Minggu (17/4) lalu, Dian Sastro cantik banget. Ups, udah sehari-harinya ya. Maksudnya, ia cantik banget, padahal tengah merasa terluka. Teriris pedih dalam guratan kekecewaan dan pertanyaan. Sebab musababnya ada dua. Satu, komentarnya di sebuah acara seminar disalahtafsirkan oleh seorang wartawan. Kedua, ia sedih karena ketiadaaan laki-laki.

Serius Dian Sastro kesepian dan merindukan kehadiran laki-laki??? Sabar mas, yang dimaksud adalah ketiadaan laki-laki dalam Aksi Kendeng, sebuah aksi unjuk rasa dari sembilan ibu-ibu asal Rembang, Jawa Tengah yang mengecor kaki mereka sendiri di depan Istana Negara. Ibu-ibu yang menyebut diri mereka Kartini Kendeng itu menuangkan adukan beton ke kaki mereka di kotak kayu ukuran 100 x 40 sentimeter sembari melantunkan lagu Salah Mongso dan Segoro Hilang Manise. Tujuannya? Menolak pembangunan pabrik semen di pegunungan Kendeng Utara yang menciderai lingkungan dan sumber daya alam mereka. Sumber mata air terancam keselamatannya, sementara iming-iming perluasan lapangan kerja oleh pabrik-pabrik semacam itu sejak jaman lampau juga tidak pernah menciptakan akhir yang bahagia.

“Saya kurang paham atas kasus tersebut dan belum mendalami duduk permasalahannya sehingga pengetahuan saya sangat terbatas dan belum tahu harus menjawab apa. Saya sangat prihatin dan sedih atas nasib ibu-ibu tersebut yang mempertaruhkan kesehatan. Di luar itu, saya jadi tertarik dan bertanya-tanya sendiri, apabila kasus ini sangat serius, kenapa yang berjuang hanya ibu-ibunya?”

Untuk kasus sebesar ini, bukankah seharusnya diperjuangkan secara bersama-sama antara lelaki dan perempuan ya? Apakah karena ini terlalu politis buat kaum laki-lakinya sehingga kaum perempuannya yang maju? Dan, apakah karena dalam hal ini, kaum perempuan tidak terikat dari segala hal yang berbau politik dan hierarki patrialis sehingga di luar hal-hal domestik yang dilakukannya, perempuan dianggap lebih bebas dan netral dalam mengungkapkan pendapat dan angkat bicara ya?

-Dian Sastro-

Wow, tiba-tiba naluri Dian sebagai reporter mading (majalah ding dong) sekolah di Ada Apa Dengan Cinta kumat lagi. Namun, demi kemaslahatan pembaca, pertanyaan Dian itu boleh disingkat menjadi “Ke mana para laki-laki? Kok nggak ikutan?”

Jawabannya adalah … nggak ke mana-mana.

Unjuk rasa Kartini Kendeng adalah bagian dari pergerakan perlawanan untuk Rembang. Di belakangnya, para pria tangguh juga sudah menyumbang tetes keringat perjuangan.

Advertisement

Petani Dibelenggu Semen

Gerakan perlawanan untuk Rembang faktanya udah berlangsung sejak lama, sebelum para manusia sibuk ngomongin Jokowi-Prabowo, dolar naik, harga bensin naik, harga cilok naik, LGBT, dan lain-lain. Tentu, itu melibatkan laki-laki dan perempuan. Misalnya, tatkala sekitar seratus warga Pegunungan Kendeng Utara berunjuk rasa ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara di Ketintang Madya pada Februari lalu.

Di penghujung tahun 2015, warga Pati juga sempat melakukan aksi jalan kaki dari Rembang ke Gedung MK di Semarang dengan tajuk Warga Kendeng Menjemput Keadilan . Masih ada banyak sekali yang belum disebutkan. Belum lagi petisi-petisi, penggalangan dana, atau proyek gerakan kesenian dari daerah lain.

Kebetulan saja peserta yang layak dapat penghargaan Pertanyaan Seminar Terpopuler di Akhir Pekan itu menanyakan soal Aksi Kendeng. Kartini Kendeng sendiri mengaku sengaja menghimpun massa wanita untuk menghindari kecenderungan pria yang lebih temperamental dan berpotensi berbuntut kericuhan dalam melakukan aksi-aksi massa. Yah, takutnya kan seperti biasa, ujung-ujungnya dituduh PKI, teroris, massa bayaran, sahabat peterpan, bla bla bla. Kendati agak seksis, tapi wanita dinilai cenderung sanggup lebih kalem dan menyentuh. Toh, ibu-ibu itu membuktikan.

Itu jawaban pertama. Untuk jawaban alternatif atas pertanyaan Dian Sastro (yang sudah dirangkum menjadi) Ke mana para laki-laki? Kok nggak ikutan? adalah:

Justru Mbak Dian, dan kita yang ke mana?

Memerankan tokoh R.A Kartini di film garapan Hanung Bramantyo, apakah Dian wajib mengenal Aksi Kendeng?

Dian kurang jelas apa ya mungkin pas jawab pertanyaan? via entertainment.kompas.com

Statusnya sebagai pemeran R.A Kartini mengantarkan Dian sebagai salah satu pembicara dalam seminar bertajuk “Spirit Kartini dalam Membangun Bangsa yang Mandiri, Kreatif, dan Berkarakter”. Nah, wartawan yang mungkin jarinya kena sliding tackle pas menulis kutipan komentar Dian itu bisa jadi berkeyakinan bahwasanya seorang pemeran R.A Kartini wajib ain memahami masalah Kendeng. Sehingga ketidaktahuan Dian Sastro dianggap sebagai sebuah berita.

Padahal, Dian Sastro adalah aktris. Ia tetap bukan R.A Kartini. Kendati si Cinta di AADC juga suka sastra atau pun nantinya Dian didandani kebaya dan sanggul berkilo-kilogram.

Lalu, apakah Dian Sastro salah, dan harus menyerahkan perannya pada *randomly* Bisma SM*SH misalnya?

Basi, madingnya udah mau terbit! filmnya udah mau tayang!

Dian Sastro hanya kepingan dari gairah masa bodoh kita yang membudaya.

Dian Sastro plus kebayaa via cikalnews.com

Tentu tak elok menimpakan kesalahan pada Dian Sastro seorang. Selain ia cantik banget, perhatian masyarakat dan negara selama ini memang nggak terlalu memelihara perjalanan perjuangan tersebut. Maka, ketika ada seseorang mengaku memperjuangkan kesetaraan perempuan dalam karyanya tapi kok juga mengaku tidak memahami duduk persoalan kasus Kendeng, ya apa boleh buat.

Kita sendiri mesti introspeksi. Berapa banyak dari kita yang baru mengetahui kasus ini setelah tragedi salah kutip ini? Berapa banyak dari kita yang sanggup tertegun berkaca-kaca menyimak Katniss Everdeen mengacungkan tanda tiga jari melawan penindasan kerajaan dalam Hunger Games, tapi mati rasa tatkala ada sederet ibu-ibu berkebaya lusuh yang nyata, di bawah hujaman terik matahari Jakarta memperjuangkan keyakinannya?

Mereka bahkan tidak hanya memperjuangkan kaum perempuan, tapi hampir semua lini kehidupan kita. Ibu-ibu itu bukan politikus atau aktivis yang membaca buku-buku Soe Hok Gie, apalagi hafal teori-teori feminis yang banyaknya bujubuset itu. Mereka mungkin saja justru hanya wanita-wanita yang ingin damai mengurusi perkara domestik kerumahtanggaan. Tapi urusan dapur juga tak bisa jalan jika lingkungan tempat mereka mencari nafkah porak poranda. Bahkan, ekosistem yang rusak juga akan menjalar ke seluruh Pulau Jawa, perlahan berpengaruh ke seluruh Indonesia. Aksi Kendeng bukan cuma semata persoalan perempuan atau wilayah Kendeng, tapi sebuah upaya membela Bumi Pertiwi seutuhnya.

Merekalah wajah Kartini hari ini. Atau jangan-jangan semua ini sandiwara? Dian Sastro dan kesalahan kutip ini hanyalah gimmick atau rekaan utuk mengampanyekan pesan dukungan pada Kartini Kendeng di Hari Kartini? Kampanye dalam sebuah kampanye. Cerdas.

Hmm.. disengaja atau tidak, Dian Sastro sudah berperan untuk perjuangan Kartini Kendeng. Siapa yang hari ini meragukan kekuatan buzz atau pemberitaan dari seorang Dian Sastro. Orang-orang setidaknya mulai lebih menyoroti perjuangan para Kartini Kendeng. Perempuan paling berani di Indonesia didukung oleh perempuan paling cantik di Indonesia. Semoga Hari Kartini tahun ini tidak hanya berisi meme-meme hasil comot kutipan Habis Gelap Terbitlah Terang.