Bagiku, malam natal memang selalu terasa spesial. Ya, malam natal itu berkesan meski aku tak ikut merayakan. Tanpa harus pergi ke gereja dan ikut misa, biasanya aku akan sekadar duduk tenang menikmati suasana. Memanggil kenangan-kenangan lama yang mustahil untuk ku lupa…

Malam natal adalah kali pertama aku dan orang tuamu bertemu muka. Meski kau berusaha bersikap biasa, toh aku tetap bisa melihat kegelisahan di wajah mereka.

pertemuan pertama dengan orang tuamu via vk.com

“Sayang, besok main ke rumahku ya…”

Aku tak pernah terlalu serius menanggapi ajakanmu, toh kalimat itu bukan kali pertama keluar dari mulutmu. Ketika itu kita sudah lebih dari enam bulan pacaran, dan selama itu pula kita sama-sama tak pernah ribut perkara ‘kenalan dengan keluarga’.

Bulan demi bulan kita lewati bersama. Aku harus jujur bahwa kehadiranmu memang berhasil membuatku tergila-gila. Rasa-rasanya aku tak butuh apa-apa lagi, cukup ada kamu di sisi dan hidup sepertinya terlalu indah untuk dijalani.

Advertisement

Aku tahu malam natal adalah waktu yang spesial bagi kau dan keluargamu. Tapi, aku tak menyangka bahwa ibumu adalah anak tertua sehingga seluruh keluarga besar akan berkumpul bersama di rumahmu. Meski sebisa mungkin kau berusaha menenangkan, tetap saja aku menginjak rumahmu dengan tegang. Saat aku memperkenalkan diri dan menyebutkan nama, aku melihat raut wajah mereka yang tak bahagia.

Setelah malam itu, banyak hal yang pasti menguji kesabaranmu. Meski bukan dari mulutmu, aku pun tahu kalau hubungan kita tak mendapat restu.

aku tahu, hubungan kita tak dapat restu via www.pinterest.com

Sepulang dari rumahmu, semua masih baik-baik saja. Kau mengajakku ke warung makan yang biasanya. Kita makan nasi goreng favorit, sambil mengobrol soal suasana rumahmu yang tadi mendadak berbeda. Kau dan aku bisa leluasa melepas tawa, mengingat betapa beberapa jam tadi rasanya seperti neraka.

Aku tahu, mempertemukan aku dan keluargamu tentu bukan perkara mudah. Kau pasti sudah masak-masak mempertimbangkan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Nasihat, saran, larangan hingga tekanan pun harus siap dihadapi. Sementara di depanku, kau selalu bersikap seakan semua baik-baik saja. Padahal…

“Aku cukup tahu diri, Sayang. Orang tua bahka keluarga besarmu jelas tak satu pun yang merestui kehadiranku…”

Kita pernah berikrar tak mau menyerah sebelum berjuang. Kita sepakat bertahan hingga malam natal di tahun-tahun berikutnya dilewatkan.

kita pernah sepakat untuk bertahan via www.tumblr.com

Kau dan aku pernah sama-sama keras kepala. Kita pun pernah jadi dua orang paling naif di dunia. Atas nama cinta dan rasa sayang yang dipunya, kita sepakat akan berjuang bersama. Segala perbedaan pasti bisa dikompromikan dan dinegoisasikan. Kita yakin akan bisa menemukan jalan tengah yang paling membahagiakan.

Ya, kita memang sudah berjuang,. Momen natal kali itu adalah yang pertama, dan kita pun masih bersama di tahun-tahun berikutnya. Ada saja hal-hal seru yang kita lakukan untuk melewatkan malam natal. Sepulang pergi ke gereja dengan keluarga, biasanya kau akan menjemputku untuk makan malam berdua. Kita juga pernah pergi traveling bersama, naik gunung atau camping tepat ditanggal 24 dan 25. Sekali lagi, natal memang selalu terasa spesial bagiku.

Sayangnya, kau dan aku ternyata tak cukup punya cadangan tenaga. Tepat di malam natal yang kelima, kita sama-sama lelah dan sepakat untuk jalan sendiri-sendiri saja.

ternyata, kau dan aku memilih berpisah saja via weheartit.com

Bohong jika kau dan aku merasa semua baik-baik saja. Sementara, menjalani hubungan beda agama jelas jadi hal paling berat yang menguras tenaga dan pikiran kita. Selain tekanan dari keluarga dan orang-orang di sekitar, masa depan adalah yang paling kita risaukan.

Ibarat melewati sebuah jalan panjang, kelak kita pun akan sampai pada titik persimpangan. Di situ kita harus masak-masak membuat keputusan, antara melanjutkan hubungan atau menyerah pada keadaan. Dan ternyata, lihat dimana kita sekarang…

“Selamat Natal, mantan kesayangan. Semoga kau melimpah berkah dan kebahagian…”