Kalau kamu sedang berusaha buat lebih banyak membaca, cerpen atau cerita pendek bisa jadi salah satu media bacaan pilihanmu. Cerpen bisa menjadi solusi bagi kamu yang tetap ingin membaca sesuatu tetapi minim waktu. Cerpen juga bisa mengangkat tema cerita yang jauh dari kata biasa. Terbatasnya jumlah halaman yang diizinkan pun membuat penulisnya harus pintar membangun plot yang padat, karakter yang kuat, dan akhir cerita yang mengesankan.

Kamu bisa membaca banyak cerpen berkualitas secara bebas di internet. Baik di situs resmi jurnal-jurnal sastra seperti The Paris Review, majalah-majalah umum seperti The New Yorker, maupun blog-blog yang memuat cerpen Kompas dan Tempo. Bingung mau mulai dari mana? Nggak usah dong! Di artikel ini, Hipwee akan merekomendasikan 10 cerpen yang bisa kamu baca:

1. Tangan-Tangan Buntung oleh Budi Darma

Budi Darma via areamagz.com

Nirdawat diminta oleh rakyat di negaranya untuk menjadi presiden. Setelah menimbang-nimbang, Nirdawat pun menyanggupinya. Di malam setelah pelantikan, Nirdawat bercakap-cakap dengan istrinya soal impian mereka ketika masih pacaran dan sejarah negeri yang dipimpin Nirdawat itu. Negeri Nirdawat belum pernah mendapatkan presiden yang bijaksana. Sayang, perjuangannya untuk menjadi pemimpin yang bijaksana harus melalui berbagai kendala.

“Tidak mungkin sebuah negara dipimpin oleh orang gila, tidak mungkin pula sebuah negara sama-sekali tidak mempunyai pemimpin.”

Advertisement

Budi Darma adalah salah satu penulis paling brilian yang pernah dimiliki kita. Novelnya, Olenka, adalah salah satu karya sastra Indonesia yang paling underrated dan harusnya jauh lebih banyak dibaca. Kalau kamu belum sempat punya waktu untuk membaca Olenka, kamu bisa memulai “Petualangan Darma”-mu dengan cerpen ini.

Baca Tangan-Tangan Buntung disini.

2. Sesaat Sebelum Berangkat oleh Puthut EA

Lukito mengunjungi rumah kakaknya, Risa, untuk membicarakan perihal anak Risa, Jendra, yang kabur ke rumahnya. Lukito mengutarakan  keluhan Jendra tentang sekolahnya, kesukaannya, serta cita-citanya yang selama ini selalu ditentang oleh Risa karena Risa merasa Jendra masih terlalu kecil untuk memutuskan apa yang baik untuk masa depannya. Masalahnya, Lukito tidak bisa memberitahukan kepada Risa sesuatu yang genting dan besar tentang Jendra. Cerpen ini menyoroti ambisi orang tua yang seringkali diturunkan begitu saja ke anaknya tanpa kompromi, serta perbedaan prinsip antar anggota keluarga — yang akan muncul seiring bertambahnya umur.

”Kupikir kamu datang jauh-jauh untuk menceritakan soal Jendra! Bukan untuk menceritakan sesuatu tentang dirimu yang jelas aku tahu…”

”Itulah kesalahanmu sejak dulu, merasa tahu persoalan orang!”

Baca Sesaat Sebelum Berangkat disini.

3. Escape from Spiderhead oleh George Saunders

George Saunders via www.huffingtonpost.com

Karena kriminalitas yang dia lakukan di masa lalu, Jeff menjadi narapidana. Selama di penjara, ia dijadikan kelinci percobaan proyek pengembangan obat-obatan yang bertujuan memanipulasi emosi manusia.

Suatu hari, Jeff dipasangkan  dengan Heather, narapidana lainnya, dan di bawah pengaruh obat mereka jatuh cinta. Setelah obat untuk memberhentikan perasaan itu diberikan, mereka terpaksa berpisah dan perasaan diantara keduanya pun hilang. Setelah itu, Jeff dipasangkan dengan Rachel – narapidana yang lain lagi – dan keduanya juga melakukan hal yang sama seperti saat Jeff dipasangkan dengan Heather.

Setelah mereka berpisah, sipir penjara memaksa Jeff untuk memilih yang mana dari Rachel dan Heather yang harus diberikan Darkenfloxx, sebuah obat yang membuat peminumnya tersiksa luar biasa sebelum sekarat dan mungkin mati. Yang dilakukan Jeff untuk kabur dari paksaan itu akan membuatmu tercenung dan berpikir tentang sifat alami hati manusia.

“Why was she dancing? No reason. Just alive, I guess.” 

Baca Escape from Spiderhead disini.

4. The Tell-Tale Heart oleh Edgar Allan Poe

Edgar Allan Poe via www.biography.com

Cerpen ini bercerita tentang seorang pria yang merasa ketakutan setiap kali melihat mata tetangganya. Pria tersebut sebenarnya tidak membenci tetangganya dan si tetangga juga bukan orang yang jahat, namun dia menganggap bahwa matanya seperti memancarkan kejahatan. Nggak tahan dengan teror ini, ia memutuskan untuk membunuh tetangganya di malam hari.

Kalau kamu adalah penggemar cerita misteri, cerpen ini benar-benar cocok untuk kamu. Di cerpen ini, Poe nggak cuma menarasikan proses pembunuhan yang dilakukan sang narator begitu saja, tetapi juga pergulatan batin yang dialaminya. Bagaimanapun, sang narator adalah manusia yang punya nurani.

“I think it was his eye! Yes, it was this! He had the eye of a vulture — a pale blue eye, with a film over it. Whenever it fell upon me, my blood ran cold; and so by degrees –very gradually — I made up my mind to take the life of the old man, and thus rid myself of the eye forever.”

Baca The Tell-Tale Heart disini.

5. The Secret Life of Walter Mitty oleh James Thurber

Cerpen yang telah diangkat sebagai film dan dibintangi Ben Stiller ini memiliki plot yang berbeda dari filmnya. Di versi cerpennya, Walter Mitty diceritakan sedang menemani istrinya untuk belanja mingguan dan pergi ke salon. Sepanjang perjalanan, Walter Mitty selalu berimajinasi menjadi seseorang yang bukan dirinya: awak kapal, dokter bedah, pengacara, kemudian pilot angkatan udara.

Imajinasi Walter Mitty tersebut berhubungan dengan peristiwa kecil yang ditemuinya ketika mengantar sang istri. Contohnya, imajinasi Mitty sebagai dokter bedah muncul karena istrinya menyuruh dia memakai sarung tangan. Logika yang kuat dibutuhkan ketika membaca cerpen ini agar tidak kebingungan.

“We’re having the devil’s own time with McMillan, the millionaire banker and close personal friend of Roosevelt. Obstreosis of the ductal tract. Tertiary. Wish you’d take a look at him.”

Baca The Secret Life of Walter Mitty disini.

6. Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis

Cerpen ini berkisah tentang seorang penjaga masjid yang murka pada Ajo Sidi, seorang warga masyarakat. Ajo Sidi bercerita pada penjaga masjid tersebut tentang Haji Saleh, yang ditolak masuk surga karena terlalu taat beribadah. Tuhan tidak mengizinkannya masuk surga karena Tuhan tidak terima Haji Saleh beribadah menyembah kepada-Nya sampai melupakan sanak dan keluarga hanya karena Haji Saleh takut masuk neraka.

Membaca cerpen ini membuat kita tersentil dengan fenomena yang terjadi di Indonesia sekarang. Banyak orang yang mengatasnamakan agama untuk membenarkan perbuatan mereka, tanpa memandang apakah perbuatannya itu memang baik atau buruk bagi masyarakat.

“Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak!”

Baca Robohnya Surau Kami disini.

7. The Conversion of the Jews oleh Philip Roth

Philip Roth via galleristny.com

“Kalau Tuhan bisa menciptakan alam semesta dalam waktu 6 hari, kenapa Dia tidak bisa membuat Bunda Maria hamil tanpa disentuh?” Tanya Oscar “Ozzie” Freedman, seorang anak Yahudi yang berusia 13 tahun, kepada Rabbi-nya. Sang Rabbi (pendeta kaum Yahudi) baru saja mengajarkan bahwa Yesus adalah manusia biasa dan tidak mungkin bagi seorang wanita untuk hamil tanpa berhubungan dengan pria.

Ozzie akan membuat kita tertawa sekaligus tersentil berkat opininya yang polos tapi kritis. Di cerpen ini, Philip Roth juga mengkritisi soal keangkuhan yang bisa dilakukan pemuka agama yang membuat mereka merendahkan agama lain.

“Anyway, I asked Binder if He could make all that in six days, and He could pick the six days He wanted right out of nowhere, why couldn’t He let a woman have a baby without having intercourse.”

Baca The Conversion of  the Jews disini.

8. A Christmas Tree and A Wedding oleh Fyodor Dostoevsky

Fyodor Dostoevsky via www.paraxeno.com

Di sebuah pernikahan, salah seorang tamu yang menghadiri pernikahan tersebut teringat dengan pesta malam tahun baru yang dia hadiri 5 tahun lalu. Di pesta 5 tahun lalu itu, si tamu merasa tidak nyaman karena tak bisa membaur dengan undangan yang lain. Dia datang karena hanya ingin menghormati si pemilik acara. Karena itu, yang dia lakukan sepanjang acara hanyalah mengobservasi tamu undangan yang lain.

Salah satu obyek observasinya adalah Julian Mastakovich, yang sedang sibuk menghitung-hitung mahar yang akan didapatkan anak gadis pemilik acara tersebut ketika si anak gadis menikah. Padahal si anak gadis sendiri baru berusia 11 tahun. Di cerpen ini, Dostoevsky menyoroti ketidakadilan yang terjadi ketika kebahagiaan kita dirampas oleh orang lain, dan betapa mudahnya harga diri manusia dinilai dengan uang.

“Three hundred thousand rubles set aside for her dowry already.”

Baca A Christmas Tree and a Wedding disini.

9. Flat of Angles oleh Simon Cleary

Simon Cleary via i.ytimg.com

Cerpen ini bercerita tentang 2 pria yang tidak mengenal satu sama lain, namun bertemu dengan wanita yang sama pada sebuah pesta di tempat yang berbeda.  Kedua pria ini menceritakan pengalamannya ketika menghabiskan waktu bersama wanita ini dan perasaan mereka setelah wanita ini meninggalkan mereka berdua.

Cerpen ini sempat dibacakan oleh aktor Sherlock Benedict Cumberbatch. Dalam versi Cumberbatch, bahasa cerpen ini diperhalus dan narasinya pun dibuat lebih panjang.

“I tilted my head left, about to speak, and look sympathetic, and she tilted her head right. I raised my right hand, she raised her left. I put it back by my side, straightened my head, and she did the same. ‘I’ll be your mirror.’ she said.”

Baca Flat of Angles disini.

10. The Dead oleh James Joyce

James Joyce via www.ubartgalleries.org

Gabriel menghadiri sebuah pesta bersama istrinya, Gretta. Di pesta, Gabriel berinteraksi dengan para tamu yang membuat dirinya berpikir ulang tentang kehidupan cintanya serta sentimen nasionalisme Irlandia yang menurutnya berlebihan.

Cerpen ini dipublikasikan pada tahun 1914, ketika Irlandia masih diduduki oleh Inggris. James Joyce menggambarkan pergolakan antara masyarakat Irlandia tentang bagaimana sebaiknya mereka melepaskan diri dari okupasi Inggris. Ini terlihat dari percakapan antara Gabriel dan Miss Ivory, salah satu tamu pesta.

Gabriel mewakili masyarakat Irlandia yang meyakini bahwa kemerdekaan juga bisa diraih tanpa harus membentengi diri dari pengaruh Inggris. Sementara itu, Miss Ivory mewakili masyarakat Irlandia yang ingin benar-benar lepas dari Inggris, bahkan dalam soal bahasa dan budayanya. Seolah Inggris adalah najis yang hanya bisa mengotori Irlandia.

Nah, kira-kira kalau Irlandia dan Inggris disini diganti menjadi Indonesia dan Belanda, posisi siapa yang akan kamu setujui?

Selain itu, The Dead juga ingin menunjukkan bahwa seberapa lama pun kita mengenal dan mencintai seseorang, orang itu tetap merupakan misteri yang tak bisa sepenuhnya kita pecahkan. Ini terlihat dari interaksi Gabriel dan Gretta selama pesta, sampai setelah mereka kembali ke penginapan mereka. Cerpen ini diakhiri dengan renungan Gabriel akan masa-masa awalnya dengan Gretta.

“She was walking on before him so lightly and so erect that he longed to run after her noiselessly, catch her by the shoulders and say something foolish and affectionate into her ear. She seemed to him so frail that he longed to defend her against something, and then to be alone with her.”

Baca The Dead disini.

Selain menghibur, cerpen-cerpen tersebut memiliki kekuatan yang tentunya bisa menginspirasi kehidupan kamu. Kalau kamu memiliki rencana untuk menjadi penulis, kamu pun bisa belajar dari penulis-penulis yang sudah Hipwee rekomendasikan barusan. Selamat membaca!