Dan khusus untuk UNJ, semoga kamu bisa kembali menjadi kampus pergerakan lagi, ya!

Salam rindu,

Blok M pojok.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya