Pernah nggak sih Kamu kepikiran bisa melihat planet-planet dan rasi bintang dengan mata telanjang? Kalau iya, Kamu harus kompak matiin lampu rumah bareng-bareng karena tanggal 6 agustus 2016 besok di langit bumi kita bisa melihat fenomena alam “Segitiga Musim Panas” yang terdiri dari bintang Vega, Deneb, dan Altair.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengajak seluruh warga kota di Indonesia untuk sejenak merayakan pesona langit malam yang hilang. Asal kamu tahu sebenarnya lampu-lampu kota membunuh keindahan bintang-bintang yang ada di langit bumi, simak aja langsung yuk beritanya!

Polusi cahaya adalah hamburan cahaya lampu perkotaan yang menyebabkan langit tampak terang, sehingga mengalahkan cahaya bintang.

Sebenarnya kita bisa melihat keindahan bintang-bintang dengan mata telanjang tapi karena polusi cahaya yang semakin banyak, jadi ketutup deh 🙁

Percaya atau nggak, kemajuan teknologi pencahayaan pada gedung-gedung bertingkat yang semakin maju berdampak pada langit-langit bumi. Kita nggak bisa kayak dulu lagi deh dengan mudah bisa melihat rasi bintang dengan mata telanjang. Dulu di Observatorium Bosscha, Bandung, para ilmuwan masih bisa melakukan penelitian pada obyek-obyek redup, sekarang sudah tidak bisa lho~

Advertisement

“Sekarang, polusi cahaya itu sudah melanda 80 persen wilayah Bumi. Itu mengganggu bagi penelitian astronomi,” Thomas via kompas.co

Nah, maka dari itu LAPAN ngajakin kita matiin lampu bareng-bareng buat bisa lihat rasi bintang!

Wah bintangnya keren! via www.dw.com

Ahli astronomi dan astrofisika sekaligus Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin mengimbau kepada masyarakat untuk ikut serta dalam kampanye ‘Malam Langit Gelap’. Lewat akun Facebooknya, lulusan Kyoto University Jepang ini mengajak kita mematikan lampu selama satu jam mulai dari pukul 20.00 WIB hingga 21.00 WIB tepat pada hari Sabtu, 6 Agustus 2016 mendatang.

Ajakan ini bukan tanpa alasan. Sebab pada malam itu, galaksi Bima Saksi dengan ratusan miliar bintang akan terlihat jelas membentang dari utara ke selatan. Oleh karena itu, dengan mematikan lampu selama sejam maka polusi cahaya akan jauh berkurang dan masyarakat dapat menyaksikan keindahan langit yang jarang terlihat di malam-malam biasa.

“Kita bisa melihat rasi Angsa (Cygnus) di langit utara dengan Segitiga Musim Panas (Summer Triangle), tiga bintang terang di sekitar rasi Angsa: Vega, Deneb, dan Altair. Di langit selatan kita bisa melihat rasi Layang-layang atau Salib Selatan (Crux) yang sering digunakan sebagai penunjuk arah Selatan. Hampir di atas kepala kita dapat menyaksikan rasi Kalajengking (Scorpio) dengan bintang terang Antares,” Thomas via tdjamaluddin.wordpress.com

Kenapa harus mematikan lampu tanggal 6 Agustus? Ternyata hari itu hari keantariksaan lho!

Hayo tebak apa itu? Itu rasi bintang scorpio lho via tdjamaluddin.files.wordpress.com

Thomas Djamaludin menambahkan bahwa pemilihan tanggal 6 Agustus selain demi memperingati Hari Keantariksaan, juga terkait dengan musim kemarau pada bulan Agustus sehingga berpeluang besar untuk mengamati langit yang cerah bertabur bintang kalau gangguan polusi cahaya diminimalkan. Kalau kita berhasil meminimalisasi polusi cahaya selama satu jam, kita bisa melihat Galaksi Bima Saksi dengan ratusan milyar bintang membentang dari Utara ke Selatan.

Tambahan informasi, LAPAN mengusulkan akan dibangun Observatium Nasional di Kupang-NTT. Sekalian juga dijadikan sebagai kawasan Taman Langit Gelap. Keren!

LAPAN mengusulkan kawasan sekitar Observatorium Nasional yang akan dibangun di Kupang sebagai kawasan Taman Langit Gelap. Beberapa kawasan di Nusa Tenggara Timur sangat potensial untuk dijadikan Taman Langit Gelap. Kondisi cuaca yang kering memungkinkan jumlah malam cerah paling banyak. Kawasan seperti ini bisa menjadi daya tarik turis untuk wisata astronomi yang menarik. Apalagi Indonesia yang berada di wilayah ekuator memungkinkan kita mengamati langit utara dan langit selatan. Di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa, para pengamat astronomi lebih banyak mengamati langit utara. Sementara pengamat di Australia lebih banyak mengamati langit selatan.

Di Indonesia, kita bisa menikmati bintang-bintang di langit utara dan selatan lebih leluasa. Di kawasan Taman Langit Gelap, penggunaan lampu sangat dibatasi, hanya boleh untuk di dalam ruangan yang tidak memancar ke luar.

Thomas Djamaludin via tdjamaluddin.wordpress.com

Tuh, keren kan. Kapan lagi kita punya taman langit gelap berskala internasional di Indonesia. Untuk itu, kita perlu mulai mendukung dari kompak matiin lampu ruangan tanggal 6 Agustus besok! Serentak biar keren!