Apakah kamu pernah merasakan momen jatuh cinta? Pernahkah kamu menyatakan cinta pada seseorang, atau menyimpan perasaan cinta yang begitu dalam pada pasangan? Ya, mencintai dan dicintai adalah perasaan yang membahagiakan dan lazim kita rasakan.

Tapi, bagaimana perjalanan cintamu selama ini? Muluskah? Berakhir sesuai harapankah? Atau justru menyisakan luka mendalam yang sampai sekarang belum bisa ditutup? Jika kisah cintamu tak pernah berakhir sesuai keinginan, bisa jadi ada yang salah terhadap pemahanmu terhadap cinta.

Nah, Berikut ini 12 prinsip tentang cinta yang harus terus diingat agar kehidupan cintamu tak berakhir menyedihkan!

1. Cinta Bisa Tiba-Tiba Mengetuk Pintu Hatimu, Menerima Atau Mengabaikan Perasaan Itu Adalah Pilihanmu

cinta itu perkara pilihan via medicineevolution.com

Mencintai adalah tentang memilih dan memantapkan hati. Mengizinkan diri sendiri untuk punya perasaan cinta pada seseorang yang memang dirasa layak mendapatkannya. Apakah dia yang selama ini jadi teman baikmu? Dia yang jadi rekomendasi orang tuamu, atau dia yang kamu kenal lewat pertemuan sederhana di sebuah angkutan kota?

Advertisement

Cinta memang bisa datang kapan saja. Momen jatuh cinta pun mungkin bisa kamu rasakan setiap detiknya. Namun, perkara menerima atau mengabaikan cinta yang datang sepenuhnya ada di tanganmu. Tak seorang pun berhak memaksa pada siapa kamu harus jatuh cinta atau mencintai. Saat memilih untuk mencintai berarti kamu harus siap dengan berbagai konsekuensi. Pun ketika kamu memilih untuk tidak membuka hati, kamu harus mampu menghadapi kesendirian dengan berani.

2. Kamu Harus Bisa Membedakan Mana Cinta Sejati yang Layak Kamu Jaga Sepenuh Hati — Mana Perasaan Menggebu yang Hanya Sekadar Obsesi

perasaan yang sekadar obsesi akan mudah terganti via www.wallpapersidol.com

Ada kalanya kita tak bisa membedakan antara perasaan cinta dan sekadar obsesi. Obsesi biasanya muncul akibat perasaan suka yang begitu kuat. Dia yang membuatmu terobsesi mungkin punya paras cantik bak selebriti, siswa paling cerdas di kelasmu, atau cowok yang jadi idola di sekolahmu dulu. Obsesi memunculkan keinginan kuat untuk bisa berdampingan dengannya. Namun ketahuilah, perasaan yang kamu rasa begitu menggelegak itu sebenarnya belum bisa disebut sebagai cinta.

Cinta yang sebenarnya tak akan membuatmu obsesif atau berperilaku posesif. Cinta justru demikian membebaskan; tak akan mengekang atau menekan. Saat kamu bisa benar-benar mencintai pasangan, segala yang kamu lakukan hanya demi membuatnya merasa nyaman. Jika perasaan yang sekadar obsesi hanya bertahan sementara dan mudah berganti, cinta yang tulus justru akan bertahan lama di hati.

3. Tertarik Pada Pasangan Adalah Pintu. Rasa Cinta Masih Perlu Diuji Setelah Itu

cinta tak seperti makanan instan via www.tobiahtayo.com

Tak banyak orang yang percaya pada kisah ‘cinta pada pandangan pertama’. Seakan-akan cinta bisa muncul dalam sekejap dan dengan cara yang instan. Bukankan butuh proses yang panjang ketika sekedar rasa suka atau ketertarikan bisa berubah jadi cinta? Tidakkah cinta pada pandangan pertama seakan berdasar pada ketertarikan fisik semata?

Ya, cinta memang sepatutnya butuh waktu. Kamu dan pasanganmu punya perasaan cinta yang akan terus bertumbuh setiap harinya. Lewat kuatnya rasa saling percaya, setelah mengenal karakter aslinya, mendengar visi misi hidupnya, melihat perilakunya, hingga sikap-sikapnya yang memang bisa membuatmu nyaman bersamanya.

4. Tak Salah Mempercayai Bahwa Cinta Sejatimu Memang Sudah Ditakdirkan. Namun Pasangan yang Sepadan Tetap Layak Diusahakan

pasangan sejatimu sudah ditakdirkan via www.dreamboxphotography.com

Kadang, perasaan yang begitu kuat atau rasa cinta yang demikian hebat membuat kita jumawa. Rasa bahagia yang berlebihan menjadikan kita banyak-banyak menumpuk harapan. Keinginan memiliki pasangan dan hubungan yang sempurna justru membuat diri kita terkesan memaksakan. Kita lupa bahwa perkara cinta sejati dan pasangan yang akan mendampingi sampai tua itu sudah dituliskan. Sebagai manusia, kita hanya patut berserah sambil tak putus-putus mengusahakannya.

Tapi memasrahkan bukan berarati duduk manis, ongkang-ongkang kaki, tanpa usaha keras di baliknya. Kalau mau mendapatkan pasangan yang sepadan, pengorbananmu juga harus digalakkan. Ingin pasangan yang gemar membaca? Tantang dirimu menamatkan minimal 3 buku tiap bulannya. Berharap punya pasangan dengan iman yang baik? Tengok dulu, apakah hubunganmu dan Tuhan sudah sedekat jarak tanda koma dan titik?

5. Cinta Itu Pekerjaan Memberi. Kamu Hanya Harus Memberikan Segala yang Terbaik Darimu Setiap Hari

cinta adalah kata kerja via www.yesforidahoschools.org

Cinta memang selayaknya dimaknai sebagai kata kerja. Perasaan cinta seharusnya diwujudkan dalam bentuk tindakan. Jika hubungan cintamu mau bertahan, dibutuhkan kerja keras dan kerjasama yang tanpa pengecualian. Semakin dewasa dirimu, semakin kamu menyadari bahwa cinta bukanlah sekadar jargon manis atau kencan di akhir minggu. Cinta membutuhkan usaha yang lebih dari semua itu.

Saat ada masalah, kamu dan pasanganmu harus sekuat tenaga sama-sama meredam emosi dan berusaha berkompromi. Mencintai berarti berusaha memenuhi harapan pasangan yang mengisi hati. Saban hari kamu harus bertransformasi jadi manusia yang lebih baik lagi.

Cinta yang baik melibatkan usaha yang sepadan. Tak ada kepentingan satu orang yang harus dikorbankan.

6. Cinta yang Tulus Selalu Ingin Menjaga. Di Tengah Kesulitan Terdalamnya Sekalipun, Kamu Ingin Terus Mendampinginya

cinta berarti kehadiranmu di sisinya via nepheshphotography.blogspot.com

Mengaku mencintai pasangan berarti siap memberikan dirimu sepenuhnya. Ya, rasa cinta membuatmu tak enggan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendengarkan curahan hatinya. Saat dia yang kamu cintai tengah dilanda kesulitan, kamu pulalah orang pertama yang akan turun tangan membantunya.

Wujud dari perasaan cinta adalah ketika kamu berusaha hadir atau ada untuknya. Genggaman tangan atau pelukan hangatmu yang akan menenangkannya. Keceriaan dan rasa empatimu yang dapat sejenak membuatnya melupakan masalah yang jadi beban hidupnya. Saat bisa benar-benar hadir dan ada untuknya, kamu sah membuktikan bahwa cintamu memang sedalam itu padanya.

7. Bertengkar dan Berselisih Paham Itu Pasti. Justru Dari Konflik-lah Kalian Bisa Belajar Saling Memahami

cinta adalah tentang kebaikan via designgrapher.com

Tuhan menciptakan cinta untuk kebaikan. Agar manusia bisa berbagi cinta dan kasih sayang yang mendamaikan dan bukannya saling menyakiti. Sayangnya, tak jarang kita malah menjalani hubungan yang tak dewasa. Alih-alih bisa bersikap baik dan saling menyayangi, kita justru lebih sering tersulut emosi.

Bagi mereka yang bisa berpikir dan bersikap dewasa, cinta yang dijalani akan lebih stabil dan konsisten. Tanpa perlu banyak drama-drama dalam hubungan, setiap masalah yang datang selayaknya bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan sikap mau menghargai pasangan. Kalau kamu ingin cintamu bertahan, setiap permasalahan akan bisa disarikan sebagai pelajaran. Pertengkaran tidak akan berakhir sia-sia tanpa memberikan pengalaman.

8. Sebelum Berani Mencintai Orang Lain, Pastikan Kamu Sudah Berdamai dengan Dirimu Sendiri

sebelum mencintai, berdamailah dengan dirimu sendiri via designgrapher.com

Demi bisa mencintai orang lain, kamu perlu berdamai dengan dirimu sendiri terlebih dahulu. Menerima segala kekurangan dan kelebihan yang kamu miliki, pun bisa menikmati hidup dan berbahagia meskipun sedang sendiri.

Terima segala kesalahanmu di masa lalu, maafkan kealpaanmu sebagai manusia dan pencinta di masa yang dulu. Tanpa pernah melewati proses berdamai dengan diri sendiri,

Kamu bukanlah pribadi yang rapuh, melainkan seseorang yang kokoh berdiri di atas dua kaki. Kamu tak butuh penopang atau tempat bersandar, melainkan teman dan rekan dalam perjalanan hidupmu.

9. Jika Masih Egois dan Ingin Mementingkan Diri Sendiri — Tanyakan Lagi: Cintakah yang Sedang Kujalani?

cinta tak pernah egois via rachelmeaganphotography.com

Cinta ternyata punya kekuatan yang luar biasa. Cinta yang baik akan membuatmu bertumbuh jadi pribadi yang lebih baik pula. Karenanya kamu tak lagi egois atau mementingkan diri sendiri. Cinta membuatmu tak malas-malas memikirkan pasangan yang memang sudah jadi bagian hidupmu. Kasih sayang dan perhatian tak kurang-kurang kamu curahkan. Cintalah yang mengajarkan kita untuk mau peduli dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kebutuhan diri sendiri.

Jika hubungan cinta yang sedang kamu jalani tidak membuatmu jadi pemberi dengan keikhlasan seluas lapangan bola, perasaanmu patut kamu pertanyakan. Sesungguhnya, cintakah yang sedang kamu jalani? Atau sekadar ingin ada yang mendampingi?

10. Sekalipun Cinta Tak Pernah Datang dengan Kepastian, Dia Pantas Dilakoni dengan Penuh Keyakinan

cinta itu perkara keyakinan via weheartit.com

Sudah jadi rumus pasti bahwa cinta tak akan pernah datang dengan kepastian. Setiap hubungan yang dijalani akan selalu punya dua kemungkinan, entah berhasil atau gagal total. Namun, bukan berarti kita pantas menjalaninya dengan seenaknya tanpa rasa percaya atau keyakinan.

Kamu yang benar-benar mencintai akan lebih berani dalam melangkah. Mantap mencintai berarti punya kepercayaan dan keyakinan yang besar pada pasangan. Bahwa lepas dari segala kemungkinan yang bisa terjadi, kamu bertekad untuk sebaik-baiknya berusaha demi bisa mempertahankan hubungan seterusnya.

11. Jangan Berharap Mendapat Cinta yang Sempurna, Tapi Jalani Cinta dengan Jujur dan Apa Adanya

tak ada cinta yang sempurna

Mungkin, kita sering berandai-andai tentang hubungan yang membahagiakan. Berharap punya pasangan yang sifat dan karakternya benar-benar kamu idam-idamkan atau menjalani hubungan yang langgeng hingga ke pelaminan. Segala keinginan dan harapan itu membuat kita lupa bahwa bagaimana pun tak ada cinta yang sempurna.

Hubungan yang sempurna adalah ketika kamu dan pasanganmu bisa sama-sama mau berusaha. Saling mengajak dalam kebaikan, mau kompromi, dan berusaha saling memahami. Tanpa perlu punya bayangan tentang bagaimana kriteria pasangan yang sempurna, kamu dan dia hanya fokus untuk berusaha menjadi pasangan yang lebih baik setiap harinya.

12. Kepercayaan Terhadap Cinta yang Tulus Menjadikanmu Lebih Berani Menghadapi Sendiri. Pun Tak Takut Saat Harus Menghadapi Komitmen yang Lebih Suci

cinta menuntutmu berani berkomitmen via designgrapher.com

Bisa saja saat ini kamu masih sendiri, belum ada yang mendampingi. Bagi mereka yang belum meyakini bahwa cinta selalu datang di saat yang paling tepat nanti, mungkin rasa cemas dan galau tidak bisa dihindari. Tapi mereka yang yakin bahwa semua hanya harus dijalani justru lebih berani menghadapi kesendirian. Kenapa harus khawatir? Toh jika waktunya tiba, pasangan yang dinanti sekian lama akan muncul juga di hadap mata.

Begitu pun bagi mereka yang punya pasangan — mencintai tak bisa dianggap sembarangan. Mencintai adalah perkara janji yang selayaknya ditepati. Kalian tak lagi takut jika harus membawa ikatan ini ke komitmen yang lebih suci. Sebab bukankah cinta memang soal memberanikan diri menghadapi segalanya bersama? Entah manis atau pahit jalan yang terhampar di hadap sana.

Nah, apakah kamu setuju dengan prinsip-prinsip di atas? Soal cinta memang bukan perkara sederhana. Cinta yang sebenar-benarnya adalah ketika kamu bisa mencerapi perasaan cintamu secara dewasa. Semoga cinta membuat hidupmu berbahagia, ya! 🙂