Mungkin agak basi rasanya ketika saya baru membuat review tentang film ‘fenomenal’ Rafathar, yang padahal sudah rilis sejak 10 Agustus lalu. Rasa penasaran tiba-tiba muncul tak lama setelah saya melihat begitu banyak rating yang diberikan pada film yang melibatkan anak-anak sebagai objek—pertama di Indonesia—ini. Pasalnya, film yang menggunakan nama dari anak semata wayang Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini mendapat rating 0 dari 0-5. Warganet bercanda?

Lalu saya memutuskan untuk datang ke bioskop dan memesan satu tiket film Rafathar. Di dalam bioskop, hanya ada beberapa keluarga dan anak-anak—kira-kira SMP—tak ada penonton yang seusia saya! Barangkali benar, ini memang film untuk keluarga, saya pikir.

Saya mulai gerah di dalam bioskop dengan mencatat beberapa hal absurd yang terus terngiang di kehidupan saya setelah keluar dari ruangan yang sangat lengang ini.

Ide cerita yang mudah terbaca, bukan daya tarik lagi dalam film ini. Asli tidak ada yang menarik sama sekali

Johny Gold, Popo Palupi, dan Rafathar. via youtube.com

Dari segi cerita, mungkin Raffi Ahmad selaku ayah kandung Rafathar sekaligus produser bersama Anggy Umbara, terinspirasi dari film anak-anak era 90-an, Baby’s Day Out, Rob-B-Hood, dan tentunya Home Alone. Ketiga film ini dijadikan pondasi cerita Rafathar; tentang seorang bocah yang jadi sasaran penculikan dan mengakibatkan para penculik kepayahan. Lantas ditambah sedikit dengan kisah Rafathar yang memiliki kekuatan telekinesis besi—yang berdasarkan alurnya, dia merupakan senjata mematikan.

Advertisement

Seperti yang sudah saya tuliskan, film ini bercerita soal bayi (Rafathar) yang diculik oleh dua maling legendaris Johny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) dengan kewalahan sebagai utusan dari Bos Viktor (Agus Kuncoro). Tentu kita sudah tahu cerita selanjutnya berdasarkan tiga film sebelumnya.

Harapan penonton atas kecanggihan CGI pun pupus belaka. Pengalaman Epic FX Studio Indonesia dalam film Hollywood tak banyak membantu

Rafathar Malik Ahmad. via www.instagram.com

Satu hal yang mengganggu kenikmatan saya nonton film ini adalah bagaimana Rafathar ditampilkan dalam setiap adegannya. Begitu memaksakan. Mungkin efek CGI dari Epic FX Studio Indonesia yang diharapkan bisa membantu banyak dalam produksi film fiktif ini, rasanya hanya sebatas angan-angan penonton. Pasalnya, justru kelucuan Rafathar tak bisa dinikmati penuh, hingga animasi yang masih begitu kasar seperti ondel-ondel raksasa dan robot dari mesin ATM dan kulkas (lebih tepatnya sampah).

Tapi wajar, rasanya kita memang belum cukup akrab dengan pemanfaatan canggihnya CGI dalam produksi film, terlebih waktu dan biaya yang terbatas. Kita masih perlu berkiblat ke ‘barat’. Ah, setidaknya Rafathar jauh lebih baik daripada film naga-nagaan atau monster aneh lain yang ada di stasiun TV swasta kita. Sorry.

Jelas ini sebuah eksploitasi orang tua pada anaknya. Intinya, menjual nama besar kedua orang tuanya doang

Saat promosi film Rafathar di Cilegon. via www.instagram.com

Sekali lagi, hanya eksploitasilah yang terkesan dari film ini. Selain beberapa unsur yang sudah saya sebutkan di poin pertama, ada beberapa faktor lagi yang menegaskan kepentingan pribadi Raffi dan Nagita dalam film ini.

Pelabelan film keluarga rasanya sangat tidak tepat, mengingat cukup banyak beredar dialog yang hanya dipahami mereka yang sudah lulus SMA atau komedi ala bapak-bapak, adegan kekerasan yang seharusnya dipangkas, tetap dimunculkan—kendati LSF sudah melabelinya sebagai film 13+, hingga begitu banyak plotting untuk sponsor dalam durasi dan pemberian ruang yang sangat mengganggu. Belum lagi, narasi berbumbu drama air mata beserta karakter asing yang muncul—yang dimaksudkan sebagai jembatan alur—tidak masuk akal.

Dari rentetan catatan ini, saya bisa simpulkan, film Rafathar tidak acuh pada (calon) penontonnya—pesan yang dibawa untuk masyarakat, hingga bahkan pada Rafathar sendiri. Hal ini didukung dari petikan wawancara Raffi Ahmad di berbagai media yang mengatakan bahwa film ini didedikasikan untuk ulang tahun anaknya yang kedua pada 15 Agustus lalu. Oh, pantas saja.

Tapi kurang tepat kalau film ini hanya beroleh rating 0 dari 0-5. Ada satu yang menarik loh!

Cik Nur Fazura sebagai Mama Mila. Unch! via www.instagram.com

Barangkali kamu akan langsung mengurungkan niat untuk menonton film ini setelah melihat rating yang bersebaran di internet. Tapi sebagai penghiburan, saya memberikan rating 1 dari 0-5 untuk akting para pemeran yang terbilang sudah memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Katakanlah Agus Kuncoro dengan pengalamannya di film layar lebar, Nagita Slavina dengan pengalamannya sebagai aktris FTV, Babe Cabita yang belum lama berseni peran tapi cukup menggelitik perut dengan guyonan dan cara bicaranya, hingga Nur Fazura yang sangat mencuri perhatian.

Selain nama ini, saya tidak bisa menikmati akting mereka. Tapi bagi para cowok usia 18+, nama dua aktris dalam film ini sangat menghibur. Selain Nagita Slavina dengan paras cantiknya yang akrab di mata masyarakat kita, nama Nur Fazura (ibu angkat Rafathar) cukup seksi di mata para cowok. Rating 1 dari 0-5 cukuplah untuk keberadaan mereka. Hehehe.

Catatan. Dalam kesempatan lain, Raffi Ahmad pun menyatakan bahwa film ini masih ‘mengetes’ pasar. Kalau tembus hingga sejuta lebih (hingga hari ini sudah 350.000-an penonton), dia berjanji akan membuat sekuel atau film lain lagi yang lebih baik dengan teknologi motion capture yang canggih. Kita tunggu saja, ya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya