Hai, Bu, apa kabarmu di sana?

Semoga kampung halaman selalu menjagamu. Aku juga berharap, semoga tanah rantau selalu setia menjadi lumbung rindu dariku untukmu. Sehatlah selalu di sana, meski hanya doa dan surat yang kuasa kukirim. Namun, ibu tak perlu risau dengan kondisiku di sini. Hati kita tetap lekat, meski jarak membentang sekian ratus kilometer antara kita. Toh, kita masih berpijak di bumi yang sama.

Bu, rindu untukmu akan selalu ada. Diam-diam aku selalu berdoa agar Ibu diberi kesehatan dan panjang usia.

Semoga ibu diberi kesehatan dan panjang usia via www.wattpad.com

Selayaknya pria pada umumnya, aku memang cuek dan tak perasa. Aku tak setiap hari mengirimkan pesan singkat maupun menelponmu. Aku lebih gemar menunggumu yang memberi kabar terlebih dahulu. Mendengar tuturanmu yang menceritakan keadaan kampung halaman nan jauh di sana mampu sedikit mengobati rasa rindu di dalam dada.

Selalu ada saat dimana aku merindukan suara bernada khawatirmu, pertanyaan ingin tahu mengenai ini itu, atau komentar yang kadang terdengar lucu. Seringnya lidah ini juga rindu masakanmu. Melahap sarapan, makan siang, hingga makan malam yang kau buat dengan penuh cinta. Sampai kapanpun masakanmu selalu jadi juaranya.

Advertisement

Ibu harus tahu bahwa rindu untukmu selalu ada di dalam dada.

Permasalahan memang tak pernah alpa dari hidup kita. Pahit manis yang pernah dirasa, semoga menempa kita menjadi pribadi yang makin kuat ke depannya.

Terimakasih ibu via www.imagesource.com

Aku pun juga ingin menghaturkan maaf, aku sadar hingga detik ini masih saja merepotkanmu. Belum lagi usiaku yang kian bertambah saja. Tak pelak hal inilah yang membuat para tetangga bergunjing ria. Membicarakan kelemahanku di sana sini. Membuat hatimu terluka sekali lagi.

Maafkan aku Bu, karena cukup sering tak acuh padamu. Larangan yang kau serukan serta imbauan yang kau harapkan tak pernah kulakukan. Sekarang, hanya sesal yang bisa kurasakan. Harusnya aku menuruti semua ucapanmu, agar kau tak perlu malu ketika para tetangga mengomentariku.

Harusnya aku bisa menggeluti profesi sesuai keinginanmu, tetapi aku tidak pernah menghiraukan saranmu. Aku lebih gemar menghabiskan waktu di kamar, berkutat dengan buku, atau bermain dengan teman.

Maafkan aku, Bu. Meski aku telah tamat sebagai sarjana dengan gelar pendidikan di akhir nama, tapi aku masih belum bisa membalas semua jerih payahmu. Untuk saat ini, sepertinya hanya maaf yang bisa kukirim padamu selain doa. Tapi tenang Bu, aku akan buktikan pada semua orang bahwa aku bukanlah orang yang seperti mereka bayangkan. Aku bertekad akan membuatmu bangga karena telah membawaku ke dunia.

Terimakasih kuucapkan untukmu yang selalu memberikan cinta. Kini giliranku yang sedia menjagamu di sisa usia.

Kini giliranku yang menjagamu di sisa usia via www.radio1.si

Sekali lagi, Bu. Jangan khawatirkan aku karena aku sudah bukan anak kecil lagi. Meski terkadang aku selalu manja di pelukanmu. Tapi persepsi jarak inilah yang membuatku sadar, bahwa aku harus tegar.

Ibu, tunggu aku kembali. Tapi jangan terlalu berharap aku akan menggeluti profesi yang kau ingini. Aku akan menggapai cita-citaku sendiri. Melewati batas kemampuan dan mendobrak halangan di depan mata. Yang kubutuhkan hanya doa restumu yang tak ada putusnya. Sudah, itu saja.

Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan padaku. Untuk peluh yang terkucur demi buah hatimu. Untuk kasih sayang yang tak ada batasnya. Untuk namaku yang selalu kau selipkan di dalam doa. Terima kasih, Ibu, wanita luar biasa dengan berjuta cinta.

Darimu, putra yang selalu menyayangimu.