Dewasa ini, hubungan cinta beda agama sudah bukan jadi hal asing lagi. Gak jarang pasangan yang kasmaran mengesampingkan perbedaan mereka dan memilih menjalani komitmen berbalut cinta. Apakah kamu salah satunya, yang rela menyingkirkan semua perbedaan demi bisa bersama?

Disini, Hipwee tidak akan berpihak dengan menyarankan kamu menjalani atau mengakhiri hubungan beda keyakinan. Semua terserah padamu. Hipwee hanya akan menggunakan kesempatan ini untuk mencoba memaparkan hal-hal yang mungkin terjadi kalau kamu memilih untuk tetap membuat komitmen dengan pasangan yang berbeda agama itu.

1. Pertanyaan: “Lho, Kok Bisa Sama Dia Sih? Kenapa?”

Dihadapkan pada berbagai pertanyaan via 3.bp.blogspot.com

Saat kamu sudah memutuskan untuk menjalani komitmen beda agama, siapkan diri untuk menghadapi berbagai pertanyaan yang muncul dari lingkungan sekitarmu. Tidak semua orang bisa memahami hubungan beda agama. Bagi sebagian kalangan, komitmen macam ini masih tabu untuk dijalani.

Jika tekadmu sudah benar-benar bulat untuk memulai hubungan beda keyakinan, kamu harus tahan banting kalau ditanya pertanyaan privat yang kadang sensitif. Seperti, “Kok pacarmu gak ikut sholat?” atau seekstrim, “Ngapain pacaran beda agama? Emang yakin bisa nikah?”

2. Meyakinkan Keluarga

Advertisement

Meyakinkan keluarga tidak akan mudah via www.demokrat.or.id

Di Indonesia, keluarga menjadi bagian penting yang perlu dipertimbangkan sebelum menjalani komitmen serius dengan seseorang. Terutama orang tua, karena restu mereka masih dianggap krusial bagi kelanggengan sebuah hubungan. Sayangnya, tidak semua keluarga cukup terbuka untuk membiarkan anggota keluarganya menjalani cinta beda agama.

Salah satu hal yang pasti dihadapi oleh seluruh pasangan beda keyakinan adalah proses menjelaskan hubungan cinta tersebut pada keluarga. Tahap ini memang mendebarkan, tapi gak sedikit juga yang berhasil dan mendapatkan dukungan keluarga. Kuncinya adalah keterbukaan dan kerendahan hati untuk mendengar pendapat dari orang-orang terdekat. Pada akhirnya, kalian nggak akan cuma hidup berdua bukan? Keluarga tetap akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hubungan kalian sampai kapanpun.

3. “Aku pengen makan babi panggang, mau minum bir. Tapi kamu gak bisa :(“

Minum bir untuk sosialisasi via vagus.tv

Apa yang lebih menyenangkan dari bisa bersama dan menjalani aktivitas bersama pasangan setiap saat? Menjalani hubungan beda agama yang penuh cinta sebenarnya tidak ada bedanya dengan hubungan sewajarnya. Hanya saja, ada beberapa kegiatan yang butuh toleransi tinggi untuk bisa dijalankan bersama.

Babi guling Bali via vagus.tv

Makanan halal dan tidak halal contohnya. Bagimu makan babi itu enak banget dan udah jadi kebiasaan minimal seminggu sekali. Tapi keyakinan pasanganmu melarang dia makan babi. Atau minum bir. Bagimu, minum itu bagian yang nggak terpisahkan saat nongkrong sama teman-teman. Sayangnya, karena bir mengandung alkohol pasanganmu gak bisa menemanimu minum. Kalau gak dihadapi dengan toleransi yang tinggi, hal-hal macam ini bisa jadi penyebab pertengkaran.

4. Gak Bisa Menemani dan Ditemani Ibadah

Tidak bisa mendampingi ibadah via cdn.sindonews.com

Ibadah adalah kegiatan paling personal yang dilakukan oleh manusia. Pastinya sangat indah kalau kamu bisa beribadah bersama dengan orang yang kamu sayang. Tapi secara rasional, tentu hal ini nggak akan bisa dilakukan. Tempat dan cara beribadah kalian saja berbeda.

Kegalauan yang sering menimpa pasangan beda keyakinan adalah saat waktu beribadah tiba dan pasanganmu gak bisa mendampingimu. Kalian punya jalan berbeda untuk menghadap Tuhan. Gak bisa dipungkiri, pasti rasanya sepi dan sedih. Tapi mau gimana lagi? Hal ini hanya harus dijalani dan dihadapi sebaik mungkin. Toh, kalian tidak punya pilihan lain.

5. Kamu protes, “Bajumu terbuka banget sih!”. Sementara bagi pasanganmu itu biasa saja

Perbedaan pandangan soal cara berpakaian via 2.bp.blogspot.com

Keyakinan itu ibarat pondasi yang membentuk pola pikir dan perilaku kita. Nilai-nilai yang dianut akan terejawantahkan dalam perbuatan sehari-hari. Jika kamu dan pasangan dibesarkan dengan keyakinan yang berbeda, cara pandang kalian juga tidak akan seragam.

Contohnya, kamu pria Muslim yang selama ini dibesarkan dengan nilai-nilai Islam. Bahwa wanita tidak boleh memakai pakaian yang terbuka. Ketika pasanganmu memakai celana pendek atau tank top kamu akan menganggapnya tidak wajar. Bukan karena hal itu sendiri pasti jelek, tapi karena lingkunganmu lah yang membentukmu punya pola pikir bahwa itu adalah hal yang kurang pantas dilakukan. Sementara bagi pasanganmu, gak ada yang salah dengan cara berpakaiannya.

Agama membuat pola pikir berbeda via 4.bp.blogspot.com

Dia tidak bisa memahami kekhawatiranmu, karena kalian memang dibesarkan dengan cara berbeda. Tidak ada yang salah dan tidak ada pula yang benar diantara kalian berdua. Perbedaan keyakinan memang akan membuat sudut pandang kalian berbeda.

6. Isu Sensitif Soal Pindah Agama

Sering dikira akan pindah agama via img.welt.de

Setelah tekadmu bulat untuk menghadapi berbagai halangan dalam hubungan beda keyakinan, kamu juga harus menguatkan hati untuk menghadapi berbagai isu sensitif. Yang kadang rasanya nggak banget. Pasangan berbeda keyakinan sering dihadapkan pada stigma bahwa salah satu akan berpindah keyakinan mengikuti pasangan. Gak jarang stigma ini juga yang menjadi momok bagi keluarga untuk bisa menerima hubungan kalian.

Jika kalian memang punya komitmen untuk terus menjalani hubungan beda agama, maka berikan penjelasan rasional pada orang-orang terdekat mengenai rencana itu. Namun jika memang jalan yang diambil adalah salah satu dari kalian berpindah keyakinan, kamu dan pasangan juga harus memberikan pengertian dengan kepala dingin. Isu agama masih sangat sensitif di masyarakat kita, maka kamu harus pintar-pintar menyikapinya.

7. Harus Berdamai dengan Aturan Hukum

Kamu tidak akan bisa menikah di Indonesia via media.mbigroup.co.id

Hukum pernikahan sipil di Indonesia sayangnya tidak memungkinkan pasangan beda agama untuk melangsungkan pernikahan secara sah di hadapan hukum. Dalam pasal 2 Undang-Undang Perkawinan ayat 1 disebutkan bahwa:

Perkawinan itu sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu

Dalam pasal 8 huruf UU Perkawinan, lebih dipertegas lagi dalam kondisi apa saja perkawinan dilarang:

Yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin

Cinta kadang tidak cukup via princessniendi.files.wordpress.com

Kedua pasal tersebut membuat pasangan beda keyakinan tidak memiliki jalan untuk dapat mengesahkan pernikahan mereka di dalam negeri. Kesulitan mengurus administrasi pernikahan akan mulai dihadapi sejak awal, dari perijinan tingkat RT-RW. Jika kamu dan pasanganmu sudah yakin benar untuk membawa hubungan ini ke arah yang lebih serius, kalian mau tidak mau harus berdamai dengan aturan hukum Indonesia untuk dapat melangsungkan pernikahan. Salah satu jalannya adalah dengan melangsungkan pernikahan di luar negeri, baru kemudian mencatatkan pernikahan tersebut di catatan sipil Indonesia.

8. Masa Depan (Agama) Anak

Agama anak belum jelas nantinya via www.weddinginbali.com

Hal yang kerap menghadang pasangan beda keyakinan dalam upaya merajut masa depan bersama adalah kegamangan mengenai bagaimana kelak anak-anak harus dididik. Semua agama memang baik, namun peraturan dan norma di Indonesia masih mengharuskan anak-anak memeluk sebuah agama tertentu. Pertanyaannya, mereka akan dididik dengan agama apa? Agama siapa?

Namun, tidak semua pasangan beda keyakinan berakhir galau kok. Bisa saja malah hal ini yang terjadi

9. Kalian justru bisa saling melengkapi dalam perbedaan

Melengkapi perbedaan via cdn.ciricara.com

Gak jarang perbedaan keyakinan justru menjadi kekayaan dalam hubungan cinta. Bersyukurlah pasangan beda agama yang mempunyai tingkat toleransi yang tinggi satu sama lain. Semua perbedaan bagi kalian justru bukan jadi hambatan, melainkan keindahan yang harus terus dinikmati.

Saat datang waktunya kalian berpisah untuk menghadap Tuhan di tempat ibadah berbeda, kamu dan pasangan tidak merasa kesepian. Kalian sudah cukup dewasa untuk memisahkan hubungan vertikal antara diri sendiri dan Tuhan dengan hubungan horizontal antara dirimu dan pasangan. Walau berbeda cara dan tempat ibadah, tidak ada alasan bagi kalian untuk saling mendoakan.

10. Bisa Membangun Masa Depan yang Toleran dan Terbuka

Membangun masa depan yang toleran via 1.bp.blogspot.com

Pasangan beda keyakinan biasanya akan menghasilkan anak-anak yang lebih toleran terhadap perbedaan. Bagaimana tidak, sedari kecil mereka sudah dihadapkan pada perbedaan cara ibadah ayah dan ibunya. Kamu tidak perlu khawatir calon anakmu kelak akan terjerumus pada fanatisme sempit.

Hubungan beda agama juga bisa menjadi pintu masuk bagi keterbukaan di lingkungan sekitar kalian. Dengan keberadaanmu dan pasangan bukan tidak mungkin lingkunganmu malah jadi lebih terbuka terhadap berbagai perbedaan yang ada.

Bagaimana sekarang? Apakah kamu semakin optimis atas hubungan beda keyakinan yang sedang kamu jalani, atau justru berpikir mengakhirinya? Semuanya kembali padamu. Semoga beruntung ya dengan kehidupan cintamu!