Bertambahnya usia seharusnya bisa membuat kita makin dewasa dalam sebuah hubungan. Cinta tak cuma jadi sekedar kata untuk diucap. Tapi lebih dari itu, makin kesini cinta butuh bukti nyata. Saat usia kita belum matang, cinta bisa jadi hal yang mudah untuk dikatakan. Saat saling melempar kata cinta, seakan dunia telah menjadi milik berdua. Meski setelahnya tak ada tindakan apa-apa untuk membuktikannya.

Jika saat ini kamu masih terjebak dalam hubungan yang hanya bermodalkan kata cinta, jangan keburu berbangga. Karena hubungan seperti itu hanya akan bertahan hingga cinta itu tak lagi berpendar. Jika hubungan kamu dan dia masih berkutat pada hal itu-itu saja, jangan keburu pamer kemesraan. Karena ketika hubunganmu dan dia berakhir, hanya malu yang akan kamu tanggung. Sebelum dia memberikan kepastian, tak perlu memberikan cintamu begitu dalam kepada orang yang belum jelas juntrungannya. Perlakukan dia selayaknya, kamu masih ada punya kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik darinya.

1. Dia tak layak dipertahankan jika hanya mampu mengumbar kata cinta, tanpa memberikan bukti nyata.

hanya mengumbar kata cinta via shutterstock.com

Cinta memang menjadi dasar bagi hubungan yang harmonis. Memang, tanpa cinta semua akan terasa hambar. Namun bukan berarti cinta adalah yang segalanya. Mari realistis saja, di kehidupan rumah tangga nantinya, kamu tak akan bisa bertahan hidup hanya dengan cinta saja. Cinta memang bisa menjadi penguat saat kamu dan dia sedang berada dalam titik terendah. Namun untuk keluar dalam kondisi tersebut, kamu dan dia butuh usaha yang keras.

Cinta hanyalah pemanis dalam sebuah hubungan. Lebih dari itu, jika hubungan ingin bertahan lama harus ada bukti nyata. Karena cinta tanpa pembuktian takkan berarti apa-apa.

2. Bersamanya mungkin terasa menyenangkan, tapi berikan cinta secukupnya saja kalau dia tak kunjung punya masa depan bersamamu.

Advertisement

berikan dia cinta secukupnya saja via shutterstock.com

Hubungan yang dewasa juga soal merancang masa depan bersama. Hubungan yang terjalin harus punya tujuan yang jelas. Karena pada akhirnya, kamu dan dia harus punya keputusan kemana kalian akan berlabuh. Bersamanya mungkin terasa menyenangkan saat ini. Tapi kamu perlu berpikir dua kali jika dia tak memiliki rencana yang matang untuk kalian berdua.

Jangankan merancang masa depan kalian berdua, rencana masa depan untuk dirinya saja ia tak punya. Kamu tak perlu memberikan cinta berlebihan jika masih seperti ini keadaannya. Kamu boleh memberikannya kesempatan untuk memperbaiki diri, namun jangan sampai kesempatan itu hadir dalam waktu yang tak berbatas. Kamu boleh menunggu, tapi tetapkan diri hal itu akan berlaku sampai kapan.

3. Dia tak benar-benar mau berjuang, jika terus bersembunyi di balik kalimat “cintai aku apa adanya,” ~

cintai aku apa adanya tak berarti selalu tulus via shutterstock.com

Mencintai seseorang tanpa syarat menjadi level cinta yang paling dewasa. Menerima dia apa adanya tentu juga membuktikan kita telah menjadi pribadi yang lebih bijak. Namun kata-kata “cintai aku apa adanya” tak berarti kamu dan dia berhenti berupaya begitu saja. Bukan mentang-mentang sudah diterima apa adanya, tak berarti dia tak lagi mau berjuang untuk menjadi lebih baik lagi. Upaya itu harus tetap ada, meski sejak awal kamu dan dia telah bersedia menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Mencintai apa adanya seharusnya berarti tetap bersedia saling mendampingi, meski jalan untuk menjadi lebih baik lagi dan mewujudkan mimpi tak selalu berjalan lancar. Halangan yang datang bukan alasan untuk menjadi ragu, namun justru mampu mengikat hubungan lebih kuat lagi. Mencintai dia apa adanya juga berarti mendorong dia menjadi pribadi lebih baik lagi, dan tak rela jika dia menjadi pribadi yang tak berkembang. Karena dia yang layak untukmu, tak akan pernah lelah berjuang mati-matian untukmu.

4. Hubungan yang dewasa tak hanya soal kalian berdua saja. Jangan berharap bisa bersama selamanya, jika kamu dan dia tak pernah melibatkan keluarga.

hubungan yang dewasa tak cuma soal kalian berdua via shutterstock.com

Dalam fase hubungan yang lebih dewasa, peran keluarga tentunya menjadi sangat penting. Saat kamu dan dia sudah memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, maka harus ada keterlibatan keluarga pada tahap itu. Memang benar apa kata orang, menikah tak cuma soal bersatunya dua insan manusia tetapi juga dua keluarga besar.

Jika saat ini kamu dan dia sudah menjalin hubungan dalam waktu yang lama tapi tak juga saling mengenalkan ke keluarga masing-masing, maka tak perlu terlalu berharap hubungan kamu dan dia akan melangkah ke tahap selanjutnya. Pikirkan lagi, tak kunjung mengenalkan atau dikenalkan pada orangtua dan keluarga besar karena menunggu waktu yang tepat atau memang saat ini belum yakin dengan dia?

5. Pertengkaran memang biasa terjadi. Tapi setiap kali itu terjadi, justru menyebabkan memar di hati.

memar di hati via shutterstock.com

Pertengkaran selalu menjadi hal yang tak pernah bisa dihindari dalam setiap hubungan. Seerat apa ikatan kamu dan dia, pertengkaran dipastikan selalu ada di sela-sela tawa kalian. Tapi ada perbedaan mendasar bagi pertengkaran yang terjadi pada hubungan yang punya masa depan dan hubungan yang masih entah mau dibawa kemana.

Bagi hubungan yang punya masa depan, pertengkaran memang membuat air mata kadang tak terbendung. Namun setelahnya, hubungan kalian justru terasa makin dekat. Pertengkaran membuat kamu dan dia menyadari kesalahan masing-masing dan berinteropeksi diri agar tak pernah terulang lagi.

Namun bagi hubungan yang masih entah mau dibawa kemana, pertengkaran terasa selalu menimbulkan memar di hati. Kadang jika pertengkaran itu terjadi, kamu merasa putus asa. Entah bisa diteruskan atau tidak hubungan ini.

6. Pun ketika dia melakukan kesalahan yang sama berungkali. Kamu harus berungkali mengelus dada ketika dia mengucapkan kata maaf yang sekian kalinya.

kata maaf yang berulang via shutterstock.com

Perdebatan seringkali terjadi karena kesalahan dalam hubungan yang masih saja selalu berulang. Kamu masih memaklumi jika dia melakukan kesalahan sekali, permintaan maaf darinya masih mudah kamu terima. Tapi bagaimana jika ternyata permohonan maaf darinya hanya formalitas saja, setelah dia berulang kali melakukan kesalahan yang sama?

7. Dia menuntut kalian untuk sering bersama – tanpa jarak. Hingga kamu tak memiliki waktu untuk menuntaskan mimpi pribadi.

tak ada jarak via shutterstock.com

Jarak seakan jadi hal yang diharamkan dalam hubungan kalian. Sejak bersamanya kamu jadi tak punya waktu untuk dirimu sendiri. Padahal pasangan yang mengesankan adalah dia yang tetap mendukungmu meraih mimpi pribadi. Bersamanya, bukan berarti kamu harus merelakan sesuatu yang telah lama kamu impikan.

Jika hubungan kalian masih belum menemui kejelasan, tapi dia sudah mulai tak memberikan jarak sedikitpun, yakin menghabiskan sisa waktumu bersamanya? Toh bukannya tujuan hidup bersama itu untuk saling mendorong menjadi lebih baik lagi? Bukan menyulap pasangan menjadi pribadi yang berbeda.

8. Dengannya, kamu merasa lelah berjuang sendirian. Rasanya semua beban dihempaskan begitu saja di pundakmu.

waktunya merelakan dia pergi via shutterstock.com

Dan pada akhirnya, menjaling hubungan adalah soal kerja sama. Jika selama ini dia membiarkan berjuang sendirian, maka tanpa perlu berpikir ulang kamu bisa meninggalkannya saat ini juga. Hubungan tak akan berhasil jika hanya satu orang saja yang berupaya. Jika ini yang terjadi, kamu akan berada dalam hubungan yang terasa timpang.

Nantinya ketika dia merasa perjuanganmu tak diperlukan lagi, maka dia bisa pergi kapan saja tanpa merasa bersalah. Sedangkan kamu yang selama ini sudah banyak berkorban, tentu akan merasakan sakit yang luar biasa. Jika kamu sudah mulai merasa lelah, maka ini saatnya kamu berhenti berkorban berlebihan.


Tak perlu mencintainya berlebihan, jika kepastian masa depan belum juga kamu dapatkan. Sisakan sepetak ruang hatimu yang tidak terkontaminasi dengan kehadirannya. Agar ketika dia pergi tiba-tiba, kamu masih punya sisa kekuatan untuk menata hidupmu kembali.