6 Agustus 2016 adalah hari yang paling membahagiakan bagi sepasang insan. Muhammad Alvin Faiz, putra sulung Ustad Arifin Ilham, telah resmi menjadikan Larissa Chou sebagai pasangan halalnya. Di usia yang baru menginjak 17 tahun, Alvin memutuskan untuk meminang sang pujaan hati. Muda sekali memang. Keputusan yang membutuhkan keberanian dan Alvin sudah membuktikan hal itu.

Sebagian kita pun berharap takdir yang sama, menikah secepatnya di usia muda. Kelihatannya gampang saja bukan? Namun lagi-lagi menikah tak semudah kelihatannya. Menikah bukan sekedar ingin halal saja. Tapi jauh dari itu, menikah adalah pilihan. Dan selalu ada konsekuensi yang harus dijalankan. Belajar dari pasangan muda yang sedang hangat diperbincangkan ini, pastikan kamu mengerti berbagai konsekuensi ini sebelum memutuskan menikah muda.

Menikah berarti membuatmu harus memiliki penampang sabar yang lebih besar. Jiwa muda yang masih meletup, kadang membuat emosimu tak bisa terjaga

Butuh penampang sabar yang lebih lebar via www.helenaandlaurent.com

Mengarungi lautan rumah tangga memang membutuhkan bahtera yang kuat juga. Dua insan yang berbeda dan baru saja disatukan dalam cinta memang tak lepas dari ujian pembuka. Kamu yang memilih untuk menikah muda sudah tahu konsekuensinya. Emosi yang labil tak bisa kamu abaikan begitu saja. Wajar memang, karena kamu baru akan menginjak dewasa. Bagaimana menyikapinya adalah hal yang terpenting untuk saat ini.

Urungkan niat dulu jika dalam bayanganmu kehidupan setelah menikah bisa terus bahagia. Ada perjuangan berat yang harus kamu lewati sebagai pasangan muda

Ada tantangan berat bagi pasangan muda via www.eagerheartsphotography.com

Advertisement

Layaknya kehidupan setiap insan, akan ada masa dimana kamu harus melalui ujian. Jika kamu berhasil melalui ini maka level kehidupan rumah tanggamu juga akan meningkat setelahnya. Kuat-kuatkan hatimu dan pasanganmu. Ujian juga tak selamanya mudah. Karena dalam doa yang dipanjatkan, kita meminta untuk ditunjukkan jalan yang lurus, bukan jalan yang mulus.

Menikah mengharuskanmu menghilangkan ke-aku-an yang selama ini bersarang di diri. Harus ada kemauan untuk saling kompromi

menghilangkan ke-aku-an via www.juliepepin.com

Sudah tak ada lagi aku dan kamu. Sejak besanding di pelaminan, yang ada hanya kita. Bukan lagi aku butuh atau kau butuh tapi apa yang kita butuhkan. Belajar dari hal-hal kecil yang mengingkatkan bahwa kamu tak lagi sendiri. Ada seseorang yang menjadi tanggung jawabmu dunia akhirat. Jika kamu berada dalam sebuah masalah, jalan keluarnya bukan lagi demi kebaikanku atau kebaikanmu. Tapi ini demi kebaikan kita.

Dan jika sudah rezekinya, kamu dan pasangan harus siap jadi orangtua. Ada tanggung jawab yang harus kalian pikul selamanya

Tanggung jawab yang kamu pikul selamanya via www.juliepepin.com

Setelah Tuhan memercayakanmu sang buah hati, tentu dia adalah prioritasmu yang pertama. Kebutuhan anak di atas kepentinganmu dan pasangan. Kamu harus mulai merencanakan masa depan mereka sejak lahir ke dunia. Jika biasanya kamu bebas kemana-kemana, kini sudah ada tanggungan yang tak bisa kamu tinggalkan begitu saja.

Jika bagimu menikah adalah sumber penyelesaian masalah, nanti justru kamu yang tak akan bisa siap menghadapi tantangan yang menghadang

Aku udah capek dengan hidupku yang selalu dilanda kesusahan! Aku capek dengan semua kesulitan ini! Aku mau nikah aja!

Barangkali jika pernah terbersit dalam anganmu tentang hal itu, segera buang niat itu jauh-jauh. Menikah bukanlah sebuah penyelesaian masalah. Masalahmu tidak akan selesai begitu saja dengan pernikahan. Segala masalah hidupmu tak akan pernah terselesaikan dengan ijab kabul tanpa kamu sendiri yang menyudahinya.

Lagi-lagi yang perlu kau tanamkan, bahwa pernikahan tak sekedar penyatuan dua insan dalam ikatan halal. Rumah tangga adalah level kehidupan selanjutnya. Bagaimana kamu akan menghadapi kehidupan rumah tangga jika kehidupanmu sebelumnya tak mampu kau terima?

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me