Dalam hubungan pertemanan dengan lawan jenis, seringkali kamu tertarik sama satu temen kamu yang menurutmu mempesona. Tapi setelah kamu banyak menginvestasikan waktu dan tenaga (baca: berkorban) demi mendapatkan perhatiannya, eh dia malah nganggep kamu temen doang. Sakit hati, gue!

Sebenarnya kalo kamu rela di-friendzone sama si dia, ya gak salah juga sih, namanya juga cinta. Tapi mau sampai kapan? Nah, Hipwee mau ngasih sedikit tips yang mungkin bisa membantu melepaskan kamu dari jeratan friendzone:

1. Stop jadi orang yang terlalu baik

Stop terlalu baik via www.how-to-do-a.net

Umumnya, orang yang rentan di-friendzone adalah mereka yang dianggap “cowok/cewek manis”. Bukan manis mukanya ya, emangnya mukamu donat? Maksudnya cowok/cewek manis di sini adalah kamu selalu memperlakukan si dia begitu baik. Kamu selalu berusaha membuat dia merasa nyaman.

Kamu tertarik sama dia, jadi wajar kalo kamu ingin selalu ada buat dia untuk mendengarkan keluh kesahnya. Tapi kamu gak mau (atau gak berani) berusaha lebih untuk “merayunya” ke dalam hubungan yang lebih jauh. Kamu enggan merusak persahabatan kamu dengan menunjukkan ketertarikanmu padanya, atau dengan bergerak lebih jauh -misalnya nembak dia.

Advertisement

Kamu akan cenderung mengesampingkan perasaanmu dan menganggap perasaannya jauh lebih penting. Ketika si dia berkeluh kesah soal perasaannya ke orang lain, kamu dengan senang hati mendengarkan, meski dalam hati kamu menangis. Padahal perasaanmu juga penting, dan menyampingkan perasaan sendiri lama-lama bisa bikin kamu minder lho.

Solusi:

Berhentilah terus-terusan berusaha selalu ada untuknya. Jadilah orang yang misterius dan susah ditebak, karena orang cenderung lebih mudah menyukai orang yang membuat mereka penasaran. Gak usah terlalu takut membuat mereka gak nyaman atau kecewa, karena perasaanmu sama pentingnya. Carilah kesibukan yang gak melibatkan si dia.

2. Jangan terlalu mengemis cinta

Stop mengemis cinta via www.huffingtonpost.com

Nah, yang ini justru kebalikan yang di atas. Kamu bukan tipe orang yang pasif seperti di atas. Malah, kamu udah ngasih banyak sinyal cinta untuk si dia. Tapi tetap aja di-friendzone.

Well, coba kaji ulang sikapmu ke dia, sinyal cinta yang kamu kasih berlebihan gak?

Seringkali kamu di-friendzone sama gebetan karena sikapmu ke dia sudah berlebihan: begitu putus asanya kamu mau menjalin hubungan, sampai kamu jadi pengemis cinta. Kamu bahkan menjadikan dia semacam panutan, karena bagimu dia itu sempurna.

Yah, beryukur aja dia masih mau mem-friendzone kamu. Karena harusnya si dia malah sudah ilfil sama kamu.

Solusi:

Rileks! Gak usah terburu-buru dan hindari memperlihatkan kelemahanmu padanya. Dengan jadi pengemis cinta, nilai kamu di matanya justru jatuh. Karena balik lagi ke poin awal, menjadi misterius dan susah ditebak itu wajib. Jangan buka kartumu sekaligus. Lagipula, kamu mungkin akan bertemu dengan orang yang lebih pas, jadi gak perlu memperlakukannya seakan dia itu segalanya.

3. Bandingkan pandangan kalian masing-masing tentang pacaran

Bandingkan persepsi kalian via marcellapurnama.com

Jadi, ceritanya kamu udah jadi sahabat yang baik, menyenangkan sekaligus susah ditebak, tapi kenapa dia masih belum tertarik juga sama kamu?

Mungkin kamu berpikir bahwa hubungan pacaran adalah hubungan persahabatan yang dibumbui keintiman fisik. Gak salah sih, tapi si dia belum tentu punya persepsi seperti kamu. Mungkin dia punya batasan yang berbeda tentang hubungan pertemanan dan pacaran, atau si dia perlu menemukan figur tertentu agar bisa jatuh cinta.

Jadi, kamu di-friendzone mungkin karena dia gak menemukan figur yang membuatnya tertarik pada dirimu. Waduh!

Solusi:

Cari tahu apa yang si dia harapkan dari seorang pacar. Lalu putuskan apakah kamu mau jadi seperti itu atau nggak. Kalo memang gak sreg sama kepribadianmu, gak usah memaksa untuk menjadi seseorang yang bukan dirimu.

4. Sentuhlah dia

Sentuh dia via www.wikihow.com

Bagi banyak orang, perbedaan antara hubungan  persahabatan dan pacaran ada di cara menyentuh. Ada cara platonik dan ada cara romantis, dan batasannya berbeda untuk masing-masing orang. Kamu tertarik pada si dia dan ingin menyentuhnya, tapi kamu terlalu takut jika caramu salah dan akhirnya kamu gak berani menyentuhnya sama sekali.

Solusi:

Sentuh rambutnya atau rangkul pundaknya. Jangan nunggu dia untuk menyentuhmu. Kamu bisa mencoba mengulurkan tanganmu untuk membantunya ketika dia ketika turun tangga atau mencoba menggandengnya di keramaian. Lalu perhatikan reaksinya. Kalau dia memang nggak suka, pasti dia menunjukkannya. (Dan kalau dia nggak suka, kamu nggak boleh maksa!)

Ingat juga kalau gebetanmu mungkin orang yang terbuka, yang menganggap merangkul dan memeluk itu biasa dalam pertemanan. Jadi jangan ge-er dulu. Coba perhatikan apa sikapnya itu berlaku ke semua sahabatnya atau cuma ke kamu aja.

5. Move-on!

Move-on! via mariebliss.com

Kamu udah melakukan semua hal di atas. Kamu udah meninggalkan kebiasaan lama kamu dalam PDKT, kamu udah menjadi seseorang yang dia harapkan untuk dijadikan pacar, dan kamu udah berhasil menyentuh dia. Tapi dia masih aja menganggapmu cuma teman.

Solusi:

Ya udah, relain aja. Mungkin dia memang gak tertarik sama kamu. Rasa ‘kan gak bisa dipaksa. Meskipun kamu masih ada perasaan sama dia, lebih baik jadi teman biasa aja. Jadi kamu gak perlu merasa cemburu karena dia jalan sama orang lain. Masih banyak ikan di lautan kok.

Ingat bahwa kebahagiaanmu kamu sendirilah yang menentukan. Kalo kamu punya tips lain, tulis di komentar ya. Semoga sukses lepas dari jerat friendzone!