Kamu sudah membuatku menunggu terlalu lama. Jika hati ini ruang lapang, kini sudah terlalu banyak kursi dan meja di sana. Hatiku berubah jadi ruang tunggu yang penyabar. Kamu bisa datang kapan saja. Aku tetap akan menyambutmu dengan bahagia.

Tapi kini aku mulai bertanya sampai kapan menunggu harus kulakukan tanpa banyak tanda tanya di kepala. Haruskah hubungan ini kusudahi? Bila kamu memang tak ada niatan untuk menikhi.

Berhentilah tersenyum, aku tak bercanda tentang betapa menyakitkannya menunggumu

Lelah menunggumu via eharmony.com

Menunggumu adalah hal yang sangat menyakitkan untukku. Dengan jutaan masalah lainnya di tanganku aku masih harus memikirkan akankah kamu tetap bersamaku. Bukankah aku sudah terlalu lama menunggu?

Aku telah memberi hati, tapi kau mengabaikan upayaku. Apa cinta sebercanda itu?

Jangan minta lebih! via seventeen.com

Advertisement

Kau begitu ingin masuk dalam duniaku, tapi bagaimana aku bisa memberikannya jika tanganmu tak menyambut untuk menerimanya? Cinta bukan bahan bercandaan yang bisa kau bolak-balikkan seenaknya. Ini hati bukan kertas yang bisa kau robek seenaknya.

Berjuang memang butuh waktu. Tapi demi kamu aku tak keberan menunggu

Aku tahu kamu pun sedang berjuang via financialspots.com

Siapa bilang aku tak tahu bahwa kamu pun sedang berjuang sekarang. Aku pun paham jika berjuang itu butuh waktu, tapi tak bisakah kau melihat keadaanku? Tidak bisakah kita berjuang saja setelah resmi mengikat satu sama lain?

Mungkin aku mencintaimu terlalu lama. Hingga aku bisa berpikir meninggalkanmu sekarang itu tak apa

Haruskah aku melupakanmu via understandingrelationships.com

Kita sudah melewati banyak hal dengan berbagai macam emoji, berpisah denganmu lalu kembali lagi bukan hal yang baru. Aku benar-benar mencintaimu, tapi entah kenapa di detik-detik terakhir ini aku ingin berhenti dan melupakanmu.

Kita akan menjadi sejarah. Kamu adalah bayangan yang menutupnya

Kamu yang menutup kisah kita via organizedlunacy.net

Biarlah kisah kita menjadi kenangan dan tak lagi muncul dalan hati selain berupa rasa sakit. Aku tahu bahwa aku pun tak akan semudah itu menutp kisah ini karena selalu kau yang muncul di permukaannya, tapi aku tetap akan berusaha.

Rasakanlah sakit itu karena aku memang sedang mencoba menyakitimu. Aku sedang protes pada jiwamu yang tak punya keberanian. Bersediakah kau mengorbankanku pada ketakutanmu yang tak beralasan itu?

Jika memang tidak serius denganku, silakan pergi. Toh kamu sudah mempersiapkanku dengan terus-terusan menyakiti

Pergilah! via bokeh.digitalrev.com

Aku tak punya hak untuk menahanmu atau memaksamu menikahiku. Yang bisa kulakukan hanya menyudahi semua ini agar aku tak lagi terkurung disini. Jalanilah hidup seperti yang kau ingini, kebebasan tanpa paksaan akan kau miliki seutuhnya.

Hanya satu yang aku sesalkan dari keputusan ini, bahwa kita bahkan tak bisa mencoba untuk bersatu ketika cinta ini begitu kuat. Dan semua ini hanya karena keberanianmu yang tak hadir dalam kasih cinta kita. Aku tak tahu harus mengakhiri ini dengan apa, karena kalimat selamat tinggal pun masih terlalu baik untukmu