Banyak orang yang bilang, menikah duluan itu sebuah keberuntungan. Karena katanya menikah membuat kita punya teman seumur hidup yang bisa terus menemani dalam suka maupun duka. Menikah juga dianggap sebagai akhir dari perjalanan. Sudah ada seseorang yang mau membangun masa depan bersama, menopang di saat tubuh melemah, serta dia yang mau memberikan pelukan berapapun kita butuhkan. Kita seakan tak butuh apa-apa lagi.

Padahal, menikah lebih dari itu. Menikah tidak pernah menjadi akhir perjalanan, justru ini menjadi awal babak baru dalam hidup kita.

Menikah jelas langkah besar. Memutuskan menikah berarti harus siap juga dengan segala konsekuensinya yang menanti di belakang.

Seringnya banyak yang bilang kami beruntung bisa nikah duluan. Setiap malam bisa bobo halal sama pasangan

Udah halal.. via kiranaphotography.com

Setelah menikah, perbedaan paling kentara apalagi kalau bukan setiap malam saat tidur sudah ada yang menemani. Tak hanya itu, melakukan hubungan yang katanya jadi bukti cinta kini tak lagi tabu untuk kami lakukan. Semua sudah aman dilakukan dengan cap halal, selepas ijab qobul atau pemberkatan.

Advertisement

Banyak orang bilang kami beruntung karena ini. Tapi menikah bukan soal bobo halal dan aktivitas seksual saja bukan?

Hubungan kami dilihatnya selalu manis. Tak sedikit yang iri. Konon #RelationshipGoals kalau bisa menikah muda seperti kami

Manis, banyak yang ngiri via nouba.com.au

Tak banyak yang tahu perjuangan kami, hingga akhirnya sampai di pelaminan. Semua dianggap berjalan mulus begitu saja, tanpa ada rintangan. Hubungan kami dibilang sangat manis, membuat banyak orang iri. Karena tak semua bisa bertahan pada hubungan bertahun-tahun, hingga akhirnya mampu melegalkan hubungan.

Padahal ada hari-hari yang harus kami lalui dengan tangis atau ego yang kekeuh tak mau dikalahkan. Ada masa kami mau hampir saja menyerah. Bedanya, kami tak pernah memperlihatkan masa-masa ini di depan publik.

Memang sih, menikah duluan membuat kami lebih cepat punya partner serba lengkap. Mulai dari partner bertukar cerita hingga beradu argumen

Paket partner super lengkap via nouba.com.au

Mempunyai pasangan yang sudah sah di mata agama dan negara, sedikit banyak memang membuat hati tenang. Sudah ada partner paket lengkap. Semua yang kami butuhkan, ada di sosoknya. Kami tak perlu takut sendirian lagi, setiap kali ada di titik terendah dalam hidup. Akan ada tangan suami yang mampu menopang kami untuk berdiri lagi. Menikah memang memberikan kebahagiaan yang tidak lagi bisa tergambarkan.

Dari berbagi cerita hingga adu argumen sudah kami lakukan bersama orang yang tepat. Suami yang tak akan beranjak dari sisi, meski sesekali amarah menguasai.

Tapi nikah duluan juga membuat kami bisa tua lebih cepat ~

Banyak yang harus dipikir via elizabethwellsphoto.com

Ah, tapi tak banyak yang tahu. Menikah kadang bisa membuat kami tua lebih cepat. Bagaimana tidak, kawan-kawan kami lainnya yang masih menyandang status single, bisa bersenang-senang sesuai dengan keinginan mereka tanpa ada beban.

Sedangkan kami, setelah menikah dituntut menjadi istri yang bijak dalam segala hal dalam urusan rumah tangga. Banyak hal yang harus dipikirkan membbuat kami kadang jadi tua duluan dibanding teman-teman seumuran~

Saat yang jomblo masih bebas mau nongkrong dimana tiap akhir pekan, kami sudah dihadapkan pada rencana KPR rumah

Banyak yang harus dipikirkan via nouba.com.au

Kalau dulu saat masih single, kami juga masih bebas menghabiskan uang untuk nongkrong bersama teman di cafe-cafe hits. Harga mahal nggak masalah, asal bisa nampang di sosial media. Namun menikah membuat kami dan suami berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan yang lebih penting lagi.

Alih-alih mengeluarkan uang untuk foya-foya, kini kami harus menghemat sedemikian rupa untuk bisa menabung agar bisa membayar cicilan KPR rumah. Ada hal yang dulunya utama, kini harus dikesampingkan. Dan ada hal yang dulunya tak pernah kami pikirkan, kini menjadi hal yang paling penting untuk kami rencanakan.

Berantem sama pasangan bukan lagi karena gagal kencan, tapi masalah mengatur pengeluaran bulanan

Setelah nikah, kencan bisa kapan saja via nouba.com.au

Setelah berumah tangga, entah mengapa pengeluaran bulanan bisa saja tiba-tiba membengkak. Di saat yang lain masih dengan entengnya setiap bulan membeli komestik terbaru, kini kami harus memutar otak untuk mengelola keuangan rumah tangga setiap bulannya. Belanja bulanan tak boleh lagi seenaknya. Barang-barang yang ada di list belanjaan bukan lagi yang kita inginkan, tapi harus kita butuhkan.

Pertengkaran soal mengatur pengeluaran bulanan sesekali tak bisa dihindari. Saat suami mempertanyakan uang bulanan digunakan untuk apa saja, hingga habis sebelum akhir bulan. Persoalan gagal kencan tak lagi jadi hal yang perlu diributkan. Sudah ada yang lebih pelik dari ini.

Soal karir tak bisa lagi jadi otoritas pribadi. Selepas menikah, harus ada yang namanya kompromi

Harus selalu ada kompromi via nouba.com.au

Setelah menikah, karir juga menjadi salah satu hal yang tak boleh luput dibicarakan dengan pasangan. Terutama untuk para istri yang bekerja. Meski dulu karir selalu menjadi yang nomor satu dan sebagian dari kami ambisius soal ini, setelah menyandang status istri soal karir tak lagi bisa menjadi otoritas pribadi.

Pembahasannya harus melewati sebuah kompromi dengan suami. Pilihan tetap berkarir setelah menikah atau resign dan menjadi ibu rumah tangga tak bisa dielak. Kami harus memilih dan siap dengan segala konsekuensi.

Belum lagi kalau dinyatakan positif dan sebentar lagi punya anak, selamat datang hari-hari tanpa istirahat

selamat datang hari-hari kurang istirahat via colbyelizabethphoto.com

Ini momen yang paling ditunggu sekaligus paling menegangkan. Hasil dari bobo halal membuahkan hasil juga. Ketika kami dinyatakan positif hamil. Lalu bayangan tentang 9 bulan lagi akan ada bayi mungil yang menambah kebahagiaan rumah tangga kami dan suami. Bahagia? Jangan ditanya lagi.

Tapi tampaknya, selalu ada kesulitan yang menyelinap di antara kebahagiaan. Memiliki anak, nantinya membuat kami dan suami harus kuat begadang di setiap malam saat anak kami merengek minta susu, mengganti popok, dan masih banyak perjuangan sebagai orangtua baru lainnya. Membayangkan saja sudah membuat kami harus menambah tenaga, perjuangan belum berakhir dan tak pernah berhenti sampai disini.

Menikah bukan ajang balapan. Siapa yang menikah lebih dulu tak serta merta jadi pemenangnya, kami cuma lebih siap duluan

Bukan pemenang via nouba.com.au

Menikah bukan soal siapa lebih dulu dari siapa. Atau siapa menyusul siapa. Menikah soal siapa yang lebih siap duluan. Kami yang menikah duluan juga tak akan pernah menjadi pemenang. Siapa yang jadi pemenang akan dibuktikan seiring berjalannya waktu, siapa yang paling bisa mempertahankan rumah tangga tetap harmonis. Dia yang menikah duluan tidak selalu akan lebih bahagia dibandingkan dia yang menikah belakangan.

Tapi kalau ditanya bagaimana rasanya menikah duluan, kami tetap bersyukur. Bisa secepat ini ditempa jadi dewasa

Secepat ini jadi dewasa via kiranaphotography.com

Namun pada akhirnya, bagaimanapun beratnya bahtera rumah tangga yang kami harus hadapi, kami toh tetap merasa bersyukur. Pernikahan ini menempa kami lebih cepat menjadi dewasa. Kami dihadapkan banyak persoalan yang menuntut kami bijak dalam berpikir dan bersikap.

Kehadiran suami dan anak membuatu sempurna sebagai seorang wanita. Hiruk pikuk dunia anak muda yang kami tinggalkan lebih dulu ini tak membuat kami menyesal, sekali waktu pun. Kehangatan yang keluarga kecil kami dapatkan ini, tak akan mau kami tukar dengan apapun.

Kebahagiaan makin memuncak, ketika dalam suatu kesempatan suami mengatakan,

Terima kasih telah memimpikanku di setiap malammu. Mulai detik ini, giliranku mewujudkan segala mimpi indahmu.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me