Butuh waktu untuk menyadari ada yang salah dalam hidupmu. Terutama jika hal tersebut berkaitan dengan orang yang kamu cintai, orang yang sedang bersamamu saat ini. Ya, kamu telah lama memutuskan untuk menjadikannya teman hidupmu, menghabiskan berbagai momen penting bersamanya.

Lantas kalau ini cinta, mengapa lelah rasanya?

Mencintai adalah proses yang sama rata dijalani oleh kedua belah pihak. Jika dalam hubunganmu, banyak hal yang berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi, mungkin itu adalah pertanda bahwa kamu sedang mencintai orang yang salah. Memang bukan berarti dia tidak baik. Hanya saja, untuk jadi pasangan hidup, mungkin dia bukan orang yang tepat.

1. Pertengkaran jadi agenda harian kalian. Bukan karena pendapat yang berbeda, tapi karena kamu dan dia tidak berjuang untuk hal yang sama

pertengkaran yang menyakiti via papasemar.com

Sebagai pasangan, wajar jika sesekali bertengkar. Urusan kemauan dan situasi memang seringkali memancing emosi. Namun, setelah itu biasanya hubungan yang sehat akan selalu mengembalikan suasana tenang. Pertengkaran sesekali bisa jadi kunci untuk mengeratkan kembali hubungan yang sudah jauh.

Advertisement

Tapi anehnya hal yang ini tidak terjadi kepadamu dan dia. Kalian bertengkar dengan intensitas lebih tinggi dari kebanyakan pasangan pada umumnya. Apa-apa diributkan, hal kecil bisa menyulut api yang lebih besar lagi, hanya untuk diungkit berhari-hari.

Bisa jadi, bukan hanya perbedaan pendapat yang membuat kalian ribut melulu. Pandangan tentang hal yang patut dan tidak patut diperjuangkan, sepertinya juga berbeda. Karena itu, perdebatan kalian jadi tidak ada ujungnya.

2. Alih-alih merasa lega, selepas curhat dengannya kamu malah tambah depresi…

seringnya tidak dihargai via thelovewhisperer.me

Pasangan adalah orang yang senantiasa mendengarkan dan mengerti setiap fase yang kamu lalui dalam hidupmu, seharusnya begitu. Jika tidak mengerti pun, ia akan berusaha menghargai. Karena kebahagiaan orang yang ia cintai adalah prioritas utama, curhatan remeh-temeh pun akan selalu didengarkan dengan penuh perhatian.

Tapi kok kalau sama dia, curhatmu malah jadi tambah ribet ya?

Mungkin karena hal-hal yang kamu ceritakan selalu dianggap kurang penting olehnya. Mungkin karena caranya menanggapimu yang tidak serius. Mungkin dari caranya menertawakan dan merendahkan masalah remehmu. Mungkin karena dia membandingkan, atau mungkin memaksamu mengambil solusi yang ia tawarkan. Atau mungkin juga karena dia lebih memprioritaskan waktu seharian untuk kliennya, temannya, atau tugas-tugasnya daripada setengah jam mendengar keluhanmu.

3. Bersamanya, kamu merasa kerdil. Usahamu tidak pernah dimaknai besar olehnya.

kurang dihargai via ciricara.com

Dukungan yang tulus tentu diperlukan oleh siapa pun yang sedang berusaha. Apalagi, dukungan yang datang dari orang terdekat. Tak peduli apakah usaha yang kamu lakukan membuahkan hasil yang diharapkan, yang terpenting adalah pengakuan dan penghargaan atas keberanianmu berjuang.

Ketika segala daya upayamu tidak berhasil mengesankannya, atau dipandang sebelah mata, mungkin ada yang salah dari hubungan kalian. Bukankah sebagai pasangan, dia seharusnya jadi yang menguatkanmu?

Mungkin dia berdalih bahwa ia ingin menempamu agar punya daya juang lebih tinggi. Tapi jika dilakukan tanpa apresiasi, bisa jadi dia malah sedang mempertahankan egonya yang terlalu tinggi.

4. Bahkan, banyak mimpi yang kamu korbankan demi jalan kalian yang tetap bersisian.

mimpi-mimpi yang direlakan via www.thebestquotes.xyz

Sebelum bersamanya, banyak hal yang ingin kamu lakukan terhadap hidupmu. Kamu mampu merencanakan jalanmu sendiri, menarget pencapaian, dan merancang cita-cita yang membuatmu merasa memegang kendali atas hidupmu. Mimpi itu yang membuatmu terus melaju.

Hingga dia datang dan bersisian denganmu. Ternyata banyak sekali jalan yang jika diteruskan akan berseberangan, sehingga pilihannya adalah berpisah atau mengalah.

Kamu mencintainya sedemikian rupa sehingga rela memilih yang kedua. Yang tidak kamu sadari, nanti kamu akan melakukannya lagi dan lagi. Mengorbankan mimpi-mimpimu demi mencapai mimpi-mimpinya. Kenapa tidak bisa dicoba menggapai mimpi berdua?

5. Demi menjaga perasaannya, banyak kebenaran yang rela kamu tutup-tutupi.

white lies via lampost.co

Sudah jadi kebiasaanmu untuk selalu menjaga perasaan orang, terlebih dia yang kamu kasihi. Menyakitinya bukanlah pilihan yang akan kamu ambil selama ada jalan lain. Oleh karenanya, kamu selalu memilih untuk berbohong ketimbang mengatakan yang sejujurnya. White lies, dalihmu. Kebohongan yang dibuat untuk tujuan yang baik.

Tapi sampai kapan kamu mau membohongi diri sendiri?

Jika kamu dan dia memang bisa menghargai satu sama lain, seberapapun pahitnya kenyataan akan bisa kamu terima dengan nyaman. Kamu tahu ketika pasanganmu jujur, ia tidak pernah berniat menyakitimu.

6. Dia sering tidak sadar kalau tingkah lakunya menyakiti. Namun yang kamu lakukan hanya memaklumi.

Mungkin itu memang karakternya, tabiatnya yang berusaha kamu terima apa adanya. Setiap kali ia menyakitimu, kamu memaafkan dan melupakannya seakan itu bukan hal besar. Lambat laun ia bahkan tidak sadar bagian mana dari tingkah lakunya yang membuatmu gerah dan tidak suka. Penerimaanmu membuatnya tidak peka.

Ketahuilah bahwa kamu layak mendapatkan perlakuan lebih dari itu. Yang perlu kamu lakukan hanya mengedepankan kepentinganmu dan memperjuangkan perasaanmu. Ia layak diberitahu prinsip-prinsipmu yang perlu ia hormati. Dan jika setelah diberitahu pun ia tetap melakukan hal yang sama, maka memang sebaiknya dia kamu tinggalkan saja.

7. Kamu tidak mengenal siapa dirimu lagi. Arti hidupmu cuma ditentukan oleh dia saja.

siapa dirimu? via datingwithdignity.com

Lama kelamaan kamu jadi semacam kehilangan jati diri. Mungkin gagasan bahwa dia bukan orang yang tepat buatmu sudah lama terlintas pikiranmu. Tapi karena sudah terlalu terbiasa dengan keberadaannya, atau berpisah darinya tidak dapat kamu bayangkan, kamu lebih suka pura-pura menikmati keadaan.

Arti hidupmu, kebahagiaanmu, dan tujuan hidupmu jadi bergantung padanya. Hei, sadarlah bahwa kamu layak hidup lebih baik dari ini. Ketika demi mempertahankannya, kamu malah jadi kehilangan dirimu sendiri, memang sudah saatnya kamu pergi.

Jika tanda-tanda ini kamu alami, coba pikirkan lagi seberapa besar harga mencintainya bagimu? Apakah cukup untuk membuatmu tidak mencintai diri sendiri? Sulit memang untuk melepaskan. Tapi, kamu pantas untuk mendapatkan cinta yang lebih baik dari ini.