Di sudut peron sana ada sepasang kekasih yang sama seperti kamu dan dia. Usia mereka pun tampak tak jauh berbeda dari kalian. Tapi buatmu, entah kenapa sikap atau tingkah mereka di luar perkiraan. Tak ada yang salah memang dari cara setiap orang menjalani hubungan. Tapi lagi-lagi ini membuatmu senyum-senyum sendiri, ternyata usia tak menjadi patokan kedewasaan dalam menjalani hubungan.

Kamu menatap pasanganmu, lalu berpikir lagi “kira-kira kalian sendiri menjalani hubungan ini dengan cukup dewasa atau tidak ya?” Bukankah menilai orang lain kamu bisa dengan mudahnya. Bagaimana dengan kalian?

Sebenarnya tak sulit memastikan kadar kedewasaan kalian. Kamu bisa lihat dari beberapa hal sederhana yang Hipwee uraikan di artikel kali ini. Bukan sekadar mesra, romantis atau janji manis. Tapi komitmen kalian menjalani hubungan ini.

1. Saling mengingatkan saat salah satu dari kalian berbuat salah, agar bisa berbenah diri bersama

saling mengingatkan saat ada yang salah via www.focusphotography.ca

“Besok-besok, biasakan dicek lagi satu persatu ya.”

“Iya Mas, ceroboh banget aku. Huft….”

“Iya sudah, tak apa.”

Bukan saling menyalahkan, apalagi sampai marah-marah berlebihan. Tapi kamu atau dia selalu berusaha tak menghakimi saat salah satu dari kalian ada yang salah. Kalian hanya akan saling mengingatkan, itupun tanpa terkesan mengguri atau mengatur. Sebab sedari awal kalian sepakat, tujuan hubungan ini di antaranya ya soal berbenah diri bersama-sama, bukan mengubah pasangan.

2. Tak ada lagi kalimat, ‘kamu tuh harusnya begini….’ Kalian paham menciptakan kenyamanan tak harus memaksakan kehendak sendiri

menciptakan kenyamanan tanpa perlu banyak tuntutan via www.apelphotography.com

Kamu sendiri kadang heran saat melihat seseorang selalu saja menuntut pasangannya. Sedikit-sedikit bilangnya, ‘kamu tuh harusnya begini….’ atau ‘aku maunya kamu….’ Seolah tuntutan jadi kunci utama kenyamanan kalian. Sementara yang nyaman biasanya hanya si dia yang menuntut saja, sedangkan pasangannya belum tentu merasa yang sama. Sekali dua kali mungkin belum ada pengaruhnya. Tapi lama-lama akan berdampak kurang baik untuk hubungan juga dirinya yang selalu dicerca tuntutan.

Kesadaran hal seperti itu yang membuat kamu dan dia memutuskan untuk menciptakan kenyaman dari kata toleransi. Bukan menerima dirinya apa adanya juga, tapi selalu menghargai apapun usaha baik yang dilakukannya. Terpenting kalian sama-sama nyaman, kenapa harus repot dengan aturan atau tuntutan ini itu?!

3. Saat saling berjauhan, kamu atau dia tak lagi merengek kesepian. Kalian sudah mahir berdamai dengan rasa-rasa itu

rasa-rasa itu sudah khatam untukmu dan dia via www.dustincantrellphotoblog.com

Malam minggu ke mana, An?

Di rumah aja, Mas. Mau nonton film, baca buku, tidur, makan…. hahaha

Nggak bosen, keluar gih sama temen-temen.

Nggak lah. kamu ada acara apa? kangen nggak sama aku? hihihi

Katanya, saat menjalani hubungan jarak jauh lah kedewasaan kalian benar-benar diuji. Mulai dari persoalan memberi dan memegang kepercayaan, sampai hal remah seperti rasa-rasa rindu serta kesepian seringnya jadi momok untuk si pejuang LDR.

Tapi buat kalian yang sudah sering menjalani LDR, rengekan rindu atau kesepian sudah jarang sekali muncul. Kalaupun sesekali hadir, biasanya kalian akan lebih santai mengucapkan atau menanggapinya. Sebab kamu dan dia memang sudah berdamai dengan rasa-rasa itu.

Rindu sih pasti, bahkan sudah jadi makan sehari-hari. Tapi bukan berarti membuat kalian meratapi dan merasa sepi.

4. Tak ada istilah matre di kamus kalian, sebab kamu atau dia lebih suka bergantian untuk urusan memberi buah tangan ke pasangan

dikasih cincin plus lamaran ternyata via www.dustincantrellphotoblog.com

Matre? Jujur dari awal menjalin hubungan kata itu tak pernah masuk dalam daftar kamus kalian. Kamu atau dia tak ada yang saling memanfaatkan. Urusan uang kalian lebih sering gantian. Seperti saat kencan berdua, akan ada pembagian siapa yang membeli tiket nonton, dan siapa yang akan membayari makan. Kadang kalian pun tak segan hitung-hitungan soal pengeluaran berdua. Bukan pelit, tapi setidaknya keterbukaan ini membuat hubungan kalian lebih sehat. Tak ada yang merasa dirugikan.

Termasuk soal memberi buah tangan. Semisal bulan kemarin kamu membelikannya sepatu yang dia incar selama ini. Dan sekarang, giliran dia yang membelikan cincin couple perak untuk pasangan, yang diberikan untuk sapa lagi kalau bukan kamu. Selama harganya tak berbeda jauh, selama itu pula kalian akan oke-oke saja.

5. Obrolan kalian tak melulu soal perasaan, tapi berisi keseharian, hobi sampai mimpi masing-masing

obrolan seru kalian via bridalmusings.com

“Gimana kerjaan, ide lancarkan?”

“Iya kemarin aku lihat ada pamflet acara donasi buku.”

“Aku pengennya nanti tinggal di Malang aja…. kamu juga kan? hihihi”

Udah lewat fasenya ngobrolin soal perasaan kalian saja. Toh sudah jelas kamu sayang dan nyaman dengannya, begitu juga dia. Lagipula ngobrolin perasaan yang itu-itu saja tak akan memberi banyak faedah ke hubungan kalian. Justru yang ada malah rasa jenuh karena obrolan terlalu monoton.

Sekarang kamu dan dia lebih suka membicarakan hal-hal yang ada di keseharian. Kalian akan membicarakan kabar pekerjaan, perjalanan ke arah kantor, saling bertanya pendapat untuk sesuatu hal, sampai berbagi info diskon online shop terbesar di bulan Desember yang diadakan MatahariMall. Random memang tapi, bukankah obrolan kalian jadi lebih seru. Bisa jadi pasanganmu berminat untuk membeli sesuatu di sana, atau mungkin dia bisa mencarikan cincin couple pesananmu di sana. Ditambah ada diskon seperti ini memungkin dia mendapatkan barang berkualitas dengan harga yang terjangkau sekali.

Siapa tahu juga kamu bisa dibelikan barang lainnya yang tak hanya pesanmu saja. Biar nggak ketinggalan, diingat baik-baik ya kapan tanggal berlangsung. Sebab menjalani hubungan sesederhana berbagi hal-hal seru yang tak melulu berbagu ego diri.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya