Menikah memang jadi impian bagi banyak orang. Menikah seringkali digambarkan sebagai tujuan akhir dalam perjalanan hidup seseorang. Menikah bagaikan akhir cerita indah bagi setiap kisah cinta yang terajut. Wajar saja jika pemikiran ini jamak muncul, karena bagi sebagian besar orang menikah adalah cerita manis bersatunya dua anak manusia karena jodoh dan takdir? Kisah mana yang lebih indah dari itu?

Bagi sebuah pernikahan, cinta memang menjadi pondasi utama. Tapi cinta bukanlah modal satu-satunya. Ada banyak hal lain yang mesti kamu dan dia pertimbangkan. Sekali kamu memutuskan menikah, kamu tak akan bisa mundur lagi. Layaknya masuk labirin, kamu harus berjalan terus tanpa bisa kembali lagi. Sebelum semua terlambat, pikirkan kembali apa tujuanmu ingin menikah. Jangan hanya karena cinta yang sedang menggebu saja.

Cinta memang yang utama. Tapi kebutuhan sehari-hari tak bisa dipenuhi hanya dengan untaian kata mesra

tak cukup kata cinta via shutterstock.com

Saat kamu dan dia memutuskan untuk menikah kelak, kebutuhan sehari-hari yang kalian perlukan tak akan sama dengan saat kalian masih berstatus single. Ada banyak kebutuhan rumah tangga yang harus dipikirkan berdua. Mulai dari kebutuhan kecil di rumah tangga seperti membayar listrik dan uang belanja bulanan, hingga menyisihkan penghasilan untuk mulai membayar cicilan KPR. Tak bisa dipungkiri, semuanya butuh dana yang tidak sedikit. Meminta bantuan orangtua pun seharusnya menjadi jalan paling terakhir yang bisa kamu dan dia lakukan.

Demi memenuhi segala kebutuhan tersebut, kamu dan dia tak bisa jika hanya mengandalkan kata cinta saja. Harus ada upaya berdua untuk mewujudkannya. Cinta memang jadi hal paling utama saat kamu dan dia memutuskan untuk menikah, namun setelahnya materi juga tak bisa dikesampingkan begitu saja. Tentu ada perbedaan nyata antara dia yang materialistis dan realistis. Dia yang materialistis ingin kehidupannya berkecukupan namun tak mau ikut berjuang, sedang dia yang realistis menganggap perjuangan berdua dalam rumah tangga adalah yang mutlak harus dilakukan.

Masa lalu sudah tentu ada. Sudahkah kamu dan dia bisa saling menerima?

Advertisement

sudahkah saling menerima masa lalu? via dylandsara.com

Kamu dan dia tentu masing-masing memiliki masa lalu yang tak dapat terelakkan. Jika hingga detik ini kamu dan dia belum bisa saling menerima masa lalu masing-masing, lebih baik tunda dulu keputusan untuk menikah. Menikah dengan seseorang berarti siap menerima dia, baik karena kelebihannya maupun karena kekurangannya. Masa lalu pun jadi bagian dari hidup kita yang tak bisa dilepaskan begitu saja. Kamu dan pasangan harus bisa saling menerima dengan lapang dada.

Jika kamu menyukai sosok dia saat ini, maka hal itu tak bisa dilepaskan begitu saja dari masa lalu yang turut membentuk dia menjadi pribadi yang sekarang kamu kenal. Masa lalu ada bukan untuk diselali, melainkan untuk dijadikan pelajaran.

Rumah tangga tanpa pertengkaran mustahil terjadi. Jika kamu dan dia belum cukup dewasa menyelesaikan konflik berdua, lebih baik berpikir lagi

pertengkaran pasti pernah terjadi via photography.nationalgeographic.com

Tak ada pernikahan yang benar-benar berjalan mulus tanpa pertengkaran. Dari mulai pertengkaran kecil hingga pertengkaran yang disebabkan persoalan besar, sudah pasti terjadi. Bagaimanapun kamu dan dia adalah dua orang yang memiliki pemikiran berbeda, yang terkadang bisa mengalami selisih paham.

Jika kamu dan dia masih belum cukup bijak dalam menyelesaikan konflik berdua, langkah menuju pernikahan lebih baik ditunda dulu. Butuh kedewasaan dalam menghadapi persoalan yang terjadi dalam rumah tangga. Keputusan yang dibuat bukan lagi tergantung pada kepentingan pribadi, melainkan demi keberlangsungan hidup berdua.

Meski tak selalu dibincangkan, namun tempat tinggal selepas menikah tak boleh luput untuk dipikirkan

siapkan tempat tinggal berdua via www.realtor.com

Ada hal yang jarang diperbincangkan sebelum memutuskan menikah, yakni keputusan tentang mau tinggal dimana setelah menikah. Namun cepat atau lambat, hal ini tak boleh begitu saja dilupakan. Jika kamu dan dia memiliki orangtua yang bersedia menampung kalian setelah menikah, itupun bukan menjadi keputusan yang terbaik.

Selepas menikah, ada banyak hal yang memang harus berubah. Berpisah tempat tinggal dengan orangtua bisa menjadi salah satu perubahan yang harus segera dilakukan. Kamu dan dia kini telah berstatus suami istri, yang punya tanggung jawab dalam rumah tangga sendiri. Ada hal-hal pribadi yang hanya kalian berdua yang boleh tahu. Kalian harus memulai membangun istana milik kalian sendiri, sesederhana apapun itu.

Pernikahan tak bisa mengubahmu jadi pribadi yang lain. Itu murni komitmen kamu dan dia untuk jadi lebih baik lagi

berkembang bersama via dylandsara.com

Satu hal yang kamu dan pasangan harus pahami. Menikah tak lantas mengubahmu dan pasangan menjadi pribadi yang berbeda. Menikah hanyalah proses yang kalian lalui berdua, sepanjang sisa hidup yang kalian miliki.

Jika nantinya kalian berdua berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, itu murni karena komitmen berdua. Bukan karena pernikahan yang kalian bangun.

Jika kamu ingin menjadi lebih dewasa, menikah tentu bukan jawabannya. Kedewasaan tergantung kemauan yang ada dalam dirimu. Begitu juga keputusan menikah yang kalian buat, hadir dari proses kedewasaan yang lebih dulu kalian lewati. Kalian dewasa bukan karena pernikahan, melainkan kedewasaanlah yang membuat kalian memutuskan untuk mengikat janji suci. Kalau detik ini kamu berencana menikah hanya karena ingin terlihat lebih dewasa, maka yakinlah ini bukan saat yang tepat untuk memutuskan hal itu.

Meski menikah memang tak semudah kelihatannya, namun selalu ada sumber kebahagiaan yang tak pernah ada habisnya

sumber kebahagiaan selalu ada via shutterstock.com

Ya, memang tak ada kata mudah dalam pernikahan. Bagaikan kapal yang sedang berlayar, deburan ombak pasti sesekali datang menghantam. Tetapi sebanyak apapun cobaan yang datang mendera, setelah menikah kelak kamu akan menyadari satu hal.

Pernikahan membuatmu memiliki sumber kebahagiaan yang tak pernah ada habisnya.

Seberat apapun kesulitan yang kalian hadapi dalam pernikahan, selalu ada sumber kekuatan yang membuatmu mampu terus bertahan. Nantinya kamu akan sadar bahwa tak ada perasaan yang lebih membahagiakan dibandingkan selalu membuka mata di sampingnya, lalu memeluknya sambil merasakan hangat kecupannya di pagi hari. Kebahagiaan sederhana macam ini tak akan membuatmu kepayahan lagi. Selama ada dia yang selalu mengenggam tanganmu, rasanya semuanya sudah cukup.

Karena saat bersamanya, bahagia terasa sangat sederhana.