Dari beragam spesies cowok di dunia ada beberapa jenis cowok yang tidak layak kamu jadikan pacar. Alasannya sederhana. Mereka ini sering meninggalkanmu seenaknya. Pergi ke tengah laut demi menyelamatkan pasokan minyak dunia. Membiarkanmu menunggu dengan cemas berminggu-minggu lamanya.

Mereka adalah golongan cowok Oil and Gas yang memang unik dan berbeda.

Saran Hipwee , gak perlulah menjadikan mereka pacar. Cuma makan hati dan perasaan. Cowok Oil and Gas ada bukan untuk dipacari. Karena mereka lebih punya bahan dasar buat jadi suami….

1. Bersama mereka kamu akan belajar banyak soal mengikhlaskan. Duty call berarti kesiapan untuk melepaskan

Duty call, berarti keikhlasan melepaskan via www.instagramphotom.com

Terutama buat cowok-cowok oil and gas yang kerja di offshore, panggilan kerja bisa datang kapan saja. Sementara kamu sudah membayangkan apa yang bisa kalian lakukan bersama setelah ditinggal 4 minggu, kamu harus merelakan dia kembali ke rig saat ada telpon yang mengabarkan bahwa ada struktur lumpur yang mengalami kegagalan.

Advertisement

Bersama dia kamu belajar banyak tentang keihlasan dan dukungan. Bahwa hubungan ternyata bukan tentang bersama sepanjang waktu. Melainkan tentang menjaga komitmen meski sering ada jeda di masa tak bisa bertemu.

2. Orang ini meninggalkanmu berminggu-minggu. Lokasi yang buruk membuatnya tak bisa mengabarimu. Tapi dia ada — kamu tahu

..tapi dia ada. Kamu tahu via careers.conocophillips.com

Tuntutan kerja yang berat membuat kalian terpaksa berpisah berminggu-minggu. Kadang dia bisa meninggalkanmu selama 14 hari, bahkan sesekali 4 minggu penuh. Di masa-masa itu bukan hanya tak bisa bertemu. Kondisi lokasi yang buruk juga sering membuat kalian tidak bisa berkomunikasi seperti pasangan kebanyakan.

Ada masa dia hanya bisa menghubungimu via telepon di rig saja (yang harus mengantri lama karena harus bergiliran dengan crew rig lain.) Di lain kesempatan dia hanya bisa dihubungi lewat surat elektronik karena sinyal WiFi tidak sampai ke kamar akomodasi. Kalian jadi pasangan jadul yang harus menunggu sekian jam untuk saling mengabari.

Bisa di sampingnya setiap hari itu mewah sekali. Tapi saat dia di rig dan tidak di sisi kamu tahu dia tidak pernah pergi.

3. Kadang kamu ingin memeluknya erat-erat. Beban kerjanya jelas berat. Tapi dia berusaha selalu dekat

Beban kerjanya berat. Dia hanya berusaha selalu dekat via sentree3.wordpress.com

Dalam chat singkat, “Apa kabar?” yang dia kirimkan di tengah shift kerjanya kamu tahu kalau dia berusaha tetap memikirkanmu di sana. Meskipun sedang menghadapi tekanan klien yang meminta well end report lebih cepat, atau partner kerjanya sudah mulai membuat dahi berkerut dia masih meluangkan waktu untuk mengajakmu bicara.

Tidak mudah membagi konsentrasi di tengah tekanan dan kondisi rig yang gampang bergoyang. Tapi dia berusaha selalu ada.

4. Jam kerjanya yang absurd menujukkan komitmen dan ketangguhan. Pekerjaan ini jelas bukan untuk orang sembarangan

Pekerjaan ini jelas bukan untuk orang sembarangan via hmgf.fmipa.ugm.ac.id

Tidak banyak orang yang bisa bertahan bekerja di tengah laut, memulai shift jam 6 pagi dan bertahan sampai jam 6 sore. Di tengah kondisi cuaca yang panas dan lembab. Selama sekian minggu, tanpa bertemu dengan orang-orang tersayang.

Belum lagi saat shift malam tiba. Hidupnya terbalik seketika. Dia baru mulai bekerja jam 6 sore, dan masih harus terjaga sampai jam 6 pagi. Demi memastikan seluruh operasi pengeboran minyak berjalan lancar. Pekerjaan ini membutuhkan komitmen dan ketangguhan tingkat tinggi. Tidak semua orang mampu melakoni ini.

5. Saat berada di rig, he belongs trully to the rig. Tapi saat off dan punya banyak waktu maka dia sepenuhnya untukmu

When he is in the rig, he belongs to the rig via blog.djarumbeasiswaplus.org

Di sampingnya hidupmu akan seru sekali. Saat dia sedang berada di rig kamu akan merasa sedikit kehilangan. Hidupnya habis untuk tugas, shift, tuntutan klien dan pekerjaan.

Tapi saat dia kembali, pria ini sama sekali tidak akan terganggu. Pekerjaan dilupakannya. Klien dan perusahaan tak lagi dia inginkan ada di kepalanya. Meski hanya beberapa minggu sebelum kembali melepasnya, waktu bersama kalian akan jauh lebih berkualitas dari pasangan lainnya.

6. Dalam kekhawatiranmu soal kesehatannya. Apakah dia cukup tidur di sana, berapa banyak gelas kopi yang malam ini ditenggaknya — di situ tumbuh cinta

Di dalam percakapan sederhana di situ tumbuh cinta via tumblr.com

Orang boleh tidak paham bagaimana cinta ini bisa tumbuh subur di tengah keterbatasan waktu. Kalian jelas jarang bertemu. Namun pria ini sukses memiliki hatimu.

Cinta kalian tumbuh dengan sederhana. Di tengah jarak dan bentangan laut yang ada. Dia tumbuh subur dalam rasa khawatir soal kesehatannya. Apakah waktu tidurnya cukup di sana, terlalu banyak minum kopikah dia? Tidak lupakah dia minum vitamin sebelum memulai shift malamnya?

Rig, jadwal shift, dan berbagai keterbatasan malah memperkuat perasaan. Sungguh ini tak pernah kamu bayangkan.

7. Selamanya rig dan panggilan kerja akan terus ada. Jarak, jadi sahabat kalian berdua. Pria ini mengajarimu tidak membenci pekerjannya. Dia membuatmu turut mencintainya

Dia, membuatmu turut mencintainya via www.conocophillips.com

“Kalau boleh aku gak usah dikasih apa-apa deh Yang. Tapi kamu di sini aja.”

“Hehe. Ya kalau aku di sini terus gak bisa kasih kamu apa-ada dong? Udaah. Di sana juga aku kerja kok.”

Rengekan manja macam itu selalu muncul setiap dia akan berangkat. Jarak, dalam hubungan ini, akan selalu jadi kawan dekat. Bedanya kali ini bersama pria oil and gas ini hatimu tidak lagi patah setiap melihatnya pergi. Dia mengajarimu cara menghargai kebersamaan. Dia membuatmu tahu kapan harus melepaskan dia sepenuhnya untuk pekerjaan.

Saat dia tidak di sisi, toh tangan doamu menjaganya. Kamu tahu dia tidak akan ke mana-mana.

Pria yang satu ini jelas bukan untuk dipacari. Membangun ikatan bersamanya membutuhkan banyak investasi. Dia dan kamu jelas tidak main-main membangun hubungan dengan orang yang tidak bisa direngkuh setiap hari. Kalau sama cowok oil and gas sih mending jadi suami-istri.

Atau tidak sama sekali 🙂