Dalam bayangan kita, cinta adalah candu bahagia yang akan kita rasakan bersama dia yang belum pernah kita temui sebelumnya, ketika waktunya tiba. Kita mengarang-ngarang di kepala sifat-sifat ideal yang akan melekat dalam dirinya, bermain dengan imajinasi akan rupa wajahnya. Kadang kita lupa, cinta adalah perihal yang lebih sederhana dari imajinasi manusia — bukan tak mungkin sebenarnya kita sedang merasakannya sekarang pada orang yang ada di sekitar. Kita pun lupa bahwa “waktu” yang kita tunggu sebenarnya sudah datang dari dulu-dulu.

Ada tanda-tanda tertentu yang akan kita rasakan saat sedang tergila-gila dengan seseorang. Hanya saja, kadang kita mengelak dan menolak mengakuinya.

Padahal jika hal-hal di bawah ini kamu rasa, tak boleh lagi ada ragu untuk menerjemahkan perasaanmu kepadanya sebagai cinta:

1. Kamu yang tadinya biasa-biasa saja mulai merasakan ketidaknyamanan, ketika dia dekat dengan orang yang tak kamu kenal

Saat dia dekat dengan selainmu, kamu mudah cemburu via favim.com

Mungkin kamu memang enggan mengakuinya. Namun sebenarnya, selalu terbesit rasa risih dalam hatimu ketika dia menunjukkan kedekatan atau kenyamanan pada orang lain. Saat dia membalas tweet atau bertukar sapa di status Facebook, misalnya, kamu langsung waswas dan menerka-nerka status mereka berdua. Padahal belum tentu juga mereka ada hubungan cinta.

Advertisement

Yang sudah pasti hanyalah dia mengenal atau paling tidak pernah sesekali bertemu dengan orang lain tersebut. Namun bukannya bersikap rasional, prasangka bahwa mereka saling menyimpan rasa justru mengganggu pikiranmu. Ah, akuilah: kamu sebenarnya sedang cemburu.

Merasa cemburu terhadap teman kuliah, teman kerja, atau bahkan tetangga, bisa menjadi tanda bahwa kamu suka padanya. Sejujurnya, bukan salahmu juga. Salahkan saja pada cinta yang tidak (belum) kamu akui keberadaannya.

2. Satu SMS darinya mampu membolak-balik hatimu. Bahkan jika isinya sekadar bertanya, “Sudah rampungkah tugas kuliahmu?”

soal intelektual dan kematangan emosional via favim.com

“Eh.”

“Apa?”

“Udah selesai belum tugasnya?”

“Belom. Maunya sih gue selesaiin ntar malem.” (sok biasa-biasa saja, padahal hati mau meledak saking senangnya)

Pernahkah kamu merasa sangat tidak sabar menunggu kabar atau balasan dari seseorang? Bisakah sebuah pesan dari seseorang membuat harimu lebih bahagia, seremeh apapun isinya?

Boleh jadi itu tanda bahwa kamu sedang tergila-gila padanya. Kalau kamu menganggap dia hanya sekadar teman, pasti tak akan kamu sebegitu resah saat menanti balasan pesan darinya. Kalau kamu menganggapnya teman biasa, mungkin membalasnya saja kamu harus menunda-nunda.

Jika kamu kesulitan mengakui perasaanmu, mungkin kamu hanya takut bahwa dia tak membalas apa yang kamu rasa itu. Namun pernahkah kamu membayangkan penyesalan yang akan datang seandainya dia memelihara rasa yang sama terhadapmu, sementara jujur dengan diri sendiri pun kamu tak mampu?

3. Kamu tidak lagi hanya memikirkan diri sendiri. Sudah ada ruang di dalam kepala di mana ia terus meraja.

Kamu mulai menghubungkan apapun dengan dirinya via favim.com

Semua orang tahu bahwa salah satu tanda kamu tergila-gila pada seseorang adalah pikiranmu yang takkan lepas dari sosoknya.  Saat melihat warna biru, kamu langsung teringat bahwa itulah warna favoritnya. Saat melirik layar HP, kamu langsung berpikir kapan terakhir kali menerima kabar darinya. Bahkan saat menyaksikan adegan lucu dalam film kamu akan berangan-angan: apa dia juga akan tertawa dan menyukai adegan itu sebagaimana kamu menikmatinya?

Segala hal kamu hubungkan dengan dirinya — bahkan termasuk hal-hal yang sebenarnya tak ada hubungannya. Itu karena saat kamu sudah tergila-gila, pikiranmu tak lagi hanya fokus pada dirimu sendiri saja.

Kini hatimu tidak lagi untuk diri sendiri. Sadar atau tidak, kamu mulai menyiapkan ruangan khusus untuk ia tempati.

4. Rasa gamang akan muncul saat ia mendekati. Bukan karena hadirnya tak kamu terima; justru karena kamu takut tampil tak sempurna di hadapannya.

Overthinking via magdajestem.pinger.pl

Saat kamu sekadar punya jadwal kuliah yang berbarengan dengannya, atau ada hal lain yang membuatmu bertemu dia, kamu akan berdadan serapi dan semenarik mungkin. Hal ini kadang tak disadari olehmu, rasanya keinginan ini akan muncul begitu saja. Adanya keinginan untuk tampil yang terbaik seperti ini jelas menandakan kamu sedang menyukai orang tersebut.

Sama halnya saat kamu berbalas pesan dengannya. Kamu akan berusaha sebaik mungkin merangkai kata-kata yang pas sebagai balasan untuknya. Bahkan bisa sampai berulang-ulang menghapus yang sudah kamu tulis, lalu menggantinya dengan kalimat yang baru.

5. Para sahabatmu mulai bosan karena dia selalu hadir dalam percakapan. Jangan heran saat mereka mulai membalasmu dengan berbagai “bully” dan godaan

Teman-teman pun mulai menggodamu via mirclipov.com

Tahukah kamu bahwa sahabatmu bisa jadi lebih peka daripada dirimu sendiri? Seringnya kamu menyebut namanya di depan sahabatmu bisa jadi indikasi yang sangat jelas bahwa kamu menyimpan rasa khusus padanya. Jika tidak, tak mungkin ‘kan kamu akan membiarkan namanya terus-menerus muncul dalam percakapan kalian?

Sahabat yang sangat mengenalmu akan langsung tahu bahwa bukan kebetulan saja namanya selalu terselip dalam ceritamu. Bukankah wajar jika kamu terus menyebutkan namanya ketika sosoknya terus berputar dalam kepala?

Jangan heran ketika para sahabatmu mulai “mem-bully” dan menggodamu tiap kamu menyebutkan namanya kembali. Mereka hanya sadar, bahkan bisa jadi lebih dulu dari kamu, bahwa kini hatimu bukan sepenuhnya milikmu lagi.

6. Kata dan gerak-geriknya kamu terjemahkan sebagai harapan. Semua karena kamu begitu menginginkannya memelihara rasa yang sepadan.

Kamu pun ingin kamu memelihara rasa yang sepadan via 8tracks.com

Saat sudah tergila-gila, kamu akan diam-diam berharap semoga ia memelihara rasa yang sama. Harapan itulah yang bisa membuatmu tak lagi rasional. Tingkah lakunya yang biasa-biasa saja, kamu terjemahkan sebagai gestur yang “memberikan asa.” Kata-katanya yang sebenarnya wajar pun akan kamu anggap sebagai “sinyal”. Semua karena kamu berharap bahwa ia memang membalas perasaanmu dengan sepadan.

Hei, kalau sudah begini jadinya, apakah kamu tahan menyimpan perasaan ini selamanya? Bukankah waktumu habis hanya untuk berharap dan menerka-nerka?

Cinta bukan lampu saat malam yang harus kamu padamkan; bukan pula ranjau darat yang harus kamu lenyapkan atau kubur dalam-dalam. Cinta bukan hal yang berbahaya. Ia tumbuh — dan diakui atau tidak, ia ada.

Apakah tanda-tanda tadi yang sedang kamu rasakan sekarang? Jika ya, maukah kamu berjanji untuk mulai memperjuangkan perasaan? 🙂