Kamu dan sahabatmu sudah lama tak bertmu. Sekalinya bertemu dalam acara reuni, entah kenapa kalian justru canggung-canggungan. Percakapan kalian pun ternyata cuma basa-basi belaka. “Apa kabar”-lah, “Sekarang kerja di mana”-lah. Seakan-akan chemistry persahabatan yang dulu ada hilang entah kemana. Tak ada lagi guyonan segar, bahkan untuk sekadar menilai penampilannya saja kamu merasa nggak enakan.

Tak cuma sahabatmu yang berubah, orang yang dulu jadi tempatmu curhat pun seperti tak mengenalmu lagi. Dia yang dulu sering main bareng kamu ikut jadi awkward saat bertemu. Membuatmu akhirnya tersadar, bahwa fase perubahan dalam persahabatan pasti terjadi.

Makin ke sini, makin sedikit yang bisa kamu sebut sebagai sahabat. Demikian juga dengan yang mengakuimu sebagai sahabatnya, jumlahnya juga terus berkurang setiap waktunya. Tak perlu bersedih, setiap orang pasti melaluinya kok. Sebab ini memang fase alami dalam kehidupan seseorang…

1. Manusia terus berubah. Karena tak nyaman dengan perubahan itu, pertemanan kalian mulai merenggang

Kamu tak akan selamanya jadi anak-anak via pexels.com

Mau tak mau setiap orang pasti akan berubah. Termasuk kamu dan sahabat-sahabatmu. Bisa jadi mereka adalah sosok yang kamu kenal baik waktu itu. Tapi seiring berputarnya roda waktu, mereka bisa berubah jadi orang yang asing bagimu. Begitu juga sebaliknya dengan kamu ke mereka.

Advertisement

Contoh kecilnya seperti perubahan tempat nongkrong mereka. Dulu mereka masih bisa diajak menikmati kuliner pinggir jalan atau segarnya taman kota. Tapi sekarang mereka lebih suka duduk di kafe-kafe fancy yang harga makanan dan minumannya selangit. Sementara kamu sendiri barangkali merasa tidak nyaman dengan perubahan itu.

2. Bertambahnya usia, prioritasmu pun berubah. Ini yang membuat pertemananmu mengendur dengan sendirinya

Fokus mengejar prioritasmu via pexels.com

Seiring bertambahnya usia, prioritasmu dan prioritas teman-temanmu jelas mulai berubah. Jika dulu kalian banyak punya waktu untuk bermain atau bersenang-senang bersama. Sementara sekarang kalian mulai memikirkan jalan hidup serta masa depan masing-masing. Jujur saja, kamu pasti ingin meraih cita-cita kan? Dan fokusmu dengan cita-cita itulah yang akhirnya membuat waktu kalian untuk bersama semakin berkurang. Belum lagi kalau masing-masing dari kalian sudah memiliki pasangan. Mau tak mau persahabatan kalian mengendur sedikit demi sedikit.

3. Kamu dan teman-temanmu juga sudah berpindah kota. Jarak membuat pertemanan kalian tak seperti waktu SMA

Suatu hari nanti, entah kamu atau temanmu pasti akan merantau ke kota lain via pexels.com

Berpindah kota artinya berpindah kebudayaan dan pengetahuan. Kamu hidup di kota yang memiliki budaya bersosialisasinya berbeda dari teman-temanmu waktu zaman SMA. Membuat kamu dan teman-temanmu pun merasa sedikit asing saat bertemu. Hidup di kota yang berbeda bisa juga menimbulkan satu pertanyaan dalam hati. “Bisa jadi kamu tak akan bertemu lagi dengan temanmu, yakin pertemanan ini layak untuk diteruskan?”

4. Dulu bisa bertemu kapan saja. Sekarang kalian sibuk dengan urusannya masing-masing, jadi inilah realita

Sibuk sama kerjaan. Susah buat ketemuan via pexels.com

Dulu:

“Nongkrong, yuk?”
Kuy, lah”
“Hayuk aja gue mah”
“Siap!”
“Oke. Kalo deal, gue langsung otewe nih”

Sekarang mana bisa seperti itu. Semakin dewasa kesibukanmu pun semakin menggila. Kuliah lah, kerja lah, sibuk ngurus anak lah. Ngumpul untuk sekadar nongkrong akan sulit untuk kamu lakukan di usia-usia sekarang. Sedih memang, tapi ya ini realitanya.

5. Bisa jadi kamu sudah jengah dengan drama teman-temanmu. Sementara semakin dewasa, dirimu semakin cuek dengan hal yang menurutmu nggak penting

Drama? Emang gue pikirin… via pexels.com

Pada dasarnya semakin bertambahnya usia juga berarti berkurangnya rasa kompromi terhadap drama. Apalagi urusan-urusan macam drama percintaan teman-temanmu yang kisahnya gitu lagi gitu lagi. Bagimu hal-hal seperti itu sudah malas kamu ladeni. Pada akhirnya kamu akan berhenti peduli lagi pada urusan teman-temanmu.

6. Kamu juga sudah malas dengan basa-basinya. Berkali-kali ngajak meet-up, tapi tak pernah terlaksana juga

Halah, paling nggak jadi lagi… via pexels.com

Meet up, yuk?”
“Besok? Ayo!”
“Eh jangan besok. Lusa aja gimana?”
“Minggu ini aku nggak bisa. Minggu depan aja deh, ya?”
“Eh tapi minggu depan aku yang nggak bisa”

*Begitu saja terus sampe lebaran kuda

Sejujurnya, hal-hal seperti itu yang bikin kamu malas dengan teman-temanmu. Selalu membuat rencana tapi nggak pernah terlaksana. Seolah semua rencana itu sekadar basa-basi belaka.

7. Pasangan juga sering jadi alasan kenapa persahabatanmu mulai berjarak. Akui saja, ini memang kenyataannya

Ya tapi bisa jadi sih emang dilarang sama pasangan… Hehe via pexels.com

Bukan kerena pasanganmu melarang kamu main bareng teman-temanmu. Faktor pasangan ini bisa diartikan prioritas hubunganmu yang kini sudah berbeda. Kamu mulai berpikir bahwa membahagiakan dia itu yang utama. Kerja yang lebih giat dan menghabiskan waktumu dengannya, agar orang terkasihmu ini jadi lebih cinta. Meski banyak yang nggak mau ngakuinya, tapi nyatannya memang banyak persahabatan renggang karena pasangan.

8. Puncaknya, definisimu akan kata sahabat juga tak lagi seperti dulu. Ada makna baru dalam kata itu

Pada akhirnya, sahabat sejatimu cuma akan tersisa beberapa saja via pexels.com

Dulu, bagimu sahabat adalah sosok yang jadi tempat curhatmu dan yang paling mengerti kamu. Bisa juga kamu artikan sebagai orang-orang terdekat yang banyak menghabiskan waktu denganmu. Kini, bagimu makna sahabat lebih realistis dari itu. Sahabat adalah orang yang tetap bisa kamu percaya dan tetap bisa akrab denganmu walau kalian sudah nggak kontak-kontakan lama. Udah, gitu aja.

Seperti fase alay, bisa dibilang fase berkurangnya teman juga merupakan siklus alami dalam kehidupan kita. Pada akhir siklus ini kamu akan tahu mana yang sahabat sejatimu dan mana yang levelnya cuma sebatas teman biasa.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya