Banyak diantara kita yang tetiba marah atau jadi gak suka sama seseorang karena dia sering banget memancingmu dengan obrolan-obrolan yang bersifat cenderung mesum. Kala ada orang dengan tipikal obrolan seperti itu, respon beberapa orang seakan ogah dan menghindar karena banyak orang sering memandang mereka yang suka bicara agak menjurus sebagai orang mesum yang isi pikirannya seperti keadaan kamar si penulis; kotor.

Sebenarnya, konsepsi kotor itu darimana sih? Apakah semua hal-hal yang sedikit menjurus harus diartikan bahwa seseorang sedang ngajakin mesum? gak juga kan?

Bukankah sebenarnya pikiran mesum itu sudah ada di dalam pikiran kita? Kalau belum ada, gak mungkin juga kan kita bisa paham soal apa yang dibicarakan orang

Kita sebenarnya juga mesum via www.solutionzoom.com

Mau diakui atau tidak, kenyataannya tetap tak akan berubah. Setiap orang pasti punya pikiran yang rada ‘nakal’. Kalau tidak punya, gimana mungkin kamu bisa secara sadar paham dengan obrolan mesum yang mereka bicarakan? Ketika ada orang yang menyodorkan jempol tangan yang diapit jari telunjuk dan jari tengah, kebanyakan dari kita akan berasumsi bahwa dia mesum. Bentuk tangan tersebut sering diasumsikan dengan ajakan untuk berhubungan badan. Nah, kalau kita tak tau sama sekali soal hal itu, seharusnya kita gak bisa merespon apa-apa, dong. Dengan respon yang cenderung menyalahkan dan memojokkan orang dengan pikiran mesum itu, kamu berarti mengakui bahwa otakmu mesum juga.

Sejatinya dalam diri setiap orang pasti punya pikiran ‘nakal’. Kadang kita aja yang terlalu sungkan untuk mengakuinya

Jangan bilang-bilang, ya via www.pinterest.com

Advertisement

Tak bisa dipungkiri lagi, setiap orang pasti punya pikiran mesum. Hanya saja, banyak diantara kita yang tak mengakuinya. Salah satu alasan utamanya adalah karena adanya tekanan dari keluarga atau lingkungan sekitar yang memaksa agar pola pikir kita tak merujuk kepada hal-hal berbau mesum. Dalam pola pikir masyarakat kita, ‘mesum’ adalah hal yang tabu yang tak boleh dibicarakan. Demi kepentingan apapun. Kalau ada yang, baik sengaja ataupun tidak, membicarakan soal hal-hal mesum, sudah pasti masyarakat kita yang parnoan ini akan melabeli dia sebagai manusia yang tak bermoral. Itu yang bikin kebanyakan orang sungkan buat mengakui pikiran ‘nakal’nya.

Jadi jangan paranoid, ya. Bukankah hal-hal mesum itu juga perlu buat dibicarakan? Dari obrolan semacam itu kita jadi tau soal hal-hal yang saru dan seru *eh

Jangan paranoid, lah via bringmatthehorizon.tumblr.com

Sejatinya kita tak perlu separanoid itu dalam menyikapi fenomena topik-topik bahasan yang rada mesum. Orang-orang yang cuman berani memancing pembicaraan mesum itu biasanya orang-orang yang sejatinya tau batasan. Mereka hanya akan berbicara saja tanpa punya keberanian buat melakukan tindakan mesum. Disamping itu, bukankah dari obrolan mesum itu kita jadi tau banyak hal? Kita bisa daoat informasi soal hal-hal mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mulai dari hal-hal yang saru sampek hal-hal yang seru, kamu bisa dapat banyak info dari pembicaraan tentang hal mesum. Daripada sekadar paranoid dan melabeli mereka yang suka bicara mesum sebagai orang tak bermoral, bukankah lebih baik kita lebih terbuka dan menganggap obrolan itu sebagai informasi baru dan ilmu saja?

Nah, yuk mulai sekarang kita berhenti melabeli orang-orang dengan anggapan bahwa dia ‘omes – otak mesum’ hanya karena dia berbicara hal-hal berbau mesum. Karena sejatinya kita sendiri punya pikiran mengeai hal-hal mesum, tidak selayaknya kita men-judge mereka yang berani bicara mesum sebagai orang tak bermoral. Yuk berusaha lebih terbuka sedikit. 🙂