“Yang, kamu yakin mau nikah sama aku?”

“Iya. Aku bahkan siap melamar kamu minggu ini.”

“Terus kalau kita nanti menikah, mau tinggal di mana? Aku boleh bekerja atau ngurusin kamu aja?”

Nah lo! Nah lo! Bingung juga kan kalau tiba-tiba pasanganmu tanya seperti itu? Ketika semangatmu sudah membara 45 untuk menikah, ternyata muncul pertanyaan-pertanyaan turunan. Meski sifatnya hanya turunan, kok bisa-bisanya ya sukses membuatmu galau?

Kalau dipikir-pikir, pertanyaan spontan tersebut ternyata penting untuk dipikirkan. Mau gak mau, hal tersebut juga menyangkut dengan kenyamanan hidup di masa depan kalian lo. Oleh karenanya kesepakatan yang dibangun mustinya sudah kompak. Lalu pertanyaan serupa apa lagi yang perlu kalian sepakati sebelum menikah?

1. Etisnya, kita tinggal di mana ya? Numpang di rumah orang tua kan ga enak. Beli sendiri, belum cukup modal.

Mau seatap dengan orang tua cowok atau cewek? Atau misah? via www.carebatonrouge.com

Ya, beberapa orang masih ada yang enggan menikah karena belum mampu membeli sebuah rumah sebagai huniannya kelak. Barangkali inilah yang mereka antisipasi. Tidak mau merepotkan orangtuanya ketika sudah berkeluarga nanti. Namun bagi kamu yang telah memberanikan diri untuk melangkah ke jenjang yang serius, tetaplah ceria menanti hari bahagia tiba.

Advertisement

Kamu bersama pasangan bisa memulai survei dan mencari kontrakan yang sesuai dengan budget. Banyak kok pasangan suami istri baru yang tidak serta merta langsung membeli istana. Mereka pun tak menolak meski harus repot berpindah-pindah kontrakan. Justru dengan demikian, kamu dan pasanganmu nanti dapat melatih kemandirian. Kalian juga memiliki otorisasi untuk menyelesaikan aneka ragam permasalahan rumah tangga, tanpa campur tangan orang tua.

2. Pertanyaan ini akan lebih sering dilontarkan oleh wanita. Aku masih boleh bekerja atau mengurus rumah saja?

Boleh kerja atau gak? via i.guim.co.uk

Apabila beban calon suamimu nanti terasa masih cukup besar, ada baiknya calon istri tetap bekerja. Berdasarkan poin nomor satu, paling tidak kalian punya beban untuk membayar sewa kontrak rumah dan juga menabung untuk membeli rumah baru. Apalagi sebelum kalian memiliki seorang anak, waktu kalian akan terasa lebih leluasa. Tak ada salahnya untuk tetap meneruskan pekerjaan kalian.

Namun jika kesepakatan kalian memang sudah bulat dan si calon istri harus berada di rumah, masih ada alternatif lain. Berbisnis online misalnya. Toh kini banyak ibu rumah tangga yang telah melakukan bisnis dari rumah sambil menggendong bayinya. Dari bisnis tersebut, mereka sangat terbantu sekali untuk meringankan beragam pembiayaan keluarga.

3. Tiga anak aja cukup, ya! Aku gak mau bikin kesebelasan sepakbola!

Mau satu atau dua? via api.ning.com

Ada yang bilang ngomongin ini sudah terlalu jauh. Tapi ada juga yang udah iseng-iseng nanyain ini sebelum hari pernikahanmu tiba. Sah-sah saja sih selama tujuannya baik dan diarahkan untuk masa depan kalian.

Mau merencanakan dua anak seperti program KB atau 11 anak seperti kesebelasan sepakbola pun boleh saja. Tapi yang perlu diperhatikan, pepatah “banyak anak banyak rejeki” sudah tidak berlaku lagi dewasa ini. Sebaliknya, perhatikan juga kemampuan kalian dalam merawat anak-anak kalian, baik secara psikologis, finansial, dan rohani. Perhatikan pula jarak lahir antara masing-masing anak.

Lalu, bagaimana bila nanti si wanita ternyata tidak subur? Siapkah untuk terus menjaga kesetiaan masing-masing? Beranikah kalian menghadapi setiap pertanyaan yang dilontarkan orang lain dan orang tua kalian sendiri?

4. Kalau nanti ada kerjaan, anak siapa yang jaga ya? Takut nih ngerepotin orang tua.

Ganggu gak ya kalau nitip anak ke orangtua? via www.ukjs.net

Kalau memang kamu dan pasanganmu kekeuh dan berprinsip untuk tetap bekerja, silahkan saja. Yang kamu perlu siapkan adalah bagaimana jika nanti kamu memiliki seorang anak dan kamu masih ingin bekerja. Untuk beberapa bulan, boleh saja kamu mengambil cuti. Setelahnya, siapa yang akan menjaga anakmu?

Ada dua alternatif. Pertama, kamu bisa menggunakan jasa babysitter. Ini jadi solusi buat kamu yang tidak mau merepotkan orang tua. Tentu saja, akan ada pengeluaran tersendiri untuk menggunakan jasa babysitter. Alternatif kedua, kamu bisa menitipkan kepada orang tua atau mertua yang tinggal satu kota denganmu. Namun tanyakan dahulu kesediaan orang tua atau mertuamu. Apakah mereka bersedia dan tidak disibukkan. Barangkali kesempatan ini juga semakin merekatkan tali silahturahmi kalian. Bahkan kalian tidak perlu meragukan anak kalian akan diasuh oleh orang yang salah.

5. Ketika kami sama-sama bekerja, bagaimana seharusnya mengelola keuangan keluarga? Tetap sendiri-sendiri atau membuat tabungan berdua?

Belanja juga harus selektif via images.ara.cat

Idealnya, semua pendapatan baik dari suami dan istri dilebur menjadi satu. Setelahnya alokasikan pendapatan-pendapatan tersebut ke dalam tiga pos. Pos tersebut adalah kebutuhan keluarga, kebutuhan jangka panjang, dan keperluan pribadi. Kebutuhan keluarga sudah pasti meliputi belanja bulanan keluarga. Biaya untuk membeli rumah dan pendidikan anak yang tak kalah pentingnya termasuk dalam pos kebutuhan jangka panjang. Sedangkan pos keperluan pribadi idealnya 2,5% dari total pendapatan untuk masing-masing suami dan istri.

6. Mengurus keuangan keluarga tak hanya monopoli istri. Suami dan istri dapat memegang dan mengawasi keuangan keluarga bersamaan.

mengawasi keuangan bersama via www.gerberlife.com

Pada umumnya, urusan keuangan keluarga kerap diserahkan kepada pihak istri. Sebab pihak istri yang nantinya akan bertanggung jawab dalam pembelanjaan segala kebutuhan rumah tangga. Selain itu, perempuan selama ini dikenal memiliki sifat yang teliti. Tak heran segala pencatatan keuangan dikerjakan wanita.

Namun masalah memegang dan mengawasi keuangan keluarga bukanlah dominasi wanita saja. Pria juga bisa kok. Kalau kalian melakukannya secara bersamaan, bukannya lebih nikmat dan satu visi?

Sebenarnya, banyak sekali yang dapat kamu tanyakan pada kekasihmu sebelum kamu menginjak ke tahap yang lebih serius. Itu semua kembali pada kamu-kamu. Namun, sebaiknya apa yang kalian sepakati bisa didiskusikan lagi setelah pernikahan. Bukankan kehidupan setelah pernikahan nanti akan lebih kompleks dan riil? Bahkan ada beberapa hal yang baru bisa dipikirkan dan dikemukakan setelah menikah.

Selamat berandai-andai, selamat berpikir! Semoga pernikahanmu sukses!