Gegap gempita pesta olahraga dunia – Olimpiade Rio 2016 di Brazil disambut antusias oleh warga dunia. Berbagai jenis olahraga dipertandingkan antar negara, tentu dengan persiapan yang matang. Begitupun dengan perwakilan tim Indonesia. Tak ayal masyarakat di Tanah Air turut bersemangat menantikan pertandingan tim kesayangan ini.

Sayangnya kekecewaan telah menyelimuti Tanah Air. Penanyangan pembukaan Olimpiade Rio 2016 ditunda dan beragam acara rutin dari stasiun televisi pemegang hak siar seperti film televisi (FTV) maupun sinetron lebih diutamakan. Apalagi saat medali pertama berhasil disumbangkan dari cabang olahraga angkat besi, masyarakat pun geram dan menuangkan melalui media sosial (medsos).

Tak lama tagar #RIPBroadcasterRio ditwitter menjadi trending topic beberapa saat. Hal ini karena saat pertandingan angkat besi, diketahui dua TV swasta pemegang hak siar tak menayangkannya.Seperti apa kekecewaan para netizen terhadap pemegang hak siar Olimpiade Rio 2016 ini? Langsung saja yuk simak!

 

Dua stasiun TV swasta Indonesia memegang hak siar: SCTV dan Indosiar. Tentu, jangkauannya yang luas bikin masyarakat antusias menyambut Olimpiade 2016

siapa yang nggak tahu kedua stasiun tv swasta ini? via media.iyaa.com

Advertisement

Stasiun TV swasta yang mendapat hak siar Olimpiade Rio 2016 tentu bukan pemain baru dalam industri penyiaran. Tak hanya masyarakat di kota-kota besar saja yang dapat menikmati program acaranya, tapi di daerah pun demikian. Apalagi dengan kekuatan jaringan grup perusahaan kedua stasiun TV yang cukup besar ini, tentu membuat masyarakat berharap makin mudah menonton pertandingan. Oleh karena itu, tak heran publik memiliki ekspektasi cukup tinggi dalam menikmati pesta olahraga dunia tahun ini.

Namun, kekecewaan tumbuh sejak tayangan pembukaan Olimpiade Rio 2016 ditunda. Siaran pertandingan pun disayangkan karena tak seperti yang diharapkan

siaran pembukaannya ditunda ;( via foto.okezone.com

Harapan publik terhadap penayangan Olimpiade Rio 2016 pun berkurang. Hal ini karena terjadi penundaan jam tayangnya saat pembukaan. Tak heran masyarakat yang sudah lama menantikan jadi kesal lantaran ingin segera melihat kemeriahan upacara pembukaan pesta olahraga dunia yang berlangsung di Amerika Selatan ini. Terutama ketika jajaran tim Indonesia muncul saat perwakilan setiap negara jalan beriringan dengan kostum kebanggaan.

Publik pun kecewa, terutama saat atlet angkat besi – Sri Wahyuni Agustiani berhasil menyumbang medali pertama. Masyarakat tak bisa melihat aksi dan penerimaan medali karena dua TV swasta pemegang hak siar malah menyiarkan siaran rutinnya

momen membanggakan namun sayang tak bisa dilihat di tv via www.rappler.com

Kekecewaan publik kian memuncak saat tayangan pertandingan tak sesuai harapan. Hal ini terjadi ketika medali pertama berhasil disumbangkan dari cabang olahraga angkat besi, yakni medali perak. Tentu saja keinginan melihat aksi dan penyerahan medali kepada sang atlet – Sri Wahyuni Agustiani tak ingin dilewatkan. Publik pun mengetahui kabar bahagia ini dari pemberitaan di media massa dan media sosial.

Pertandingannya yang tak ditayangkan oleh kedua TV swasta pemegang hak siar tersebut membuat publik geram. SCTV dan Indosiar lebih mengutamakan tayangan acara rutinnya daripada pertandingan salah satu atlet Indonesia ini. Tak heran tagar #RIPBroadcasterRio menjadi trending topic sebagai luapan kekesalan dan koreksi soal tayangan Olimpiade Rio 2016 ini.

ini misalnya via twitter.com

Memang masih ada cara lain melihatnya melalui streaming. Namun bukan kah hal seperti ini hanya bisa dinikmati bagi yang mampu dan berada di kota-kota besar saja?

tetap saja hanya kalangan tertentu yang bisa menikmatinya via www.dutawisata.co

Grup perusahaan yang menaungi kedua TV swasta tersebut sebenarnya memberikan alternatif lain selama Olimpiade Rio 2016 ini. Yup! Masyarakat bisa menonton pertandingan via streaming pada salah satu laman yang juga di bawah naungan mereka.

Hal tersebut sah-sah saja dilakukan, toh kini teknologi memang sedang berkembang. Sayangnya hal tersebut tak mengurangi kekecewaan publik karena cuma kalangan tertentu saja yang bisa streaming. Hanya orang yang mampu dan berada di kota-kota besar yang bisa menikmati tayangannya. Hal ini pun senada kalau menonton melalui stasiun tv swasta (masih di bawah naungan mereka) yang sebelumnya diketahui cakupan siarannya hanya Jabodetabek saja.

Akan tetapi kita memang hanya bisa kecewa. Keputusan absolut ada di pemegang hak siar. Dan jika mereka lebih memilih menyiarkan sinetron, jangan-jangan memang kita sendiri yang minta?

mungkin yang begini yang lebih disukai via anak-menteng.com

Terlepas dari berbagai kritik, keputusan tayangan Olimpiade Rio 2016 berada di kendali mereka. Mau siaran live atau bukan, atau mau memilih pertandingan tertentu saja yang ditayangkan tentu terserah mereka. Toh, mereka  yang memegang hak siar. Namun mungkin dari kejadian ini bisa kita renungkan kembali bahwa apakah akar permasalahan sebenarnya kita sendiri?

Tak bisa dipungkiri jika yang namanya stasiun televisi masih berpegang pada rating dalam menentukan tayangannya. Mereka hanya memberikan apa yang diminta. Termasuk dalam kasus ini. Jikalau SCTV dan Indosiar lebih memilih menayangkan sinetron dan kawanannya, faktanya memang itulah yang kita inginkan. Kamu yang marah-marah melayangkan protes mungkin hanya bagian dari minoritas yang jumlahnya tak sebanding dengan anak-anak ABG ceria yang masih menunggu cemas apakah Aril akan jadian sama Troy. Masalahnya lebih pelik dari kelihatannya.