Sungguh, cinta adalah salah satu elemen kehidupan yang memiliki banyak jebakan. Salah satunya adalah kedekatan. Kita sering berpikir bahwa kedekatan yang penuh dengan perhatian akan membuat cinta kita semakin dalam. Di beberapa situasi, itu memang benar adanya. Namun, di situasi yang lain, kita perlu memikirkan pendapat tersebut dengan lebih reflektif. Terlebih lagi bagi pasangan yang sudah lama menjalin hubungan. Kedekatan yang tak berjarak justru dapat menjadi blunder bagi kemapanan sebuah hubungan.

Ya, bahwa cinta yang lekat membutuhkan intensi yang dekat, namun bukan berarti tak berjarak sama sekali. Sebaliknya, kita memerlukan jarak untuk mencapai kedekatan yang natural. Sebabnya, jarak memberikan pandangan yang luas dan bebas. Dengan inilah sebenarnya kita memberikan cinta sebuah ruang untuk bergerak, menjadi jembatan bagi dua ego yang perlu diakui: berbeda.

Setiap kehidupan pastinya menghembuskan nafas. Cinta pun demikian. Berikanlah jarak untuk bernafas bebas. Jangan genggam terlalu keras jika tak ingin ikatan lekas lepas.

seperti pasir : semakin digenggam semakin lepas via www.kanalani.org

Setiap cerita pasti memiliki dinamika. Coba saja lihat karya film atau novel yang menarik, di dalamnya pasti menyuguhkan kisah yang dinamis meski tak terlampau dramatis. Naik-turun. Ya, demikian juga kisah asmara dalam kehidupan nyata. Alangkah manisnya jika memiliki dinamika yang berwarna.

Salah satu cara untuk membuatnya demikian adalah dengan memberi jeda, biarkanlah cinta bernafas bebas. Inilah yang dinamakan kondisi berjarak di mana kita memberikan ruang gerak bagi tindakan refleksi dan evaluasi. Momentum untuk melihat kembali, kalau-kalau ada plot yang perlu diperbaiki. Ini semua demi capaian kualitas sebuah hubungan yang tidak melulu soal padatnya lalu lintas kata sayang.

Segalanya terlihat indah dari kejauhan. Sesekali, perlulah untuk mengurangi kedekatan. Agar rasa terus mengalami kebaruan. Ini juga sebuah usaha untuk mereduksi kebosanan.

Advertisement

Everything looks perfect from far away via heymissleendadong.tumblr.com

Jeda yang berkualitas akan membuat nafas menjadi teratur dan terkelola. Ini juga memberi kesempatan bagi kita untuk melihat dari kejauhan. Cobalah sesekali perhatikan. Gunung yang menjulang tinggi akan menjadi begitu indah ketika kita melihatnya dari teras rumah di saat langit cerah. Pun demikian bagi peristiwa asmara. Kita akan melihat berbagai titik yang telah dilalui hingga membentuk alur cerita. Sebuah garis yang menyejarah. Garis tersebut akan terlihat secara luas, menyeluruh, dan objektif ketika kita menarik diri.

Tentu saja, ini akan sulit dilakukan ketika masih terus berdiam diri dalam satu titik, bahkan terlampau dekat. Resikonya adalah rasa bosan yang begitu sering dan mudah datang tanpa alasan. Bukankah sama sekali tak menarik ketika kisah cinta harus berakhir hanya karena kebosanan?

Dekat tak hanya bisa didapat dengan bertemu tiap hari. Kualitas pertemuan sebenarnya justru lebih penting dari frekuensi.

Waktu sudah sangat sedikit, berbicaralah soal kualitas… via christianitymalaysia.com

Bertemu setiap hari beresiko akan membuat kalian berdua kerap mengalami momen berdiam diri. Rangkaian kisah perlahan mengering, sebabnya dunia seolah-olah menyempit begitu saja. Sumber cerita hanya dari pengalaman berdua yang sebenarnya sudah melekat karena terlalu dekat. Ketiadaan jeda dan jarak hanya akan membuat hubungan menghadapi persoalan yang sama. Dampaknya, perasaan tidak cepat berkembang karena eksplorasi dunia luar tidak begitu berwarna.

Sebaliknya, jika pengelolaan pertemuan berjalan dengan bijak, maka sebuah hubungan akan menjadi sebuah peristiwa yang berkualitas. Pertemuan yang tidak terlalu sering akan memperbanyak tabungan rindu. Selain, itu kisah-kisah yang dilalui selama tidak bertemu dalam waktu tertentu akan menjadi bekal cerita yang menarik dan berwarna.

Beberapa hal perlu dibiarkan misterius. Sebab, jika semua pertanyaan telah terjawab, maka cinta akan terasa begitu hambar dan mudah pupus.

Benar, seperti belantara. Itulah cinta via favim.com

Masih ingatkah ketika pertema kali melakukan penjajakkan sebelum menjalin hubungan? Satu perasaan yang mendorongmu untuk terus mendekati dirinya adalah penasaran. Sadar atau tidak, itulah yang membuatmu ingin mencapai relung hatinya yang terdalam. Namun, seiring kamu berhasil mendapatkan hatinya, rasa penasaran tidak pernah lagi muncul karena semuanya telah terjawab.

Padahal, rasa tersebut telah terbukti mampu mendorongmu untuk terus memperbaharui cinta. Oleh karena itu, tidak ada salahnya membiarkan beberapa hal menjadi misteri yang jawabannya muncul perlahan-lahan entah dengan petunjuk, tanda, atau sikap. Perasaan yang demikian akan mengurangi hambarnya sebuah hubungan. Sebab kamu merasa masih terus memiliki tanggungjawab untuk bertanya dan menjawab tiada habisnya.

Oleh karena itu, jangan dulu curiga ketika ada kerenggangan dalam hubungan. Sebab jarak bukan soal memberi batasan, melainkan peristiwa pembebasan agar cinta tak mudah digoyahkan.

Cinta yang baik adalah cinta yang membebaskan via favim.com

Jarak yang penting tidak lalu dikelola pada saat ada pertanda kebosanan. Ini perlu disadari sebagai sebuah kesepakatan saat memulai hubungan agar berbagai rintangan dapat diperkirakan dan diperhitungkan. Namun, perlu juga disadari bahwa jarak adalah sebuah bentuk pembebasan cinta dengan memberikannya jeda untuk bernafas.

Nantinya, jika mendadak ada kerenggangan dalam sebuah hubungan, maka hasilnya bukanlah pertengkaran, melainkan sebuah pemahaman bahwa perlu ada perenungan dari kejauhan. Ingatlah bahwa elemen cinta yang perlu menjadi faktor utama untuk dipertimbangkan adalah kebebasan. Jangan sampai menjalin hubungan jika masing-masing merenggut anugerah yang paling mulia bagi manusia, yakini kebebasan untuk memiliki pilihan.

Perhitungan jarak dan jeda sangat penting untuk mendapatkan imajinasi ketahanan cinta dalam menjalani waktu tempuh secara utuh. Bukan berarti menghitung cinta. Memang, siapa juga yang dapat menghitung cinta? Pastinya sulit. Namun, menjadi penting untuk mencari tahu ketahanan pribadi yang menjalaninya. Kita perlu berada di antara dirinya, cinta, dan pengalaman yang telah dilalui agar dapat melihat ke dalam lebih utuh dan melihat ke luar secara penuh. So, saatnya bernafas. Berilah jeda agar cintamu semakin bermakna.