Sayang, sesungguhnya aku sudah lupa bagaimana rasa hangat yang menguar dari buku-buku jarimu. Saat dia menemukan tanganku. Menggenggamnya lama lalu meninggalkan rasa nyaman di sana. Dalam momen-momen seperti itu bahkan kita tak perlu bicara.

Selepas sekian hari kamu pergi kadang aku mesti berpikir keras untuk mengingat bagaimana profil wajahmu. Berusaha tidak lupa sinar yang membuatku tetap jatuh cinta sampai hari ini,  saat kamu tersenyum dan melihat langsung ke mataku.

Menjalani ini bersamamu berarti bersahabat dengan jarak yang akan selalu ada. Tapi apa yang harus ditakutkan? Toh kita lebih kuat dari dia

Kamu boleh bilang ini menggelikan. Tapi aku tetap mudah rindu, tak peduli sesering apapun kamu tinggalkan

Tidak ada kata biasa dalam jeda. Buatku ini benar adanya. Sudah berkali-kali kita dihadapkan pada temu-pisah-lalu bersatu kembali. Dan setiap kali kamu pergi aku masih saja selalu rindu setengah mati.

Setiap kali aku bilang rindu, kamu selalu berkata dengan bijak bahwa aku mesti bersabar dulu. Membiarkanmu menuntaskan kewajibanmu. Toh di akhir hari kamu akan kembali ke pelukku.

Advertisement

Menenangkanku jadi penawar rindumu. Sementara untukku, mengatakan rasa ingin bertemu meyakinkan ada rasa hangat di hati yang tidak terberangus kesibukan dan jarak selama kamu tak di sisiku.

Tidak banyak yang bisa kita lakukan selain menunggu. Menjalani hari sebaik mungkin sembari berharap Tuhan menjaga. Selama kita tak bisa menatap mata

Kita sudah berubah jadi penunggu ulung yang handal. Setiap sedang tidak bersama ada sekian banyak doa yang terus terapal.

Setiap malam sebelum tidur kamu bercerita apa yang terjadi hari itu. Sesekali mengirim foto agar saya memahami apa yang sedang kamu lihat di sana. Paling tidak kita masih bisa terhubung walau hanya lewat gambar yang sama. Agar jarak tidak lagi terasa bejat dan menyiksa.

Tidak banyak yang bisa dilakukan selama harus menunggu, sampai hari kepulanganmu. Kamu pun tak pernah meminta banyak hal. Sedikit pun tak ada permintaan saya harus setia, tidak boleh keluar dengan siapa, harus sampai rumah jam berapa. Satu saja pesanmu dalam setiap kecup di dahi sebelum kemudian meninggalkan saya sementara:

Jalani hidup sebaik-baiknya tanpa saya. Jika hidupmu berjalan baik, berarti ini memang cinta.

Sampai kapanpun jarak ini akan selalu ada. Tapi kita lebih kuat dari dia

Kita tidak bisa memilih akan menjalani hubungan macam apa. Jika memang Tuhan menempatkan kita dalam ekuasi jarak, Dia pun pasti sudah mempersiapkan kekuatan untuk menghadapinya.

Aku berjanji tak akan meminta jarak ini dihapuskan. Sebab darinya kita sudah banyak belajar soal mempertahankan perasaan. Tak akan juga kuminta Tuhan meringkas tantangan. Dari situ kita perlahan mencintai dengan tak lagi kekanakan.

Bagi kita jarak akan selalu ada. Tapi kita dan kuatnya rasa selalu lebih kuat dari dia.

Saya percaya. Semoga kamu pun juga.