Pernahkah kamu mengalami masa-masa jenuh sebuah hubungan? Apa yang dulu sangat kamu nantikan, tiba-tiba jadi hambar. Cinta yang menggebu-gebu dulu, ternyata tak mampu menyelamatkan. Hingga akhirnya, kamu pun harus mengucapkan selamat tinggal pada segala hal indah yang kini hanya bisa kamu kenang.

Banyak hal yang bisa mengacaukan sebuah hubungan. Saking banyaknya, orang cenderung memilih untuk menyingkatnya dalam satu kata: ketidakcocokan. Masalah dan pertengkaran dalam sebuah hubungan itu hal yang wajar. Namun ada persoalan yang bila kamu abaikan akan mendekatkan kalian pada perpisahan. Bila kamu sudah berorientasi jauh ke depan, dan tidak ingin hubungan kandas lagi dan lagi, tujuh hal ini harus kamu waspadai.

1. Kamu dan dia sama-sama terlalu percaya diri bisa komunikasi lewat hati. Jangan heran bila tak bisa saling memahami

Harusnya coba terbuka sama pasangan via www.nessakphotography.com

Banyak mitos mengatakan bahwa pasangan yang benar-benar saling mencintai, bisa berkomunikasi tanpa kata-kata. Kamu dan dia bisa sama-sama membaca hati, sehingga ini dan itu tak perlu diungkapkan lagi, seharusnya sudah saling mengerti. Namun kunci sebuah hubungan adalah komunikasi. Akibatnya, seringkali pertengkaran dimulai dari kalimat “Kok kamu nggak bisa ngertiin aku sih?”.

Tapi bagaimana bisa dimengerti kalau tidak saling membuka diri? Karena kamu dan dia adalah dua orang yang memiliki dua pemikiran berbeda, mengatakan apa yang kamu rasa wajib hukumnya. Telepati adalah ilmu tingkat tinggi, yang barangkali keberadaannya hanya mitos semata. Jadi bila kamu tak ingin hubungan bubar karena merasa tak saling memahami, kamu dan dia harus saling mengatakan apa yang kalian rasakan.

2. Setiap masalah muncul untuk diselesaikan. Bukan untuk ditinggalkan dengan harapan bisa selesai sendiri

Advertisement

Masalah tak untuk ditumpuk-tumpuk via mic.com

Setiap hubungan pasti mengalami berbagai problematika. Hanya kisah-kisah cinta tuturan Walt Disney yang tidak pernah mengalami masalah, sebab setelah jadian langsung meloncat ke frasa ‘bahagia selama-lamanya’. Masalah dalam sebuah hubungan itu hal biasa. Datang dan pergi untuk menguji perasaan, dan bila diselesaikan dengan baik dan tuntas, tentu saja akan memperkuat ikatan rasa.

Namun banyak juga yang memilih untuk meninggalkan masalah, seolah-olah bisa selesai tanpa harus dibicarakan dengan jelas. Sekilas, cara ini terlihat oke dan bebas dari konflik. Namun masalah-masalah yang diabaikan itu seperti bom atom, semakin aktif seiring berjalannya waktu. Hingga akhirnya meledak dan menghancurkan semua yang mati-matian kalian pertahankan.

3. Terlalu mengekang pasangan tak akan membuat kisah cintamu aman. Karena inti sebuah hubungan adalah kepercayaan

Mengekang pasangan membuat hubunganmu makin tidak bahagia via elizabethwellsphoto.com

Hubungan yang dikukuhkan dengan label seperti dalam lagu Celine Dion, “Cause I am your lady, and you are my man”, mengandung makna sebuah komitmen untuk selalu ada bagi satu sama lain. Namun ini tidak berarti pasanganmu adalah milikmu. Memiliki pasangan, tidak sama dengan memiliki ponsel, buku, dan benda-benda lainnya. Menjaganya pasangan baik-baik tidak berarti dengan mengekangnya dari segala hal.

Hubungan yang terlalu ketat mengikat, justru akan membuat salah satu merasa sesak, dan akhirnya menyerah. Mengekang pasangan dan melarangnya ini itu agar selalu ada di sisimu tidak otomatis membuat hubungan kalian jadi aman. Banyak cara yang lebih soft dan elegan untuk menjaga keberlangsungan sebuah hubungan. Justru salah satunya adalah memberi kepercayaan kepada pasangan dan memberinya ruang untuk bisa berkembang.

4. Frekuensi pertemuan yang berlebihan akan membuat rasa spesial itu hilang. Ini yang membuat salah satu akhirnya bosan duluan

Bertemu tak harus setiap hari via www.bustle.com

Apakah kamu sering mengalami masa-masa jenuh dalam sebuah hubungan? Ketika segala chemistry yang kamu agung-agungkan tiba-tiba menguap dan bertemu pasangan tidak lagi se-spesial dulu saat awal-awal hubungan? Apakah kamu pernah merasa setiap pertemuan terasa hambar dan kalian justru sama-sama diam karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan?

Hal ini bisa terjadi karena berbagai hal. Salah satunya adalah karena frekuensi pertemuan yang terlalu kerap. Setiap hari berjumpa dan membicarakan semua yang terjadi, dengan sendirinya akan mengikis rasa spesial yang seharusnya ada di setiap jumpa. Bertemu tak harus setiap hari. Bisa seminggu sekali saja. Dengan begitu kamu memberi waktu pada rasa rindu untuk membuat roda hubunganmu berjalan sepanjang waktu.

5. Namun terlalu sibuk memantaskan diri sampai lupa pentingnya komunikasi juga bahaya. Rasa curiga bisa muncul dari sini

Namun komunikasi tetap penting via www.businessinsider.co.id

Memberi ruang masing-masing untuk berkembang, berarti kalian sama-sama berjalan untuk memantaskan diri dengan cara masing-masing. Toh, di usia yang muda ini, bukan hanya soal asmara yang harus dipikirkan. Akan tetapi, memberi ruang pada masing-masing hati untuk saling merindukan tidak berarti kamu boleh mengabaikan pentingnya komunikasi. Bagaimanapun juga, pertemuan dan menjaga komunikasi dengan baik tetap menjadi kunci utama. Toh, komunikasi tak harus selalu pertemuan empat mata. Dengan komunikasi yang lancar dan jelas, rasa curiga akan diminimalkan. Tak harus tahu sampai detil-detilnya, namun setidaknya tahu kegiatan sehari-hari pasangan, tidak menimbulkan rasa curiga dia berbuat macam-macam.

6. Tak jauh beda dengan kelompok kerja, ruang diskusi yang sehat juga harus tetap ada. Tak melulu harus selalu sepakat, agar tak ada yang merasa terperangkap

Harus tetap ada diskusi yang sehat via quotesgram.com

Satu lagi mitos yang katanya tanda pasangan bahagia, namun sebenarnya justru berbahaya: meyakini bahwa pasangan yang serasi adalah pasangan yang selalu sepakat untuk segala hal. Mulai dari hobi, warna favorit, pandangan politik, pokokanya semua sama pendapatnya. Ya, meskipun sekilas terlihat kompak, tapi mungkin perlu juga dipertanyakan: benarkah persamaan itu hasil dari kesepakatan yang kebetulan, ataukah karena satu orang yang menentukan dan yang lain harus menyetujui tanpa banyak cakap?

Karena hubungan adalah antara dua orang, sudah tentu setiap keputusan harus mempertimbangkan pendapat keduanya. Diskusi yang sehat dan dua arah tetap lebih baik daripada keputusan yang selalu berasal dari satu pihak. Dengan begitu, kamu dan dia bisa sama-sama berkembang, dengan tetap menghargai perbedaan.

7. Teman adalah faktor yang sangat rawan. Menghalangi hubungan pasangan dengan teman-temannya bisa menjadi senjata makan tuan

Biarkan dia berteman via aviannablack.wordpress.com

Tidak sedikit hubungan yang bubar karena persoalan teman. Meski secara status seharusnya kamu orang paling spesial, namun menghalangi interaksi pasangan dengan teman-temannya bisa menjadi persoalan. Menempatkan posisi pasangan dalam situasi yang super dilematis dengan pertanyaan menohok ‘kamu pilih aku atau mereka?’ tidak melulu berarti pembuktian cinta.

Tidak ada salahnya kamu minta diprioritaskan. Namun selalu ingin diproritaskan membuatmu jadi mengekang pasangan. Memberi waktu dan kesempatan kepada pasangan untuk memiliki waktu bersama teman-teman, adalah salah satu bentuk kamu memberinya ruang untuk berkembang. Apa yang perlu dicemburui? Toh, kamu sudah tahu perasaannya. Tak hadir di sisi tidak selalu berarti tidak hadir di hati, bukan?

Sebenarnya bila dipikirkan, menjalani sebuah hubungan sama seperti kamu menghidupi dunia pekerjaan. Selain skill kerja mumpuni, kamu juga harus punya skill-skill lainnya seperti problem solving, komunikasi yang baik, serta kemauan untuk bekerja sama. Begitu juga dalam hubungan, kamu tak hanya butuh cinta dan perasaan yang mendalam. Tapi kamu juga butuh berbagai skill untuk mengatasi konflik yang sudah pasti ada. Bila tidak pandai-pandai mengatasinya, cinta yang kamu anggap sejati juga akan percuma.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!