Media sosial belakangan ini dihebohkan oleh potongan tangkapan layar (screencshoot) dari sebuah status yang dengan terang-terangan nyinyirin kehidupan Nia Ramadhani. Seperti yang kita tahu, Nia baru saja melahirkan anak ketiganya, Magika Zalardi Bakrie melalui operasi cesar. Orang bukan lagi ramai memberi ucapan selamat atas kelahiran si buah hati, tapi lebih kepada apa saja yang kerap Nia unggah di akun instagramnya.

Lazimnya, orang yang akan melahirkan terlihat sedikit tegang dan juga panik, meskipun sudah direncanakan kapan operasi cesar akan dilakukan. Belum lagi Nia juga memiliki 2 anak yang masih kecil-kecil. Tentunya meninggalkan mereka untuk sama-sama menyambut adik baru bukan perkara mudah. Kebayang repotnya saat harus tetap meladeni rengekan sang kakak, sedang luka jahitan bekas operasi belum sembuh betul. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Melalui Instagram Story-nya, tak nampak sedikitpun raut muka tegang di wajah Nia saat masuk rumah sakit untuk persiapan tindakan operasi. Pun beberapa saat setelah Magika berhasil keluar dari rahimnya dengan parasnya yang cantik dan bulu matanya yang lentik, Nia langsung mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama si bayi dan juga suaminya, Ardi Bakrie.

Usai operasi pun Nia sudah terlihat sangat bugar. Dia sudah dengan sumringah menerima banyaknya tamu yang datang menengok Magika. Padahal, banyak cerita menyebutkan bahwa persalinan melalui operasi cesar cukup merepotkan justru setelah semua selesai. Jangankan untuk jalan, duduk dan juga berdiri perlu latihan beberapa hari.

Atas dasar itulah status ini jadi viral. Isinya benar-benar menggelitik. Rupanya, banyak ibu-ibu di luar sana ikut mengiyakan apa yang tertulis di sini

Advertisement

Lucu banget! via www.facebook.com

Lagi nonton infotainment, Nia Ramadhani melahiran anak ke-3. Difoto, diwawancara, teman-teman artis bilang katanya, “Nia Ramadhani seorang ibu yang santai banget, nggak pernah ribet dengan anak-anaknya, hebat deh.”

Ya, jelas saja santai. Pembantunya saja lima belas. Yang menanak nasi sendiri, yang ngerebus air sendiri, yang nyuci grita sendiri, yang jemur cucian sendiri, yang pasang gas LPG sendiri, yang potongin kuku anak-anaknya sendiri, semuaaaa pakai pembantu.

Sedangkan aku? si bayi baru saja tidur, ditinggal masak nasi, bangun. Ditemani tidur sambil minum nu greentea sebentar, bangun, ditidurin lagi sambil makan gethuk karena parutan kelapanya keburu basi, eh, sudah bangun lagi.

Coba sekarang posisinya dibalik, aku bisa saja mulus kinclong seperti Nia Ramadhani meskipun anaknya 8.

Status dengan logat jawa ini benar-benar menggelitik. Terang saja ini merupakan sindiran dan juga curhatan terselubung bahwasannya mengurus anak dan rumah sekaligus benar-benar tidak mudah. Seolah diiyakan oleh hampir semua ibu-ibu di luar sana, dengan mudahnya status ini menjadi viral. Mereka berujar bahwa “saya juga bisa seperti Nia jika punya banyak pembantu”. Yakin, tuh?

Nia Ramadhani tidak salah. Apa yang terjadi sudah selayaknya ia nikmati karena faktanya memang dia mampu. Namun terlalu mengandalkan pembantu juga jadi hal yang kurang baik

Istri dan ibu paling bahagia via www.instagram.com

Jika kamu jadi salah satu followers Nia Ramadhani di Instagram, rasanya setuju kalau Nia memang jadi istri dan juga ibu yang bahagia. Ia kerap pergi ke beberapa kota bahkan juga luar negeri meski sedang berbadan dua. Semua itu tak akan terjadi jika tak banyak asisten rumah tangga yang dia punya. Kalau tidak, siapa yang akan mengurus rumah dan kedua anaknya?

Nia tidaklah salah. Apa yang ia lakukan sudah selayaknya dinikmati karena faktanya memang dia mampu. Namun yang jadi soal adalah bagaimana urusan bonding atau ikatan antara ibu dan anak yang Nia rasakan terhadap anak-anaknya sendiri? Terlalu mengandalkan pembantu dalam urusan ini tentu jadi hal yang kurang baik.

Mengandalkan jasa pembantu seolah melepaskan peran utama orangtua dalam hal pengasuhan anak. Dampak negatifnya tentu tetap akan ada

Nia dan anak-anak (termasuk Magika di dalam perut) via scontent-sin6-2.cdninstagram.com

Pembantu atau baby sitter tugas utamanya tentu hanyalah membantu meringankan, bukan kemudian malah dilimpahkan keseluruhan tanggung jawab. Mengandalkan jasa pembantu seolah melepaskan peran utama orang tua dalam hal pengasuhan anak.  Banyak penelitian mengungkapkan bahwa pengasuhan yang baik tetap ada pada tangan orangtua langsung, tanpa campur tangan pihak ketiga, termasuk nenek dan kakek si anak. Kekhawatiran akan munculnya jarak antara ibu dan anak sejak dini sangat mungkin bisa terjadi.

Padahal, kelekatan antara ibu dan anak di tahun-tahun awal kehidupan si anak sangat diperlukan. Hal ini erat kaitannya dengan kemudahan ibu dalam memahami sinyal-sinyal yang ditunjukkan bayinya, kapan waktu yang tepat untuk sesegera mungkin atau menunda memberi respons pada anak dan mempelajari apakah respons yang diberikan tersebut sudah tepat atau tidak bagi si anak. Nggak mau ‘kan anak malah lebih percaya dan sayang sama pembantu?

Intinya sih tetap syukuri apa yang terjadi dalam hidup kita saat ini. Apa yang menurut kita baik, ternyata dampak yang ditimbulkan belum tentu sebaik kelihatannya. Jadi, jangan iri kalau lihat Nia bisa bahagia dengan apapun yang sedang dijalani. Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau, bukan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya