Tahun lalu, kita bersama-sama menari di atas dedaunan kering yang telah basah diguyur tangisan awan. Kamu memelukku erat bagai tak mau lepas, dan aku pun terhanyut karena begitu nyaman berada di sana. Bukan cuma ratusan kata cinta, luapan kasih sayang senantiasa kamu curahkan tanpa ku pinta. Sejak saat itu aku sadar, kamu adalah mutiara terpendam nan berharga di luasnya samudera. Aku sayang kamu.

“Harapanku cukup sederhana. Tetaplah di sini, jangan pernah pergi.”

Jika ada yang bertanya, kamu adalah alasanku untuk tetap bertahan pada cinta. Ya, karena kamu adalah cintaku yang pertama.

Sulit bagiku untuk membuka hati pada sembarang pria, meski mereka telah datang silih berganti. Bukan karena aku tak menyukainya, tapi memang hati ini saja yang belum siap menerima. Aku tahu, kamu mungkin menganggapku kuno karena lemah dalam persoalan asmara, pun dengan bahasan-bahasan cinta. Tak mengapa, itulah aku yang dengan gembira menyambutmu sebagai cinta pertama.

Pilihanku terhadapmu selalu kusemogakan sebagai sebuah jalan yang benar, dan menuntunku pada singgasana kesetiaan. Kamu adalah cinta pertama, sekaligus terakhir yang selalu kusematkan dalam jiwa.

Bagiku, kamu adalah ksatria di dalam hati. Darimu aku banyak belajar arti memberi dan indahnya rasa saling menghargai.

kamu mengajariku untuk berbagi via hdwallpapersrocks.com

Advertisement

Sebelumnya, aku adalah gadis pendiam yang tidak tahu arah kanan maupun kiri. Menganggap diriku yang paling mandiri juga menjadi rutinitas batinku, hampir setiap hari. Aku menganggap Tuhan selalu tak adil, karena tak banyak kawan yang bisa ku dapat, meski sikap demikian selalu ku tanamkan. Amarahku pun tak jarang meluap tak karuan, sehingga segala hal-hal penting nan berharga sering aku lupakan.

“Barulah ku sadar, ternyata aku egois dan terlalu mengagungkan gengsi. Terima kasih telah menyadarkanku, wahai kekasih yang kini telah menjadi kstaria di dalam hati.”

Di tengah semua gundah dan kesibukanmu, tak pernah ada kata ‘tidak’ untuk semua ajakanku. Sumpah, aku sudah terlalu nyaman bersandar di pundakmu.

pokoknya, I LOVE U! via hdwallpapersrocks.com

Predikat sabar dan pengertian memang layak aku sematkan padamu, wahai lelakiku. Berbagai masalah yang menerpa seolah terpecahkan tanpa adanya kerja keras, dan air mata yang mengalir deras. Kamu serba bisa, dan aku sangat bangga. Bidangnya pundakmu juga tak pernah absen membuatku begitu nyaman, sehingga semua lara cepat berganti dengan suka yang tak terkira.

Segala tangis dan sikap manja ini pun tak pernah membuatmu marah apalagi berniat meninggalkanku, justru kamu begitu gemas akan itu. Aku berjanji akan berpolah lebih baik lagi demi kamu, lelaki tegar terhebatku.

Hebatnya, kamu tak hanya menggilai kelebihanku tapi juga kekuranganku. Sebaliknya, aku pun akan begitu.

you makes me perfect! via santabanta.com

“Darimu, aku banyak belajar tentang arti menerima. Menyempurnakan segala kekuarangan menjadi sebuah kelebihan, sehingga terus belajar menjadi sosok pasangan idaman.”

Awal perkenalan kita memang sudah cukup lama, sehingga kamu dan aku sudah paham apa itu arti saling menerima. Bukan hanya menerima kelebihan sebagai sepasang kekasih yang cantik dan tampan, tapi juga berusaha menyempurnakan segala bentuk kekurangan. Kini, kamu telah ku anggap sebagai guru yang dengan tulus Tuhan kirimkan, untuk memperbaiki segala kelam di masa lalu.

Percaya atau tidak, kamu adalah alasanku untuk terus berbahagia. Aku bersyukur telah memilikimu di luas dan fananya dunia.

kamu alasanku untuk berbahagia via hdintergrundbilder.net

Di antara beberapa lelaki yang pernah singgah di hati, tak tahu kenapa kamulah yang paling berkesan dan menentramkan hati. Bukan hanya aku, banyak pula gadis lain yang menganggapmu sebagai ‘dewa’ karena ketampanan dan perilakumu yang sederhana. Salut, akhirnya kamu lebih memilih aku di banding mereka. Seketika aku sangat bahagia, karena ternyata kamu benar-benar lelaki terbaik yang berhak menerima cinta. Tetaplah di sini, jangan pernah pergi.

“Jangankan untuk pergi, bergeser sedikitpun aku sudah enggan dan tak pernah mau.”