Jodoh itu di tangan Tuhan, jadi bersabar lah.

Entah sudah seberapa sering ungkapan itu keluar masuk di telinga dan hinggap dipikiran. Terdengar bijak dan terasa menenangkan, apalagi untuk kamu yang sedang dibuat galau dengan perihal pencarian pasangan. Namun, jangan sampai juga ungkapan itu kamu salah artikan. Alih-alih jodoh di tangan Tuhan, kamu malah berdiam dan hanya berpangku tangan. Hingga akhirnya kamu justru tak kunjung dipertemukan.

Hei, jodohmu memang ditangan Tuhan, tapi menjemputnya pun perlu kamu lakukan.

Jodoh itu bukan paket yang kamu tunggu di rumah saja sampai ada Pak Pos atau kurir yang datang mengantarnya.

Nunggu Pak Pos? via favim.com

Bahkan rezekimu saja tak sekonyong-konyong jatuh dari langit. Ada usaha untuk mendapatkannya berada di dalam genggaman tanganmu. Usaha yang kamu lakukan pun tak hanya sekali atau dua kali, tapi berkali-kali. Bahkan terus sampai apa yang kamu inginkan benar-benar ada di depan mata. Begitu pun jodoh yang tak bisa disamakan dengan sebuah paket yang sedang kamu tunggu-tunggu di rumah, sampai akhirnya Pak Pos datang mengantarnya.

Advertisement

Jodohmu itu benda hidup yang anggap saja sedang melanglang buana di luar sana. Untuk bertemu dengannya, kamu harus melakukan perjalanan yang sama, atau dengan kata lain berada di jalur yang sama. Sedangkan Tuhan punya andil untuk mempermudah jalanmu dan mendekatkan kalian.

Sebenarnya jodoh seperti puncak gunung yang harus kamu daki, sudah pasti kakimu perlu melangkah dan jangan berhenti sebelum sampai.

Mendaki, menembus hutan belukar via lolosbarcelona.com

Jika diumpamakan jodoh sebenarnya seperti puncak gunung yang untuk menakhlukkannya perlu kamu daki. Sedangkan untuk mendakinya, sudah pasti kamu perlu melangkahkan kaki dengan penuh keberanian dan tekad. Sebab, jalan di depanmu itu tak hanya penuh kelokan atau tanjakan, tapi juga belukar, jurang hingga bahaya-bahaya lain yang bisa sewaktu-waktu mengancam. Jangan sampai semua bayangan rintang dan halangan itu membuat kamu ciut, dan akhirnya berhenti ditengah jalan lalu membalikkan badan.

Pastikan kamu tetap melangkah sesulit apapun medan yang kamu hadapi. Ingat saja tak ada hasil yang tak dicapai dengan perjuangan. Apalagi untuk menakhlukan puncak yang jauh dan tinggi itu. Satu nasehat yang mungkin bisa membantu, nikmati perjalanmu tak perlu tergesah-gesah.

Toh jodoh itu puncak gunung, yang tak akan lari kemana pun. Dia tetap ada di depanmu selama kamu berada di jalur yang tepat.

Kamu perlu tahu, Tuhan akan mendatangkan jodohmu saat usaha dan doa kamu lakukan dengan sungguh-sungguh.

setelah berusaha maksimal, tunggulah dia! via shayarii.in

Tuhan itu maha bijak yang lebih tahu seberapa gigih usaha dan doa yang kamu lakukan selama ini. Jangan mengeluhkan jodohmu tak juga datang, jika ternyata upaya kamu menjemputnya setengah-setengah. Diibaratkan kamu ingin naik kelas, tapi sayangnya tak belajar dengan sungguh-sungguh. Ingat juga, Tuhan tak bisa kamu akali dengan tangis saat kamu memohon-mohon kepadanya, tanpa ada usaha yang maksimal satupun.

Percaya saja, kelak saat usaha dan doa yang kamu lakukan sudah seratus persen di mata Tuhan. Ia tak akan segan-segan mempertemukan kamu dengan jodohmu secepat mungkin.

Tapi, jangan sampai juga terlalu memaksakan diri. Agar kamu tak tersakiti, dengan dia yang kurang tepat untuk kamu cintai.

mencintai orang yang tak tepat 🙁 via lolosbarcelona.com

Perlu kamu tahu, konsep berusaha itu berbeda dengan memaksakan diri. Dalam berusaha kamu sadar jika hasilnya kelak tergantung dengan apa yang kamu upayakan. Ditambah lagi ada doa yang perlu kamu selipkan di sana. Sedang memanksakan diri tak lebih seperti seseorang yang kerasa kepala mempertahankan apa yang diinginkan, tanpa memikirkan usaha serta doa yang sesungguhnya.

Memaksakan diri pun sebenarnya membahayakan dirimu. Demi mengejar status berpasangan, kamu menjadi kurang jeli dan tak peduli, apakah orang yang kamu temui ini tepat atau layak untuk kamu cintai? Sudahlah menjemput jodohmu tak perlu memaksakan diri, agar kamu tak tersakiti dengan dia yang ternyata bukan jodoh tepatmu.

Berusaha menjemput jodoh tak harus berlebihan, kamu cukup memantaskan diri sebaik mungkin.

sudah pantaskah kamu via findspicture.com

Bukankah yang berlebihan itu tak baik?

Sama halnya dengan memaksakan diri. Saat kamu berlebihan menjemput jodohmu atau bisa dikatakan mengejarnya, kiranya justru kekecewaan yang mungkin kamu dapat. Pernah dengar pepatah Jawa? Alon-alon asal kelakon. Berusaha pelan-pelan saja bukan mengejarnya. Usaha yang kamu lakukan pun cukup memantaskan diri.

Pikirkan kembali, bagaiaman sekiranya jodohmu kelak? Apakah dirimu yang sekarang sudah pantas untuk dibanggakan olehnya? Paling tidak kamu perlu memiliki pencapaian yang membuatmu menarik dimatanya. Hidupmu pun perlu dipenuhi gairah untuk kehidupan yang lebih baik dan baik lagi di setiap waktunya. Dan pribadimu, sudahkah kamu menuntaskan segala persoalan dengan dirimu sendiri. Hingga kelak saat bertemu dengannya, pribadimu tak lagi sibuk dengan ke-aku-an semata, tapi sudah ke-bersama-an antara kamu dan dia.

Percayalah jodohmu di luar sana pun sedang mencari jalan, agar kalian lekas dipertemukan.

Dia pun mencari jalan untuk menemukanmu via pixabay.com

Sudah sejauh ini perjalananmu menghampiri dia. Masa iya kamu mau menyerah begitu saja? Diibaratkan, kamu itu sedang berada di medan perang, lalu tiba-tiba menyerah pada lawan, yang mestinya masih bisa kamu kalahkan dengan sedikit usaha lagi.

Percaya lah, jodohmu di luar sana pun sedang mencari jalan, agar kalian lekas dipertemukan. Kalian dipertemukan bukan karena sebuah kebetulan, tapi usaha yang maksimal. ingat saja puncak yang kamu tuju di sana sudah pasti menawarkan banyak keindahan yang belum kamu temui di sepanjang perjalanan ini.

Jadi, jemputlah jodohmu di tangan Tuhan. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama.