Siang ini aku terdiam saat duduk bersamamu. Seharusnya aku melempar senyum dan berbicara banyak topik padamu, tapi tidak untuk kali ini. Mungkin karena aku tak merasa senyaman biasanya. Berkali-kali kau mencoba mengutarakan kalimat yang sejak awal kubilang tak aku suka.

Dengarkanlah: jangan terlalu banyak berharap pada saat ini. Kita memang saling menyukai, tapi apakah harus terburu-buru dengan semua urusan ini?

Kamu salah satu lelaki paling baik yang pernah kutemui. Namun, tak semudah itu untuk menetapkan hati

Pertemuan pertama kita via images.forwallpaper.com

Sejak pertama bertemu denganmu, tak bisa kusangkal kalau kau adalah sosok yang begitu menawan. Saking menawannya, berapa banyak wanita yang tak pernah tergoda? Kawan-kawanku adalah sederet wanita yang ada di dalamnya. Lain halnya dengan mereka, mungkin aku jadi segelintir wanita yang menganggapmu biasa saja. Tak sedikit pun aku bergeming melihatmu.

Tapi semua jadi berbeda ketika kita dituntut banyak berkomunikasi dan bekerjasama. Awalnya agak aneh dengan sikapmu yang terkesan begitu membanggakan ketampanan. Yah, kuanggap saja itu adalah lelucon. Jika tidak, mungkin aku sudah bosan harus bekerjasama denganmu terus. Tapi kuakui engkau memang menawan. Bahkan yang mungkin tidak diketahui banyak orang, kau juga amat baik hati.

Tak dipungkiri aku memang menyukaimu. Tapi bukankah tak ada yang kujanjikan padamu?

Advertisement

Memangnya aku menjanjikan apa? via infos-75.com

Kebersamaan yang terus-menerus telah menumbuhkan sedikit rasa simpati padamu. Mungkin kau pun telah menyadarinya. Tak jauh berbeda denganku, kau merasa nyaman denganku. Berbagai topik tak segan kita kupas bersama siang dan malam. Yah, orang lain yang sirik pada hubungan kita bisa saja menyebut kita saling mencintai dan sedang menjalin kasih. Namun aku hanya biasa saja. Aku tak ingin menyebut kau kekasihku, apalagi menerapkan begitu banyak target. Aku berharap kita bisa mengalir saja.

Sayangnya tidak demikian yang bergelayut di pikiranmu. Tak mengherankan jika kau sering menuntutku ini dan itu. Bahkan untuk masa depanku, kau turut mengatur jalan yang kupilih. Alasannya kau tak sanggup hidup jauh dariku. Soal masa depan, aku rasa kita tak bisa sejalan. Masalahnya, prinsipku kuat. Siapa lagi yang mampu menjamin diriku sendiri selain aku?

Ketika orang lain menyangka betapa beruntungnya aku mendapatkan hatimu, justru sebaliknya yang aku rasa. Mulai saja kau memperlakukan aku dengan berlebihan. Saat jauh, apapun harus aku laporkan padamu. Padahal aku bukan lagi anak kecil yang akan hilang saat terbentang jarak dengan induknya. Tingkahmu juga mulai menunjukkan seakan-akan memiliki diriku sepenuhnya. Entah itu memamerkanku di depan kawan-kawanmu atau hampir saja membawaku ke orangtuamu. Aduh, tidak secepat itu.

Lebih sedihnya lagi, pergaulanku semakin terbatasi. Setiap detik dan waktuku hanya boleh dihabiskan denganmu saja. Yakin dengan begini kau bisa membuatku bahagia?

Aku bukan orang yang suka mengobral janji. Jadi, tolong jangan memelihara terlalu banyak mimpi

Tanpa menetapkan target ini itu, aku yakin semuanya bisa lebih indah via hello-pet.com

Aku masihlah sangat muda. Mimpiku masih banyak. Masih banyak yang harus kukejar demi mengejar mimpi-mimpi itu. Aku pun perlu mencukupi kebutuhan hidupku sendiri dan keluargaku. Jikalau cinta semata yang kujadikan prioritas utama di hidup ini, apakah ada jaminan bila nanti aku tak akan kehilangan impian dan tak menyesal?

Aku cukup berterimakasih dengan semua kasih sayang yang kau beri. Aku masih mau menjalani ini semua denganmu. Tapi tolong jangan berekspektasi banyak dengan harapanmu. Aku pun yakin bahwa masih banyak yang harus kita cari. Dan dengar, kita belum tentu menjalin cinta hingga maut memisahkan. Kita belum tentu menjadi sepasang kekasih. Semunya itu hanya Tuhan yang tahu dan mengaturnya. Tolonglah berlaku sewajarnya, sebagaimana aku adalah sahabatmu.

Dari aku,

Yang tak ingin kehilangan diri sendiri hanya demi mendapatkanmu