“Jalan bareng, iya. Malam mingguan juga sama dia terus. Hayooo, ngaku! Kamu pasti udah jadian sama Edo, ya?”

“Hah? Nggak kok, biasa aja.”

Sudah lama kamu mengenal dia, begitu pun sebaliknya dia. Jalan bareng, apalagi malam mingguan sudah tak terhitung banyaknya. Kamu dan dia sama-sama sudah nyaman. Orang-orang yang melihat kalian pun merasa senang. Pacaran? Tidak.

Walaupun orang sekitar kalian mungkin sibuk bertanya dan meminta kejelasan, sebenarnya kamu masih merasa nyaman. Setidaknya untuk saat ini, HTS adalah model hubungan terbaik karena berbagai alasan.

1. Kata orang: the easier to get, the easier to be forgotten. Gak asyik kan kalau buru-buru punya komitmen?

Kenalan aja baru kemaren, masak udah minta komitmen? via marketech360.com

Tak perlulah terlalu cepat memikirkan hubungan yang lebih tinggi, apalagi komitmen untuk cepat nikah. Terlebih kalian baru saja saling mengenal. Walaupun kamu tertarik padanya, pasti kamu akan merasa shock. Apa sih jaminannya kalau punya hubungan yang lebih jelas di depan publik? Pasti bahagia? Bangga? Yakin bisa sebahagia itu sama orang yang baru dikenal? Tahu dari mana? Kalau tidak ada jaminan seperti itu, alangkah baiknya saling mengenal satu sama lain dulu. Seiring itu, kalian juga menumbuhkan percikan-percikan dan rasa membutuhkan satu sama lain.

2. Salah satu dari kalian masih tertutup, terutama tentang latar belakang. Maklum, kalian punya masa lalu yang panjang

Advertisement

Susah lo menjalin hubungan dengan orang yang tertutup. Kalau ortumu tanya tentang latar belakangnya, kamu mau jawab apa? via www.funlearning.co.jp

Kegagalan hubungan cintamu di masa lalu, atau kegagalan yang pernah dia rasakan, masih terasa menyakitkan. Meski kamu sudah dapat melupakan sosok-sosok di balik itu semua, rasa traumamu belum tentu hilang dalam sekejap. Kamu masih perlu waktu untuk merasa bebas dan melupakan segala ketakutan-ketakutan di masa lalu. Wajar saja jika kamu nyaman dengannya, tapi enggan mengikat status yang pasti. Selagi masih muda, nikmati saja dulu kebebasan yang mungkin kamu pilih.

3. Mungkin saja kamu masih bersikap hati-hati. Banyak yang menasihati supaya tak terikat dulu dengannya saat ini

Kamu sering mendengar dari orang-orang dan sahabat sendiri kalau dia punya sifat tidak baik. via www.beritainspirasi.com

“Kamu yakin jalan sama dia?”

“Memang kenapa?”

“Dia itu playboy, lo. Udah gitu, dia suka kasar sama mantannya dulu. Kamu yakin?”

Gosip, selentingan, kabar burung, atau apapun itu namanya memanglah sesuatu yang tidak perlu kamu percaya sebelum kamu melihatnya sendiri. Namun jika selentingan itu sudah jadi rahasia umum, sampai-sampai sahabatmu juga menyampaikan langsung, ada baiknya kamu waspada. Sebelum terlalu jauh berekspektasi tinggi dan kecewa karena dia memang tak cukup baik, kamu perlu pasang tameng pengaman. Salah satunya dengan tarik ulur dan tidak buru-buru mengganggapnya sebagai nomor satumu.

4. 24 jam amat disayangkan hanya untuk mengurusi cinta. Kamu bahkan punya banyak target seperti mengejar cita-cita dan membahagiakan orang tua

Cita-citaku yang utama. via 2.bp.blogspot.com

“A: Kalau kamu nanti diterima kerja di ibukota gimana? Kamu bakal ingat aku terus atau enggak?”

“B: *gak jawab. emang kamu siapa sih?*”

“A: Jawab dong! Iya apa enggak?”

“B: Aku gak tahu.”

“A: Aku doain kamu diterimanya di sini aja ya. Atau di kota sebelah. Kalau akhir pekan bisa pulang dan ketemu.”

Siapa yang tidak jengkel ketika kamu sedang mewujudkan cita-cita dan berusaha membahagiakan orang tuamu, dia justru malah membatasimu dengan aneka aturan? Atau ketika kamu sedang sibuk bekerja, dia malah terus-terusan meminta perhatianmu terus dengan sms, bbm, atau aplikasi chatting lainnya? Belum jadi pacar yang serius saja sudah begitu. Bagaimana nanti kalau sudah serius? Lebih baik jangan terlalu menganggap serius hubunganmu dengan orang yang terlalu mengekang masa depanmu.

5. Fleksibilitas adalah kebebasan yang tak ternilai harganya. Ini berlaku jika kamu adalah orang yang punya segudang aktivitas

Bebas jalan ke mana aja tanpa harus ada tuntutan atau aturan ketat. via www.motto.net.ua

Terkadang menjadi seorang jomblo itu menyenangkan. Bayangkan kamu bebas pergi dan melakukan segala aktivitas tanpa harus ijin atau merasa diawasi oleh pasanganmu! Bagi yang memiliki kehidupan profesional yang tinggi, kamu tentunya dituntut memiliki waktu yang selalu siap sedia. Di samping itu, kamu juga akan bertemu banyak orang dan itu tidak hanya sesama jenis. Dalam situasi seperti ini, fleksibilitas adalah sesuatu yang perlu dimiliki oleh pasangan. Jika pasanganmu tidak memiliki itu, hubungan yang mengalir jadi alasan untuk tidak membuatnya terlalu kecewa akibat banyaknya janji yang terabaikan.

6. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana Tuhan mengatur hidupmu. Terlalu jumawa rasanya untuk berbangga hati di awal, namun kecewa di akhir

Meski bahagia, kamu tidak pernah tahu sampai mana Tuhan menentukan waktu. via www.motto.net.ua

Kamu boleh bangga pernah mendapatkan pasangan yang sempurna. Kamu bisa menggandengnya di setiap undangan pernikahan yang kamu kunjungi. Kamu juga dapat mengenal kedua orang tuanya kala kamu menjadi pendamping wisudanya. Tapi, bagaimana kalau kalian menemukan tantangan? Apa kalian sudah sekuat itu menerima kompleksitas hidup yang diujikan oleh Tuhan? Bagaimana kalau kemudian Tuhan menakdirkan jalan kalian hanya sampai di situ saja? Mau bilang apa?

7. Ngapain nembak? Kayak anak sekolah aja!

Pacarannya anak SMA cenderung labil dan banyak gejolak. via image1.malesbanget.com

Sebagian orang merasa bahwa prosesi “menembak” sebagai prasyarat jadian, tidaklah berlaku untuk usia dewasa. Orang dewasa rupanya punya prinsip berbeda dalam menjalin hubungan. Bagi mereka, kata-kata cinta apalagi status tidaklah berarti tanpa perbuatan. Apa artinya dia menembak kamu dengan makan malam super romantis, namun kemudian ada sejumlah wanita di belakangnya yang juga diperlakukan sama?

8. Beberapa orang justru lebih lancar dalam hubungan ketika tidak menetapkan banyak target. Pelaminan seperti tinggal menunggu waktu saja

Banyak lo yang santai dan ngalir aja. Tahu-tahu mereka udah sebar undangan aja. via ashtonphotography.co.uk

Pernah menemui pasangan yang anehnya tidak pernah jadian? Atau status hubungan Facebook mereka kosong-kosong saja? Lalu seketika kamu dikagetkan dengan undangan atas mereka yang telah tersebar luas?

Kejadian seperti itu memang ada. Selama menjalankan hubungan tanpa status, mereka justru terlihat bahagia dan kompak. Tak hanya bagaikan pasangan kekasih, mereka bisa menjadi sahabat satu sama lain. Karena mereka tidak menerapkan banyak target, hubungan mereka terasa lebih ringan. Seperti tanpa beban dan tuntutan. Tantangan yang hadir justru menjadi kejutan-kejutan yang saling merekatkan. Semua pun lancar-lancar saja sampai kamu melihat mereka bersanding di pelaminan. Sah-sah saja kok bila kamu punya impian yang sama dengan mereka, selama hubunganmu sehat.

Mau menjalin hubungan tanpa status atau tidak, semuanya kembali pada niat dan kesepakatanmu dengannya. Tidak ada paksaan bagi kamu yang membaca tulisan ini. Selama kamu tahu apa yang terbaik untuk hubunganmu dan bisa mempertanggungjawabkan, sah-sah saja kamu menjalani hubungan yang mengalir seperti air. Tinggal bagaimana kamu menentukan deras atau kecilnya aliran.