Ngomongin soal gengsi dan pencitraan, kayaknya udah nggak zaman deh. Apalagi kalau kamu sudah masuk di usia kepala dua, yang kurang tepat kalau digunakan untuk main-main. Kamu memang butuh banyak pengalaman dan bergaul untuk mendewasakan diri, tapi bukan berarti bisa seenaknya sendiri.

Tidak mulia sekali, jika kamu yang sudah merasa dewasa tapi masih malu mengakui bahwa serius dalam hubungan itu perlu. Mau sampai kapan menunggu? Mau sampai kapan kamu akan membuka hati yang telah lama terbelenggu? Nah, supaya kamu berpikir dua kali kalau mau main-main dalam hubungan, simak saja artikel Hipwee berikut ini, ya.

Apa yang perlu kamu cari lagi? Sudah setua ini tak perlu banyak mengejar gengsi, yang penting itu menata hati.

yang penting menata hati via southhernbrideandgroom.com

Sesekali, kamu memang harus membuat lompatan besar dalam hidupmu. Membuat keputusan yang bahkan belum pernah sama sekali kamu lakukan, seperti keputusan untuk menata hati. Tidak perlu jauh-jauh, kamu cukup menempatkan hati pada sosok yang paling tepat buatmu. Toh, sosok yang selama ini kamu anggap remeh belum tentu tidak baik untuk kelangsungan hidupmu bukan?

Miliki juga hati yang jernih. Cerna matang-matang apa saja pilihan yang akan diambil. Bukan menurut sana-sini, tapi tanyakan dulu pada apa yang dikatakan oleh hati.

Tidak perlu banyak mencari kriteria. Dia yang sederhana dan pengertian sudah pasti bisa setia.

Advertisement

yang penting setia dan pengertian via ask-oracle.com

Permasalahan yang selama ini kamu alami adalah, susahnya mencari yang pas. Mencari ke sana ke mari tapi tidak sedikit kegagalan yang didapat. Tidak perlu risau. Anggap saja ini sebuah perjuangan yang tak boleh terlewatkan dalam hidup yang cuma sekali ini. Jika kamu terus menerus fokus pada kriteria, berarti kamu menuntut lebih dari kesempurnaan yang tak sama sekali dimiliki manusia.

Kalau kamu masih waras, cobalah untuk tidak merasa paling benar dalam menjalani sebuah hubungan. Dia yang telah digariskan berjodoh denganmu pasti juga punya kekurangan. Ikhlaskan sedikit perasaanmu untuk menerima, bahwa tidak selamanya pendamping hidup itu sesuai dengan ekspektasi, tapi yang penting pas di hati.

Hargai waktu yang kamu miliki. Terlalu mubazir kalau terus menerus menyesuaikan diri dengan sosok yang baru.

kasihani jiwa dan ragamu via her.ie

Rasanya, kurang bijak saja kalau di usia yang tidak muda ini kamu masih belum bisa membuat komitmen. Hargai waktumu, itu lebih baik.

Jaga dan pertahankan betul apa yang kamu miliki saat ini, demi masa mendatang yang telah lama diimpikan. Tidak perlu ‘wira-wiri’ dan membuang waktu kalau hanya untuk menggembirakan diri sesaat.

Pernah gagal dan kecewa dengan sosok yang lama itu biasa. Tapi itu bukan alasan untuk tak menjadikannya sebagai pengalaman yang paling berharga.

jadikan pembelajaran saja via sadwallpaper.blogspot.com

Kamu mungkin pernah serius dalam hubungan, namun entah kenapa selalu gagal di tengah jalan. Dia yang kamu cinta dan percaya seolah membuang begitu saja, semua waktu yang telah dilewati bersama. Di sini, kepercayaanmu terhadap cinta mulai terkikis, hingga kamu memilih tidak serius dan lebih nyaman bermain-main.

Klise memang, kalau banyak bicara tapi tak pernah mengalami sendiri. Kamu pun sah-sah saja berpikir seperti itu. Tapi tahukah kamu bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga? Pun gagal dan kecewa dalam hidup itu sudah digariskan sejak dulu oleh semesta?

Penyesalan itu bisa datang kapan saja. Termasuk ketika kamu sudah menginjak kepala tiga atau membina sebuah rumah tangga.

penyesalan itu selalu ada via mirror.co.uk

Kata orang, masa muda itu masa yang paling menggelora. Berbagai hal yang menantang pun, selalu layak untuk dicoba. Sama halnya ketika bermain-main dengan perasaan atau hubungan, mungkin kamu lah jawara yang tak terkalahkan. Saat bertambah tua, sedikit demi sedikit kamu mulai sadar kalau itu sama sekali tidak ada faedahnya, hanya sebatas gengsi dan nafsu semata.

Begitupun ketika tiba waktunya kamu berumah tangga, semua petualangan cinta yang dulu begitu dibangga-banggakan, akan lewat begitu saja sebagai angin lalu yang menyesakkan.

Ingat, yang akan merasa lelah itu bukan cuma kamu. Kedua orang tua yang selalu mendoakanmu pun begitu.

ada orang tuamu juga via whubbs.com

“Sudah besar. Sudah waktunya kamu mulai serius dalam hubungan. Bukan memaksamu untuk menikah, tapi setidaknya kamu selalu bijak dalam mengambil langkah.” 

Kedua orang tuamu, Di rumah.

Berbeda saat masa kecil yang hanya kamu isi dengan bermanja-manja dengan orang tua. Ketika dewasa kamu diwajibkan untuk lebih dekat dan terbuka, termasuk soal perasaan. Orang tua itu tak pernah minta macam-macam. Melihat anaknya tumbuh menjadi orang baik dan beradab saja sudah cukup. Bukan malah membabi buta mempermainkan hati orang lain.

Bukan soal materi, yang harus kamu takutkan adalah rasa kecewa dan menyesal di kemudian hari.