“Le, iki lho akeh undangan damel sampean”
“Undangan nopo, buk?”
“Yo undangan nikahan lah! Mosok kate undangan sunat! Ndi enek kancamu seng lagek sunat seumuranmu?! Eh, tapi ojo-ojo ancen sek enek seng durung sunat kancamu?”
“…………”

Artinya:

“Nak, ini lho banyak undangan buat kamu”
“Undangan apaan, buk?”
“Ya undangan nikahan temanmu lah! Masa iya undangan sunat. Mana ada temenmu yang baru sunat di usia sekarang?! Eh, apa emang masih ada?”
“…..…..”

Pagi itu saya ditelepon oleh Ibunda tercinta yang berada di kampung halaman. Kalau ndak salah, percakapan via telepon itu terjadi pada tanggal 28 Agustus silam. Pagi yang harusnya sejuk, mendadak terasa panas dan menyesakkan di dada. Semua gara-gara saya salah memilih teman. Mereka secara kurang ajar mengirim undangan ke rumah. Padahal ‘kan sudah pernah saya bilang agar jangan mengirim undangan nikahan, cukup kabarin via WhatsApp saja biar kehidupan saya tetap nyaman.

Beberapa minggu kemarin juga saya ditelepon oleh seorang sahabat dekat yang baru saja melahirkan anak pertamanya. Dalam percakapan telepon yang berlangsung selama lebih dari 30 menit itu banyak sekali celotehan tentang nikahan yang meluncur ke telinga. Mulai dari si A sudah nikah dengan duda beranak dua, si B yang lagi planning nikahan bulan depan, sampai ungkapan kekhawatiran teman saya ini tentang orientasi seksual saya (Dia mengira saya punya ikatan asmara dengan laptop saya. Gila!). Maklum, sepengetahuan dia, saya belum pernah pacaran atau dekat dengan perempuan. Padahal mah aslinya… Heuheu :p

Advertisement

Nah ketika saya pulang kampung beberapa hari yang lalu, hal mengesalkan juga terjadi. Topiknya sama; soal nikahan. Tetangga rumah (kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah) mulai bergunjing ketika melihat saya pulang. Bahkan tanpa malu mereka langsung bertanya, “Mas Oji pulang mau nyiapin lamaran, ya?” (“NDASMU!” Batin saya) Kan asyem!

Saya bukan @gmthiar yang orientasi seksualnya tertuju kepada tiang berbatu via hipwee.com

Segitu urgent-kah bagi anak seusia saya untuk membicarakan tentang pernikahan? Saya masih meniti karier lho. Mbok jangan dibombardir oleh pertanyaan seputar nikahan, sih…

Hal mengesalkan itu disponsori oleh budaya bangsa kita yang memang bangga ketika ada yang menikah muda. Mengingat ayah dan ibu kita dulu menikah di usia muda, dan bahkan Mbah serta Buyut kita menikah di usia yang terbilang masih sangat belia (baru juga belasan tahun udah nikah), jadi sangat wajar jika perkara nikahan ini selalu jadi topik gunjingan.

Tren masa kini yang bertebaran di masyarakat juga turut menyuburkan skema topik-topik seputar pernikahan. Buku-buku karangan penulis ternama banyak yang membahas tentang imaji romantika percintaan kawula muda. Di akhir cerita, menikah ditunjukkan sebagai momen paling indah bagi kedua tokoh utama. Dengan penggambaran pernikahan sebagai momen paling indah dalam kehidupan umat manusia, jelas saja banyak anak muda yang tertarik untuk mencicipinya. Ya kita nggak bisa nyalahin penulis atau penerbit buku sih soal ini. Lha wong cerita-cerita romantis gini kok yang laris. Mau gimana lagi cobak, ya. *Membela rekan seprofesi. 

Seakan nggak mau tahu penderitaan orang-orang yang masih enggan memikirkan pernikahan seperti saya, media dan portal-portal berita banyak yang berani-beraninya menyiarkan kabar pernikahan sosok putra Ustaz Arifin Ilham yang bernama Muhammad Alvin Faiz. Framing-nya itu lho yang bikin hidup saya makin nggak tenang. “Saat Putra Sulung Arifin Ilham Menikah di Usia Belia Karena ‘Mampu’” Judul berita macam apa itu?! Dari situ seakan-akan menuduh saya yang masih enggan memikirkan pernikahan ini belum ‘mampu’. Padahal ‘kan… emang belum mampu. Waduh! *Kemudian baper… :’(

Nikah? Lha wong dompet aja masih buluk kayak gini… :'( via hipwee.com

Namun, perlu digarisbawahi lho, ya. “Mampu” ini bukan cuma dari segi finansial saja. Iya sih, secara finansial gaji saya selaku editor dan penulis ini ya masih pas-pasan. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya mohon mbok Mbak Monik dan Mbak Indah naikin dong gaji saya. Heuheu *Kemudian dipecat

Nggak, nggak, itu cuma bercanda kok (tapi kalau dianggap serius sama Mbak Monik dan Mbak Indah juga gapapa sih. Heuheu). Bagi saya, lebih dari sekadar finansial, mampu dari sisi psikologis jauh lebih penting daripada dari segi finansial.

Saya pernah menjadi saksi hidup betapa pentingnya kesiapan psikologis lebih utama daripada kesiapan finansial. Ada seorang teman yang memutuskan bercerai setelah dua tahun pernikahan. Padahal sang suami punya status pegawai negeri dengan golongan dan gaji yang lumayan tinggi. Sang istri juga punya pekerjaan sebagai guru sekolah dasar yang penghasilannya bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Jadi alasan utama perceraian mereka jelas bukan uang, tapi mental mereka masih belum siap jadi seorang suami, istri, apalagi orangtua.

Ada pula teman lain yang sudah merencanakan pernikahannya sejak jauh-jauh hari. Namun ketika mendekati hari H, pernikahannya dibatalkan. Padahal undangan sudah dicetak, katering sudah dipesan dan teman-temannya sudah menyiapkan jadwal cuti agar bisa datang. Setelah dikorek, akhirnya kami tahu bahwa pernikahannya batal karena mental keduanya masih belum siap untuk menjalin ikatan pernikahan. Ego masing-masing yang masih tinggi hingga keinginan pribadi yang belum 100 persen terpuaskan jadi alasannya.

Pengalaman ini ada di dekat saya dan saya menyaksikan langsung dampaknya. Kan serem kalau gini jadinya…

Saya pengen nikah, sumpah! via hipwee.com

Karena itulah saya menolak untuk terburu-buru (atau Bahasa kerennya “grusa-grusu”) dalam hal membicarakan pernikahan. Bukan berarti nggak pengen nikah, lho. Cuma nggak mau terburu-buru aja. Apalagi saya cowok. Di mata masyarakat kita, cowok adalah tulang punggung keluarga. Artinya, di samping saya harus siap secara mental, saya juga harus punya kesiapan finansial yang mumpuni dulu sebelum berani memutuskan untuk menikah.

Sejujurnya, saya masih takut membayangkan kalau keluarga kecil saya nanti hidup kesulitan.

Baik karena saya yang belum siap mental jadi kepala keluarga, ataupun karena sokongan finansial dari saya belum memadai untuk keperluan sehari-hari. Mengingat harga rumah di Jogja yang makin mahal, biaya sekolah yang tiap tahun naik dan harga kebutuhan harian yang juga nggak main-main membengkaknya. Jujur saja saya minder.

Memutuskan menikah itu nggak mudah! via 123rf.com

Iya sih dalam ajaran agama yang saya tahu, banyak pemuka agama yang menyarankan untuk menyegerakan menikah demi menghindari zina. Kalau ndak salah ini juga yang jadi alasan kuat kenapa banyak muda-mudi kita yang memutuskan segera nikah walau usia masih belia. Namun menurut hemat saya, menikah dengan alasan ini sungguh sangat kurang tepat. Kalau takut zina, ya simpel aja; Jangan dekat-dekat si dia lah. Kalau alasan menikah adalah biar nggak zina, berarti pada dasarnya yang dibayangkan (dan diinginkan) dari menikah cuma ena-ena. Padahal kan menikah itu isinya nggak cuma “hohohihe” (manut istilah dari Pojok Kampung JTV) doang!

Menikah itu selain menyatukan dua insan juga menyatukan dua keluarga. Artinya, pernikahan kalian itu akan meleburkan dua budaya. Budaya bawaan rumahmu dan budaya bawaan keluarga pasanganmu. Kalian wajib memahami ini dan mempersiapkan diri dulu agar pernikahan kalian berjalan dengan baik dan nyaman. Bukan semata-mata karena menghindari zina doang. Alasan demi menghindari zina bukan berarti salah lho ya. Cuma alangkah lebih baik lagi kalau alasan itu juga ditambah lagi dengan keyakinan dan kesiapan masing-masing pasangan. Baik secara finansial maupun mental.

Pada akhirnya yang mau nikah muda ya silahkan. Yang masih memilih untuk sendiri juga jangan dipaksa menikah segera

Daripada menikah cepat demi menghindari zina, saya kok lebih yakin dengan statement Tuhan yang sudah memberi kepastian bahwa “jodoh yang baik untuk orang yang baik pula”. Kalau begitu daripada fokus ngebet nikah cepet, bukankah lebih baik kita benahi diri sendiri dulu jadi sebaik-baiknya? Ya ini cuma opini saya lho, ya. Kalau kamu merasa udah siap untuk menikah ya kenapa tidak (selama ada yang mau lho, ya). Toh menikah itu urusan personal. Asal kamu nggak jadi sosok yang suka bergunjing, pamer pernikahan dan maksa orang buat nikah muda sih nggak masalah. Semua orang bebas dengan pilihan pernikahannya mau kapan.

Seperti di Skuat Hipwee, ada sosok yang hobinya pamer status pernikahannya seperti Mas Bayu. Ada juga yang tengah mempersiapkan pernikahannya seperti Mas Reza dan Mbak Monik. Yang memutuskan baru bersedia menikah setelah ada ultimatum terakhir pasangan seperti Soni pun ada. Bahkan, yang masih dalam masa pencarian pasangan seperti Andrall yang sudah mencari pasangannya sejak tahun 23 masehi pun ada. Manusia itu beraneka ragam. Saling menghargai adalah koentji!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya