Sudah hampir 2 tahun ini TV jadi hal yang makin langka dalam kehidupan kita. Pulang ke rumah setelah dihajar kemacetan dan tumpukan pekerjaan, menikmati informasi yang tidak terkurasi sudah bukan lagi pilihan yang menyenangkan.

YouTube dan sosial media jadi andalan demi memuaskan kehausan akan hiburan dan informasi. Ditengah makin beragamnya informasi yang tersedia, kita makin tidak ingin menelan mentah-mentah apa yang sedang terjadi di luar sana. Alih-alih reaktif, mencerna segala sesuatu dengan lebih pelan membuat segalanya cerlang di kepala.

Terbiasa dengan YouTube dan segala turunannya bolehkah aku punya keinginan untuk mewujudkan keluarga yang tanpa televisi nantinya? Maukah kamu jadi partnernya?

Kita akan belajar membentuk kotak ajaib lainnya. Kali ini tanpa antena

Kita akan berkata cukup pada episode hidup yang menganggap televisi adalah bentuk kedelapan dari keajaiban dunia. Kamu dan aku akan berhenti percaya bahwa kotak berantena ini adalah hal paling membahagiakan yang bisa kita dapat pasca memahami bahwa Hogwarts hanya khayalan. Kita akan mencukupkan perasaan terhibur karena acara-acara yang sebenarnya jauh dari kata mencerdaskan.

Kali ini kita akan belajar jadi manusia yang menghargai priceless-nya gelitik di perut karena candaan yang tidak sebegitu lucu. Sebentar lagi tanda ‘love’ di Instagram dan Path tidak akan lagi seberharga itu.

Akan tiba masa kita pulang ke rumah yang terasa jauh lebih sepi. Tapi berlipat kali lebih berarti

Advertisement

Udah pulang? Sini ngopi. Ngobrol kita.

Ajakan macam itu akan lebih sering datang saat salah satu dari kita pulang. Perpaduan paling standarnya begini: dua mug kopi yang sedikit norak karena kita dapat dari kondangan teman, V60 coffee mug dan beberapa jenis camilan.

Kamu berdiri menuangkan air hangat ke bubuk kopi yang baru selesai digiling. Aku menunggu sembari mengambil buku dari rak di sebelah dapur. Aroma kopi menguar ke udara. Beberapa halaman buku sudah mulai kubaca. Kamu bertanya, “Hmmm baca buku itu lagi? Nggak bosan apa?”

Rumah selepas tak ada lagi televisi akan terasa jauh lebih sepi. Tapi di situ kita bisa jatuh hati berulang kali lewat tatapan dan percakapan. Tanpa pretensi dan keinginan untuk saling mengacuhkan.

Running text digantikan percakapan dalam. Kita berjanji akan mencerna semua pelan-pelan

Jadi yang paling pertama tahu tentang segala sesuatu sudah bukan lagi kebutuhan. Sekarang kita lebih memilih jadi slow eater. Mencerna semua dengan pelan, memastikan kita tahu sampai lapisan terdalam.

Aku tidak akan lagi memaksamu jadi partner berdebat seimbang soal tren baru. Bukan lagi pasangan yang serba tahu yang kumau. Kali ini aku lebih ingin membangun hubungan yang sepadan, mendapatkan orang yang mau mendengar.

Supaya percakapan-percakapan hangat itu tak teredam, bolehkah TV-nya kita matikan?

Sekarang saatnya kamu memandang mataku lama. Hapalkan apa warna bola matanya. Tenggelamlah di sana.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya