Seorang pria lanjut umur dengan topi koboi dan tongkrongan menyerupai Keith Richard (gitaris The Rolling Stones) varian mongoloid menenteng dengan yakin sebuah gitar. Ia tengah dalam kunjungan ke lokasi makam dari tiga personil band rock legendaris bernama The Jeeps. Seorang diri, ia mengajak bicara masing-masing pusara itu seakan pernah akrab dengan ketiga almarhum yang terbaring di sana. Ia lalu berdiri membelakangi posisi mereka, mengeluarkan komando “You ready boys? Let’s do it“, mulai mengocok gitarnya dan berlaku seperti seorang vokalis yang tengah memimpin sebuah band di hadapan ribuan kepala. Otaknya sedang dalam kondisi tidak wajar? Itu pasti. Apakah ia adalah vokalis The Jeeps yang kesepian karena ditinggal mati oleh ketiga rekan bandnya lebih dulu? Bukan, ia hanya seorang impersonator.

Merujuk pada kamus daring freedictionary, impersonator adalah seseorang yang mengimitasi atau meniru perilaku dan kelakuan orang lain. Terdapat beberapa penyebab seseorang menjadi impersonator, namun kasus paling standar adalah relasi antara penggemar dan idola. Ini yang terjadi pada Edward Moss misalnya, seorang impersonator dari figur Michael Jackson. Saking miripnya secara visual dan gestur, ia sukses tampil di banyak film layar lebar populer, acara televisi, dan beberapa konser penting. Kian mahsyur Michael Jackson, makin berkibar pula ketenaran Moss. Seperti kala dunia tersedot perhatiannya oleh tutup usianya Michael Jackson, Moss pun kebanjiran tawaran tampil. Karir Moss bergantung pada popularitas idolanya.

Itulah yang dialami juga oleh sang pria tua penenteng gitar dalam kisah film Singing In Graveyards. Bernama Pepe Madrigal, ia terobsesi dengan kehidupan mantan vokalis The Jeeps, Joey Smith

Lewat citranya sebagai imitator Joey Smith, Pepe Madrigal sering juga mendapat kesempatan manggung di bar-bar kelas dua. Sesekali, ia mendapat uang dari menjual barang-barang koleksinya yang sempat ditandatangani oleh Joey Smith. Tak ayal, ia sangat bersemangat tatkala mendapat peluang untuk tampil sebagai musisi pembuka di konser Joey Smith. Syaratnya, ia harus menulis sebuah lagu cinta. Ini menjadi masalah karena Pepe belum pernah sekalipun mengarang lagu cinta di sepanjang karirnya. Kesulitannya menemukan inspirasi soal cinta diolah menjadi konflik awal di film ini, menjadi cerminan rasa sepi yang menggelayuti riwayat hidup Pepe. Rasa sepi yang entah ialah sebab atau akibat dari kesibukannya mengawinkan realitas dan imajinasi sebagai seorang duda berusia sepuh yang berprofesi sebagai rocker kelas kafe, atau seorang legenda hidup rock & roll papan atas.

Singing In Graveyard adalah film yang menarik, bahkan kendati saya baru mengetahui nilai jual utamanya setelah filmnya berakhir. Apa itu?

Sebagai salah satu gimmick penting, ini seharusnya diketahui sebelum menonton filmnya: aktor yang memerankan Pepe Madrigal dan Joey Smith dalam film ini (kedua tokoh diperankan orang yang sama) ternyata adalah Joey Smith sendiri. Maksudnya? Ya, Joey Smith itu riil. Ia adalah seorang musisi campuran British-Filipina yang mencetak kiprah bersejarah sejak akhir dekade 60-an di industri musik Filipina. Kini, mantan penggawa band Juan Dela Cruz (bukan The Jeeps aslinya) ini sudah didaulat sebagai ikon musik rock Filipina yang acap disebut dengan istilah pinoy rock, aliran musik rock dengan sensibilitas budaya lokal. Singing In Graveyards kemudian memang bukan film biopik, karena Smith hanya memerankan sebuah tokoh fiksi menggunakan nama aslinya. Tapi cukup jelas ada banyak unsur cerita dan penokohan di film ini yang bisa diasosiasikan pada riwayat hidup asli Smith.

Sang sutradara, Bradley Liew mendapat inspirasi kisah film ini saat terlibat dalam proyek di balik layar dari film Above The Clouds yang juga menampilkan Pepe Smith

Salah satu prestasi sutradara asal Malaysia ini adalah buah kinerjanya mengarahkan Smith, yang tentu pengalaman seni perannya hanya seujung jari kelingking dari pengalamannya di ranah musik. Walau peran menjadi musisi kawakan seharusnya tidak terlalu menantang untuk seorang musisi kawakan, namun tetap mesti diapresiasi ketika semua kemudian memang berakhir berjalan sebagaimana mestinya. Saya yang mulanya belum tahu latar belakang dunia nyata pemeran Joey Smith bisa hanyut dalam aura rock & roll yang otentik dalam gerak geriknya. Apalagi dalam adegan di mana Pepe Madrigal tengah unjuk aksi dalam konser bandnya di sebuah bar. Saya sudah curiga jika ia benar-benar memainkan riff-riff panas itu.

Advertisement

Smith tidak sendirian. Aktris Mercedes Cabral yang banyak ambil peran di film-film independen juga sukses beberapa kali mencuri perhatian kendati tak terlalu jelas apa jalinan hubungan antara tokoh yang ia perankan dan Pepe di narasi film ini. Namun, adegan saat Mercedes (memakai nama sebenarnya juga di film ini) naik pitam di hadapan tiga juri casting yang ia ikuti benar-benar menghentak. Jika Pepe berjuang menipiskan batas antara jati dirinya dengan identitas orang lain, Mercedes justru mengalami hal sebaliknya. Ia berjibaku untuk menjauhkan diri dari kemiripan fisiknya dengan seorang model porno terkenal.

Di sisi lain, Singing In Graveyard mengusung alur yang bergerak lamban. Terasa orientasinya untuk menunjukan rasa sepi serta menawarkan jeda-jeda yang mistik dan janggal dari dunia yang ditinggali oleh Smith. Namun, ada beberapa adegan yang rasanya tidak perlu selamban itu.

Kisah tentang rockstar tua yang menempuh masa surut kejayaannya sebenarnya sudah banyak dieksplorasi oleh segudang sutradara Hollywood. Untuk tahun inipun setidaknya sudah ada dua film yang menonjol: Born To Be Blue (tentang Chet Baker) dan Miles Ahead (tentang Miles Davis). Akan tetapi, Singing In Graveyard sukses menyuguhkan sesuatu yang lain. Bukan cuma perjuangan eksistensi, melainkan juga konflik identitas. Pendekatan anyar yang sebenarnya juga bisa kita pinjam dan dielaborasikan dengan elemen lain untuk membicarakan Godbless, Koes Plus, atau seabrek musisi-musisi lawas nasional yang jarang sekali mendapat tempat di khazanah sinema kita.

Tertarik menonton? Salah satu caranya, kalian bisa segera berburu kursi untuk menyaksikannya pada Kamis (1/12) besok di gelaran Jogja-Netpac Asian Film Festival ke-11. Singing In Graveyard tergabung dalam program Asian Feature yang menyajikan 28 film panjang Asia. Ada banyak lho film kece lainnya seperti KFC (Vietnam). Interchange (Malaysia), atau Istirahatlah Kata-Kata (Indonesia). Cek jadwal atau informasi selengkapnya di sini!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya