“Oji, kamu betah banget jomblo…”
“Ya mau gimana. Masih males pacaran…”
“Ah, alasan doang!”

Mungkin kamu pernah merasa sakit hati. Saat melihat teman-temanmu yang datang ke kondangan sudah membawa gandengan dan kamu cuma bisa ngeliatin doang. Kebanyakan dari mereka bahkan sudah menjalin hubungan sejak lama. Membuatmu semakin merasa sedih ketika mengingat kenyataan bahwa sampai detik ini, kamu masih sendiri.

Perkaranya bukan karena kamu nggak laku. Kamu cuma sedang enggan menjalin hubungan. Memilih untuk fokus mengejar impian dan nggak mau terganggu distraksi tetek-bengek hubungan. Bagimu pilihan tersebut paling logis untuk dilakukan.

Sayangnya, di era pergaulan yang melihat jomblo adalah sebuah hinaan, pilihamu sering dipandang aneh orang.

Nah, hal-hal di bawah ini pasti sudah khatam kamu rasakan. Paling tidak batinmu sudah hafal dengan lika-likunya. Bener, nggak?

1. Banyak temenmu yang kesel dengan pilihanmu. Ejekan sok jual mahal, nggak laku, sampai sok religius udah sering terdengar di telingamu

Advertisement

Kalimat tersebut pasti sudah khatam terngiang di telingamu. Pilihan untuk nggak pacaran memang identik dengan hal-hal yang berbau agama. Lihat saja beberapa postingan di sosial media. Mereka yang mengaku ‘nggak pacaran’ kebanyakan beralasan agamanya nggak menganjurkan.

Nah, dengan memilih untuk bilang “lagi nggak pengen pacaran”, orang-orang akan semakin mencecarmu dengan ejekan. Mulai dari yang sok religius, sok jual mahal, hingga nggak laku sudah pasti khatam terngiang di telingamu. Pada akhirnya orang cuma bisa komentar doang, tanpa tahu dasar pengambilan keputusanmu.

2. Sindiran secara halus pun sudah sering kamu terima. Dipamerin foto temenmu yang sedang mesra sambil bilang, “Kamu nggak pengen?”

Nggak pengen nih? via www.shutterstock.com

Sama halnya dengan sindiran halus yang sering temanmu ucapkan. Sedikit membuatmu kesal karena tingkah mereka seakan mencoba untuk membuatmu tergoda. Contoh yang jelas adalah ketika ada postingan mesra di sosial media temanmu. Dengan bangga kemudian dia bilang kepadamu, “Yakin nggak pengen punya pasangan?”. Meski nggak secara eksplisit bilang agar kamu segera nyari pacar, namun sindiran halus itu tetap saja bikin kamu kesal.

3. Kamu sudah bosan menjawab pertanyaan “Kenapa kamu nggak jadian aja sama si A sih?”. Apapun jawabanmu juga mereka tetap nggak mau mendengarkan

Terserah ajah! via aminoapps.com

“Ji, kamu sama Nurul ada hubungan apa sih?”
“Nggak ada apa-apa. Cuma temen doang sama dia,”
“Ah… Kenapa kalian nggak jadian aja sih?”
“Dia cuma temen doaaaaang,”
“Bohong… Pasti kamu naksir dia?”
“Ah, bodo ah,”

Nah, kesel nggak sih dengan pertanyaan seperti itu? Mau kamu jawab “Cuma temen”, meski itu jujur, juga bakal percuma. Mereka bakal mencecarmu terus. Sampai-sampai kamu bosan mendengarya.

4. Tapi nyesek juga pasti kamu rasa. Melihat teman-temanmu yang sudah punya pasangan, kamu mulai ragu dengan statusmu…

Mulai ragu-ragu via www.logancoleblog.com

Kalau boleh bicara jujur, batinmu sebenarnya juga merasa sedikit berat dengan statusmu. Memilih untuk enggan pacaran dan menjalani semuanya sementara sendirian, sedikit banyak kamu mulai ragu. Sempat kamu berpikir untuk menyudahi kejombloan dan mulai menjalin hubungan.

Wajar sih kalau kamu merasa seperti itu. Menjadi orang yang teguh memegang pendirian untuk nggak pacaran sementara teman-temanmu semuanya sudah punya gandengan. Butuh mental yang kuat untuk bisa bertahan di situasi seperti itu…

5. Sampai pada akhirnya pengalihanmu tertuju pada kerjaan. Kamu menyibukkan diri biar nggak berpikir soal perjodohan

Yang penting sukses dulu via elizabethwellsphoto.com

Tak mudah untuk mantap nggak pacaran dulu sementara temanmu hampir semua sudah punya pasangan. Karena itu kamu butuh pelarian. Biasanya, pelarian paling umum adalah pekerjaan.

Sebenarnya cuma biar pelarianmu kelihatan keren aja sih. Kan kalau pelariannya dengan bekerja, dipandang orang lebih layak aja…

Pada akhirnya kamu memfokuskan waktumu untuk bekerja dan bekerja. Menyibukkan diri agar nggak kepikiran soal pasangan dan jodoh di masa depan. Harus diakui, mengalihkan fokus kepada bekerja memang salah satu cara paling efektif. Dengan berpikir untuk menata masa depan, pelarianmu bakal terkesan ‘menyenangkan’ dan nggak bikin kamu menyerah di tengah jalan. Asal pekerjaan itu nggak bikin kamu tersiksa juga ya…

6. Meski pada akhirnya itu sia-sia. Ujung-ujungnya, orangtua juga mulai tanya “Kapan Bapak-Ibuk mau dikenalin sama calon pasanganmu?”

Pacarmu mana? via www.movpins.com

“Ji, kamu udah umur segini. Mbok kenalin sini calon menantunya Bapak sama Ibu,”

Segala usahamu untuk menjauh dari perkara nggak mau pacaran tiba-tiba sirna saat pertanyaan tersebut muncul. Bapak dan Ibumu telah menunggumu untuk segera memperkenalkan calon menantu mereka. Teman-teman sebayamu banyak yang sudah mengirim undangan ke rumah.

Karena itu Bapak dan Ibumu panik. Mereka memintamu untuk segera mengenalkan pasanganmu. Padahal, kamu sendiri sudah berkomitmen untuk nggak pacaran. Segala usahamu untuk mengukuhkan niatmu yang nggak pacaran, tiba-tiba buyar karena satu pertanyaan.

Padahal niatan untuk nggak pacaran dulu nggak selamanya buruk. Kamu cuma butuh waktu saja untuk lebih lama berdamai dengan diri sendiri. Tapi lingkungan sekitar saja yang keburu under estimate sama status jomblo. Bukannya punya pacar juga belum tentu bahagia? #eh