“Ngapain masih mikirin mantan? Move on dong!”

Selepas putus hubungan dari orang yang sudah mendampingi sekian lama, dengan ringan orang-orang di sekitar menyuruh kita untuk sesegera mungkin melupakannya. Bahkan kadang kita bingung — ini move on atau pesan makanan cepat saji sih? Kenapa harus secepat ini?

Siapa pula yang mau lama-lama berkutat di lubang hati yang harusnya sudah tertutup rapi. Nggak ada juga yang ingin lama-lama gloomy karena orang yang kenangannya nggak boleh ditilik lagi. Tapi jangan keburu melabeli diri sebagai orang yang nggak becus untuk mengurusi rasa di hati.

Karena percaya atau enggak, Pak Anies Baswedan dan seluruh sistem pendidikan Indonesia lebih bertanggung jawab perkara move on ini.

Dulu kita dihukum kalau lupa apa sila ke-4 Pancasila. Karena ini bahkan UUD 1945 kita hapal di luar kepala

Pancasila, Satu: Ketuhanan yang maha Esa. via versodio.com

Advertisement

Kecintaan kita pada negara diukur dari seberapa hapal kita pada dasar negara. Sebisa mungkin nggak boleh ada satu sila pun yang terlupa.

Dulu waktu TK juga kan kita di drill terus sama Ibu guru tercinta agar bisa melafalkan Pancasila dengan lantang dan benar. Bahkan ada dulu yang kalau benar sampai diberi hadiah kan, ya (Walau hadiahnya dulu gak seberapa Hehe). Nah, kelihatan banget kan budaya menghafal kita dimulai dari mana?

Masih ingat dengan pelajaran mengaji Iqra’ yang bukunya legendaris itu? Dia diciptakan agar kita mengingat dengan mudah semua aksara Arab

Pasti tau lah buku belajar ngaji yang satu ini via dhukha99.wordpress.com

Gimana cara ngajarinnya? Dengan menghafal! Kita diajari untuk menghafal huruf hijaiyah Alif, Ba’, Ta’, Tsa’ hingga Ya’. Sedari kecil dulu kita di drill agar bisa cepat menghafal huruf-huruf tersebut agar kita bisa lancar dalam mengaji dan mendalami makna ayat kitab suci.

Salahkah cara itu? Tentu tidak. Buktinya dengan cara menghafal seperti itu kita bisa mengaji kan sekarang.

Beranjak masuk SD kita dihadapkan pada hafalan lagu-lagu daerah

Inget kan masa SD dulu via rinisetia.tumblr.com

“Ayo anak-anak. Kita nyanyi bersama ya lagu Ampar-ampar Pisang”
“Iya, Bu”
“Sambil dihafal ya lagunya. Nanti Ibu minta kalian maju nyanyi satu-satu”
“Emoh, Bu…”
“%^&*&^%$!!!!”

Ketika dulu waktu kamu masih unyu-unyu belajar di Sekolah Dasar, gurumu pasti sering banget ngasi tugas hafalan lagu daerah. Awalnya kamu menghafal karena ogah kena hukuman dari guru, tapi lama- kelamaan jadi seru karena emang nada lagunya juga asik buat dinyanyikan.

*Sambil nyanyi Gambang Suling

Semasa SMP kita mulai berhadapan dengan rumus Matematika. Harusnya ini dipahami. Tapi akhirnya dihapal juga…

Belum lagi mikir rumus Fisika via febrinarachmawati.wordpress.com

Meski emang gak serumit hafalan rumus di SMa, namun awal masa penjajahan hafalan rumus terjadi di masa ini. Ingat gak kamu dulu harus hafal rumus menghitung luas lingkaran atau ngitung rumus segitiga. Padahal masih rumus sederhana seperti itu loh, ya. Tapi sukses bikin kepalamu ngilu ngapalin rumus-rumusnya!

Pada masa SMA, belajar menghafal rumus semakin menggila!

Nah loh, pusing kan ngapalin pelajaran pas SMA via www.kompasiana.com

Nah, masa SMA ini nih masa dimana menghafal jadi kemampuan yang sangat penting. Bahkan sampai banyak loh buku trik dan tips untuk cepat menghafal pelajaran dalam semalam. Semua itu karena pada masa SMA, hafalan rumus rata ada di setiap mata pelajaran. Mulai dari Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Ekonomi, Sosiologi, dan lain-lain; semuanya butuh yang namanya dihafal.

Kebayang kan kalau kamu gagal menghafal rumus yang ada. Bisa-bisa nilai ujianmu jeblok seketika. Itulah kenapa kita dulu mati-matian untuk mengingat segala sesuatunya.

Nah, kalau demikian, salahkah kita kalau susah untuk melupakan?

Nah, kaan~

Karena memang sedari dulu kita dididik untuk bisa menghafalkan sesuatu, jadi wajar dong kalau kita susah melupakan. Semenjak sekolah sampai pada akhirnya lulus, belum ada pelajaran formal yang mengajarkan kita untuk melupakan sesuatu. Nah gimana dong? Jadi ya gak salah dong kalau pada akhirnya kita susah untuk melupakan

Tapi sebelum menyalahkan Pak Anies habis-habisan, ingat dulu hal ini. Bukankah move on itu sebuah perjuangan sepi? Harusnya kamu bisa menghadapi sendiri!

Jaga nama baik. Jaga hatimu via aniesbaswedan.com

Pak Anies Baswedan dan seluruh jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia mungkin memang harus segera menghapuskan metode menghapal di sekolah kita. Demi generasi Indonesia yang bisa lebih cepat move on.

Tapi jika dipikir-pikir lagi; move on itu sebuah perjuangan yang sepi. Kamu harus bisa menghadapinya sendiri. Atau tidak usah berjuang sama sekali.

Selamat menyembuhkan hati!