Sejak zaman dulu, masyarakat kita memang terkenal dengan budaya merantau. Mencari kehidupan yang lebih baik atau sekadar ingin menimba ilmu, menuntut kita untuk meninggalkan kampung halaman tercinta dan pergi ke daerah yang bahkan belum pernah kita jajaki sebelumnya. Bermodalkan kegigihan dan keteguhan hati, para perantau ini bertekad untuk bisa memiliki kehidupan yang berkecukupan dan bisa ikut membantu perekonomian keluarga yang tinggal di kampung halaman.

Tentu banyak cerita yang tercipta ketika bicara soal merantau. Ada yang benar-benar beruntung dan memiliki kehidupan yang lebih dari cukup, namun ada juga yang hidupnya pas-pasan. Ada yang bertahan di tanah rantau, ada pula yang akhirnya harus kembali pulang karena nggak sanggup tinggal di perantauan. Sebuah cerita haru baru-baru ini juga beredar di media sosial. Cerita tentang seorang anak yang bertemu kembali ibunya setelah tak berkabar selama 35 tahun di perantauan.

Pertemuan mengharukan ini diabadikan saat seorang anak yang merantau berpuluh-puluh tahun tanpa kabar pulang ke rumah

Bertemu ibu setelah merantau 35 tahun tanpa kabar via www.facebook.com

Paidi, lelaki asal Wonogiri memutuskan untuk mencari nafkah di perantauan sekitar tahun 1981. Ia ikut salah satu tetangganya yang pada saat itu juga pergi merantau ke Bengkulu. 35 tahun sebatang kara di Bengkulu, selama itu pula lah Paidi tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Dia juga tak pernah memberi kabar ke rumah tentang kehidupannya selama di perantauan. Dan akhirnya, pada tanggal 5 September kemarin, Paidi berkesempatan untuk pulang ke kampung halamannya, Desa Puloharjo, Kecamatan Eromoko, Wonogiri. Suasana haru pun tak bisa dielakkan, apalagi saat Paidi bertemu ibunya yang sudah renta. Sang ibu tak henti memeluk anaknya sambil menangis, seakan tak percaya kalau orang yang di depannya, adalah anaknya yang merantau 35 tahun lalu.

Bukan tanpa alasan, Paidi tidak pernah menghubungi keluarga karena tak bisa tulis baca

Bertemu ibu setelah merantau 35 tahun tanpa kabar via www.facebook.com

Advertisement

35 tahun tak berkabar, bukan berarti Paidi sengaja melakukan hal itu. Alasan Paidi tak pernah pulang ataupun memberi kabar kepada keluarganya karena ia tak bisa tulis baca. Hal ini tentu menyulitkan dirinya untuk bertukar kabar dengan orang tuanya yang ada di kampung halaman. Apalagi, di Bengkulu, Paidi tak punya sanak keluarga. Ia hanya sendiri di sana. Tak ada seorang pun yang bisa ia mintai bantuan untuk mengabari keluarganya. Selama 35 tahun itu pulalah keluarganya yang di Wonogiri berusaha mencari kabar tentang Paidi, namun tak membuahkan hasil. Karena tak ada seorang pun yang tahu ke mana Paidi merantau.

Pertemuan yang bikin haru ini terjadi berkat bantuan Uskub Muzamil yang juga mengunggah cerita ini ke media sosial

Bertemu ibu setelah merantau 35 tahun tanpa kabar via www.facebook.com

Pertemuan antara Paidi dan ibunya ini terjadi berkat bantuan seorang bernama Uskub Muzamil. Ia juga lah yang mengunggah cerita menggugah hati ini ke media sosial. Berkat Uskub Muzamil, anak dan ibu yang terpisah selama 35 tahun ini akhirnya bisa bertemu. Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan ibu Paidi yang telah berusia 100 tahun itu saat pertama kali melihat anaknya kembali. Berikut cerita lengkapnya:

Kemaren waktu ke jawa dakwah di bulan agustus , Saya butuh tenaga kerja untuk ke kebun, saya nyuruh temen di bengkulu nyarikan tenaga kerja tuk bikin pagar kebun. Sepulangnya saya dari acara dakwah di pacitan dll , tepatnya pada tgl 18 agustus 2017 pergilah aku menuju kebun melihat pekerja ku yang baru yang belum pernah aku jumpai ini. Dan di sana aku tanya namanya pak paidi, asli wonogiri,dan sudah sejak tahun 81 dia merantau ikut tetangganya orang wonogiri.dan ketika kutanya sudah berapa kali pulang ke wonogiri dia jawab belum pernah, dan ketika ku tanya gimana kabar ibu nya,betapa kagetnya saya dia bilang tidak tau, bahkan ibunya hidup atau matipun dia tidak tau. Seketika itu juga aku kaget dan bergeming dalam hati, seandainya ibu nya masih ada dan sehat betapa rindu dan berharap untuk bertemu dengan pak paidi ini.
Akhirnya seketika itu aku tanya sama pak paidi alamat rumah nya ,dan pak paidi menyebutkan desa puloharjo kecamatan eromako wonogori dan data keluarga. Bermodalkan ini,hari itu aku menelpon pak mamad jamaah majlis rosho pacitan yg memiliki percetakan dan persewaan tenda panggung yang kita gunakan panggungnya waktu milad ke 9 majlis rhoso. Saya mintak tolong kepada pak mamad untuk mencarikan secepat nya alamat keluarganya pak paidi di eromoko . Alhamdulilah dalam waktu tiga hari keluarga pak paidi sudah di temukan dan saya pun di telepon oleh pihak keluarga dan betapa senangnya dan haru ketika keluarganya saya tanya kalau beliau ibundanya pak paidi yg usianya udah mencapai -+ 100 tahun ini masih sehat dan selalu berdoa mintak usia panjang sebelum meninggalnya mintak di temukan dengan paidi anaknya.
Kemudian saya berusaha video call pihak keluarganya pak paidi dan pak paidi ,saat itu pak paidi matanya berkaca kaca menatap wajah ibundanya yang dia sendiri tidak menyangka ibundanya masih ada. Begitupun ibundanya ketika itu menangis tersedu-sedu histeris seakan tak percaya kalau anaknya masih ada, karena selama ini dengan SDMnya pak paidi yang kurang tak bisa tulis baca sehingga dengan kondisi sebatangkara di bengkulu gak ada ngasih kabar ,sebaliknya pihak keluarga tak kurang-kurang ikhtiar tanya kepada tetangganya yang dulu di ikutin merantau pun tak tau entah kemana perginya pak paidi bujang tanggung di tahun 1982 .
Walhasil tepat tgl 5 -9 2017 saya bersama pak paidi terbang dari bandara fatmawati bengkulu menuju bandara adisumarmo solo dengan niat mempertemukan pak paidi dengan keluarganya. (https://www.facebook.com/muzamil.zamil)

😭😭😭😭

Uskub Muzamil 发布于 2017年9月5日

Semoga cerita menggugah hati ini bisa menjadi pengingat bagi kamu yang saat ini juga merantau. Sejauh apapun kamu pergi merantau, jangan lupa untuk tetap menjaga komunikasi dan memberi kabar orang tua dan keluarga di rumah. Ketimbang uang atau materi yang kamu kirimkan pulang, mereka pasti lebih berharap untuk mendengar kabar kalau kamu baik-baik saja di tanah perantauan 🙂

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya