Saat memutuskan untuk bersama seseorang, sama artinya dengan kamu mempercayakan sebagian mimpimu kepadanya. Kamu merelakan sebagian dari hatimu untuknya, dengan harapan dia akan menjaganya baik-baik. Lalu kamu dan dia melangkah bergandengan tangan menuju masa depan dengan komitmen yang kalian sepakati berdua.

Tapi terkadang yang terjadi selanjutnya kadang tidak sesuai rencana. Sebuah hubungan memang tidak mungkin berjalan mulus selamanya. Komitmen yang terasa indah saat pertama kali diucapkan, kini menjadi sebatas janji using yang kadang teringat, dan kadang tidak.

1. Kepercayaan adalah hal sederhana sekaligus sulit didapatkan. Apa yang sudah disepakati berdua harusnya terus dijaga.

kepercayaan tidak datang begitu saja via sororitysugar.tumblr.com

Kepercayaan tidak datang begitu saja. Mungkin kamu masih mengingat sebelum kalian memutuskan untuk bersama, banyak hal yang menjadi bahan pertimbangan. Memang tidak mudah untuk mempercayakan begitu saja separuh hatimu kepada orang lain. Karena kepercayaan tidak datang semudah membalikkan telapak tangan, apa yang sudah menjadi kesepatan berdua seharusnya bisa dijaga dan dipertahankan. Komitmen pada tujuan yang sama itulah yang akan mengarahkan langkah kalian menuju apa yang menjadi impian berdua.

2. Sekali dilanggar mungkin tak apa. Toh kamu juga sama-sama manusia. Barangkali kondisi yang memang menyudutkan dia.

Sekali dilanggar, mungkin masih bisa dimaafkan via www.tumblr.com

Advertisement

Tetapi menjaga komitmen memang tidak semudah menjaga uang. Uang bisa dengan mudah kamu simpan di bank, lalu segalanya akan aman. Namun komitmen adalah sesuatu yang tak kasat mata, tak bisa disembunyikan ataupun disimpan dengan rapi dengan kode brangkas yang tidak terpecahkan selain olehmu sendiri. Kamu menyadari bahwa kamu juga manusia biasa. Terkadang ada alasan atau memang keadaan yang menyudutkan, sehingga komitmen itu dilanggar.

3. Tapi kesabaran hati juga ada batasnya. Bila komitmen dilanggar berkali-kali, mungkin dia memang tidak menghargaimu lagi.

berkali-kali dilanggar, kamu harus pertanyakan via waniegreen.blogspot.co.id

Sekali dilanggar, tidak apa-apa. Kamu masih punya cukup hati untuk menerima. Tapi bukankah kesabaran hati juga ada batasnya? Kali kedua dan kali ketia pelanggaran komitmen itu seharusnya membuatmu bertanya-tanya. Sebuah kesalahan harusnya menjadi pelajaran, agar nanti kesalahan yang sama tidak berulang. Melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang, bukan hanya dia tidak pernah belajar, tapi juga karena dia tidak cukup menghargaimu sebagai pasangan.

4. Dan bila komitmen tidak lagi dihargai, untuk apa kamu tetap bertahan sendiri? Sementara dia dengan mudah menggampangkan semua

Kamu berjuang sendirian via weheartit.com

Kini semua sudah menjadi jelas. Barangkali, dia tidak menganggapmu sebagai sesuatu yang serius. Dia menggampangkan semua, berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama, dengan alasan toh nanti kamu juga akan memaafkan. Di sini, kamu berjuang sendirian. Kamu menjaga habis-habisan apa yang tak pernah dia lakoni secara benar-benar. Sampai di sini, apakah kamu masih ingin bertahan sendiri sementara dia dengan mudahnya mengingkari janji?

5. Memaafkan memang membuat hidup lebih tenang. Tapi memaafkan tidak sama dengan terus-terusan mengalah dan memberi kesempatan.

kepercayaan ada batasnya via lovepathie.tumblr.com

Kata maaf adalah senjatanya untuk kembali, meski telah menyakiti berkali-kali. Kamu pun diambang dilema. Menyimpan amarah dan mengingat-ingat kesalahannya juga akan membuatmu semakin terluka. Memaafkan justru akan lebih mudah, karena kamu akan segera move on dari luka. Tapi memaafkan tidak selalu berarti memberi kesempatan lagi. Kamu bisa memaafkannya, melupakan apa yang telah dia lakukan, sekaligus melupakan mimpi-mimpi yang pernah kalian rangkai bersama.

6. Jangan sampai kamu terus bertahan dan terus percaya dalam hubungan yang menyakitkan hanya dengan alasan cinta yang masih ada.

Ada kalanya kita harus menyerah via mesutinio.blogfa.com

Bila mengikuti aturan cinta, tentu semuanya terasa mustahil untuk dilepaskan. Menghilangkan cinta tak akan semudah membalik telapak tangan. Dengan alasan masih cinta, kamu berusaha tetap bertahan dan memberi kesempatan. Segala sesuatu ada batasnya. Ada kalanya kamu harus menyerah, karena dia yang kamu pertahankan memang tak bisa diharapkan. Jangan sampai, hanya karena alasan masih cinta, kamu terus-terusan membiarkan dirimu terluka.

7. Katanya cinta memang tidak mengenal logika. Tapi tanyakan pada hati kecilmu sendiri: pantaskah dia diberi kesempatan lagi?

Layakkah dia diberi kesempatan lagi? via szintia-ruzsom.tumblr.com

Cinta membuat segalanya menjadi rumit. Yang benar dan yang salah seringnya tak bisa ditentukan dengan mudah, bila sudah dicampuri oleh cinta. Tapi ketika kebimbangan antara cinta dan menyerah di depan mata, coba tanyakan pada hati kecilmu sendiri. Apakah dia masih bisa diajak melangkah ke masa depan? Apakah dia orang yang tepat untuk dipercayai mimpi-mimpimu lagi? Dan apakah kamu tidak bosan mengulang-ulang adegan yang sama karena dia tidak pernah menjadi dewasa?

8. Jangan takut untuk melepaskan apa yang memang tak layak dipertahankan. Yakin saja, bahwa nanti ada cerita yang lebih indah dari ini semua.

Jangan takut melepaskan via blog.losingcontrolfindingserenity.com

Menyerah memang tidak mudah. Apalagi karena rasa itu memang masih ada nyatanya. Tapi di sini, kamu harus belajar untuk mengambil keputusan. Jangan pernah takut untuk melepaskan apa yang memang tidak layak kamu pertahankan. Memang sebuah perpisahan pasti akan menimbulkan luka. Setelah keputusanmu untuk menyerah, kamu akan memulai segalanya sendirian. Tapi tenang saja, seiring waktu, luka itu juga akan segera berlalu. Di luar sana, sebuah garis cerita yang lebih indah sudah dipersiapkan untukmu.

Sebuah hubungan yang dewasa, adalah hubungan yang berdasarkan pada rasa percaya. Itu tandanya kalian berdua sudah sama-sama dewasa dan tidak lagi saling memaksa. Tapi kepercayaan juga ada batasnya. Karena jika komitmen terus-terusan dilanggar, dia akan kehilangan maknanya. Segala sesuatu harus ada batasnya, karena itu, terkadang kita memang harus memaksakan logika kepada cinta. Agar cinta tidak jadi identik dengan luka.