Selamat pagi, Sayang.

Kata-kata itu biasanya kukirimkan sesaat setelah fajar datang. Kau selalu minta untuk dibangunkan dengan pesan singkat kecil dariku. Kau pun akan segera membalasnya dengan mengetikkan terima kasih atau sekadar mengirim emoticon lucu.

Tapi belakangan ini ada yang berbeda. Meski pesan singkatku tetap masuk ke telepon genggammu, kau kerap luput membalasnya. Bukan hanya itu saja. Kau sering terlambat atau tiba-tiba membatalkan pertemuan. Pun saat kita duduk berhadap-hadapan, aku merasa yang hadir hanya fisikmu. Entah kau larikan ke mana pikiranmu.

Aku mungkin tak selalu menunjukkannya. Namun dalam hati, aku menyimpan tanya tentang apa sebenarnya yang kau alami dan kau simpan sendiri. Adakah dariku yang telah salah memperlakukanmu? Ataukah sesuatu yang lain mengganjal pikiranmu — sesuatu yang lebih besar, dan tak bisa kuapa-apakan?

Sayang, tanganku selalu terbuka. Jariku siap membantu dan dekapanku selalu ada jika kau membutuhkannya. Jadi maukah sekarang kau berkata sejujurnya, apa masalahnya?

Ingatlah bahwa kita bertahan sampai sekarang berkat keterbukaan. Masalah apapun yang kita hadapi, bersama atau pribadi, kita selalu berusaha bersabar dan saling belajar.

Advertisement

Tak hanya tawa, sedih pun kita berbagi via ilike.mk

Apa yang selama ini kusembunyikan darimu? Sebaliknya pula, apa yang tidak ku ketahui darimu? Sebagai sepasang kekasih, kita bangga pada keterbukaan yang selama ini ada. Sikap terbuka dan ringan bercerita inilah yang memudahkan dua orang yang berbeda ini saling memahami.

Apa yang kita punya selama ini tak layak untuk berhenti. Justru sebaliknya, langkah kita perlu dilanjutkan agar selamat sampai tujuan berikutnya — jenjang hubungan yang lebih serius dari sebelumnya.

Wajahmu tak secerah dulu. Seberapa pandaipun itu kau tutupi, aku tetap tahu ada yang berbeda darimu.

Aku tetap tahu: ada yang berbeda darimu via imgarcade.com

Pada awalnya, aku masih mampu memaklumi itu. Mungkin memang kau sedang malas dan tak bersemangat. Meski saat itu aku sudah menumbuhkan tanya, rasanya waktu itu lebih tepat kusimpan saja. Toh, tak mungkin seseorang bisa selamanya bersikap ceria.

Namun hari ke hari, aku merasa ada yang janggal di sini. Dan bagaimana aku bisa tahu? Karena aku yang selama ini paling sering menghabiskan waktu denganmu. Tentu ada firasat saat kau berubah tingkah laku.

Ah, tapi jangankan aku. Sahabat-sahabatmu pun seperti harus mengenalmu ulang. Dan jika kamu tahu: ibumu pun sampai turut menanyakan. Celakanya, tak ada dari kami yang bisa mengeluarkan jawaban. Mengapa kau menjadi setertutup ini, Sayang?

Padahal, tak ada yang diuntungkan jika masalahmu terus kau sembunyikan. Kita seperti ada dalam perang dingin yang tak pernah punya pemenang.

Kita ada dalam perang dingin tanpa pemenang. via galleryhip.com

Semakin tak habis pikir nalarku. Bukan hanya intensitas pertemuan kita yang berkurang — kualitas pun juga. Engkau semakin menjauh dari siapa saja. Tahukah kau bahwa ini membuat kami merasa tak berguna? Terlebih aku, yang selama ini selalu menggarisbawahi bahwa aku ada untukmu.

Jujur, aku malu jika membayangkan apa yang mungkin ada di pikiran orang-orang — yang melihatku “asyik” bermain dengan teman-teman ketika kekasihnya berjuang sendirian. Aku tahu, kau akan sepakat denganku bahwa ini adalah rumor yang bisa dicegah dan tak perlu.

Aku bertanya justru karena aku percaya. Apa yang kau sembunyikan bukanlah rahasia yang akan membuatku marah jika mengetahuinya.

Dan jujur, aku ingin seperti ini lagi via favim.com

Kau bukanlah tipikal pria yang senang lari begitu saja demi mendapatkan wanita lainnya. Aku yakin betul jika sebuah kesulitan besar sedang menderamu. Kau harus paham betul jika semua bisa membaca mimik dan kesedihanmu, termasuk aku. Bukankah dulu kau sering berujar padaku, “Sedih dan cemberut itu membuat rautmu seperti nenek sihir?” Seandainya boleh melempar canda, wajahmu pun sekarang tak jauh dari rupa nenek sihir.

Kemarilah. Jangan menjauh, dan izinkan aku menghiburmu sebentar saja. Sikap ganjilmu tak lantas membuyarkan perasaanku. Aku justru ingin membantumu selayaknya kau selalu ada saat aku membutuhkanmu.

Jika kau rindu tanganku, tak perlu ragu datang kemari. Jika kau ingin sementara sendiri, katakanlah terus terang agar aku bisa memahami.

Seharusnya kita seperti ini: saling membantu dan bahagia via anasahmed.wordpress.com

Ada rindu yang teramat berat padamu, andai kamu tahu. Bukan hanya rindu bertemu: aku rindu ingin berbagi. Mendengar dari mulutmu sendiri tentang apa yang terjadi.

Bila hatimu terbuka, aku pun tak segan membantu hingga segala sedihmu usai. Tapi jika memang kau ingin menyelesaikan sendiri apa yang sedang kau hadapi, katakanlah terus terang dan aku pasti akan paham. Toh kau mengerti aku bukan pribadi yang pemaksa. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padamu sebenarnya.

Cobalah untuk percaya: bagaimanapun, rasa sayangku masih ada. Dan aku pun percaya, kau akan cukup dewasa untuk mulai bersikap terbuka.

Dari kekasihmu,

Yang tak pernah berhenti mengucapkan “Selamat pagi, Sayang!”