“If you love someone as much as we do, it never goes away” – David Moakes –

Masih ingat dengan tragedi Romeo-Juliet di karya Shakespeare? Atau kisah cinta manis Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy di novel Pride And Prejudice karya Jane Aunsten? Kali ini ada kisah cinta non-fiksi dan diulas di Huffington Post tentang sepasang kekasih Andre Helen (82) dan David Moakes (86) yang baru saja meresmikan pernikahan. Bagian paling manisnya, kedua pasangan ini harus menunggu selama 65 tahun untuk bisa bersama.

Cinta Helen dan David bersemi di tahun 1951, saat keduanya sama-sama masih duduk di bangku kuliah. Sayangnya, kisah cinta yang sudah siap dibawa ke pernikahan itu harus kandas karena tidak mendapat restu dari orang tua Andre Helen. Keduanya tidak setuju karena David Moakes mengambil jurusan seni dan berniat menjadi seniman. Tidak seperti Romeo dan Juliet yang memilih mati bersama daripada berpisah, pasangan ini memilih untuk berlapang dada dan mematuhi perintah orang tua. Pertunangan dibatalkan, dan keduanya mulai berjalan dengan jalur yang berbeda.

65 tahun kemudian setelah Andre Helen dan David Moakes kembali bertemu atas prakarsa anak perempuan Andre Helen yang berusaha mempertemukan kembali Ibunya dengan sang cinta pertama. Keduanya memang sudah menjadi kakek nenek dan memiliki keluarga sendiri-sendiri. Tapi setelah bertahun-tahun berlalu, cinta yang bergelora itu masih ada.

“Aku mencintainya seumur hidupku. Dan akhirnya kita bisa bersama,” tutur Andre Helen kepada BBC.

Advertisement

Ya, meskipun harus menunggu selama 65 tahun dan saling merajut sendiri-sendiri dulu, setidaknya mereka bersama pada akhir yang bahagia. Ah, barangkali memang begitulah cinta. Punya jalan sendiri untuk sampai pada tujuannya. Terkadang jalannya memang harus memutar, butuh patah hati untuk memahami arti, dan butuh mengalami sakitnya perpisahan untuk bersatu pada momen yang tepat waktu.

Jadi, kamu yang sedang berjuang untuk ke pelaminan, jangan menyerah dulu. Tidak ada cinta yang mudah, dan karena itulah, perjuangan yang berat justru maknanya selalu bertambah. Ya ‘kan?

Cinta yang kalian jalani bukan sekadar cinta remaja. Ada cita-cita dan harapan untuk hidup bersama

Kini ada harapan untuk membangun masa depan bersama via www.juliepepin.com

Saat dulu masih remaja, hubungan yang kamu jalani belum punya ekspektasi. Yang penting bisa senang-senang saja saat ini, ada yang diajak chatting-an, dan ada yang antar jemput ke mana-mana. Tak perlu terlalu serius, sebab pacaran hanya selingan.

Namun kini usia sudah semakin dewasa, dan main-main juga sudah bukan saatnya. Setiap hubungan dibarengi oleh ekspektasi tinggi, sebab kamu tentu tidak mau hubungan yang hanya begini-begini saja. Berat memang, karena ada harapan untuk selalu bersama hingga tua. Namun bukankah justru itu yang membedakan dengan cinta versi remaja?

Cinta di dunia memang tak seindah kisah cinderella. Tapi bukan berarti tak layak dijalani sepenuh hati

Kisah cinta tak selalu seindah dongeng via www.juliepepin.com

Barangkali kamu termasuk orang yang sedikit menyesal tumbuh besar dengan dongeng-dongeng cinta romantis seperti Cinderella atau Beauty and the Beast. Bukannya apa-apa, sebab kembali ke dunia nyata ternyata cinta tidak seindah dan semudah yang sering terlihat di layar kaca.

Dalam kisah semanis Cinderella, orang bisa jatuh cinta sedalam-dalamnya dengan mudah. Tak ada jatuh bangun mempertahankan hubungan yang goncang oleh rasa jenuh dan bosan, karena dari awal bersama kisah langsung sampai pada kesimpulan ‘bahagia selama-lamanya’. Meski di dunia nyata kita harus berdamai dengan banyak hal dan berjuang mengatasi banyak persoalan, namun kisah yang kamu jalani adalah kisah yang manusiawi. Cinta yang begitu manusiawi, sudah selayaknya dijalani dengan sepenuh hati.

Kamu dan dia masih sama-sama memantaskan diri. Wajar bila sama-sama sering makan hati

Masih saling memantaskan diri via nouba.com.au

Tak seperti dalam kisah dongeng yang memberikan gambaran pria sempurna berpasangan dengan perempuan yang juga sempurna, di dunia nyata kita harus berdamai bahwa pasangan kita adalah manusia juga, yang punya kekurangan dan kelebihan.

Ada perbedaan pandangan dan tujuan yang terkadang membuat segalanya jadi sulit. Ada ego yang tersentil sehingga terkadang terpikir untuk saling membenci. Ada rasa jengkel yang membuat masing-masing enggan bertemu untuk sementara waktu. Sementara terkadang rasa bosan dan jenuh membuat hubungan jadi hambar. Jangan menyerah di sini. Kamu dan dia sedang dalam perjalanan memantaskan diri. Sama-sama saling belajar, bukan untuk menjadi sosok sempurna, melainkan menyikapi segala ketidak-sempurnaan dengan dewasa.

Perbedaan bukan alasan untuk menyerah di tengah jalan. Sebab cinta memang membutuhkan pengertian, bukan keharusan

Perbedaan bukan alasan untuk menyerah via unsplash.com

Menyatukan dua kepala memang tidak mudah. Kamu inginnya A, tapi dia ingin B. Kamu berkata ini, dia berkata itu. Perbedaan-perbedaan itu memang selalu ada, dengan siapapun kamu menjalin hubungannya. Namun bukankah itu justru jadi komposisi warna yang menarik untuk dilihat? Seperti tangga nada yang menciptakan harmonisasi suara.

Seperti lukisan yang butuh berbagai warna untuk bisa dilihat sebagai keindahan. Cinta seharusnya merawat perbedaan itu, sehingga sebuah hubungan bisa menjadi wadah bagi kamu dan dia untuk sama-sama mengembangkan diri. Cinta butuh pengertian, tapi tidak butuh keharusan. Sebab cinta disusun oleh kasih sayang, yang seharusnya tak membuat satu orang hilang atas nama kesepakatan hanya agar hubungan tetap berjalan.

Jadikan suka duka sebagai alasan untuk bertahan. Sayang ‘kan berjuang mati-matian hanya untuk dilepaskan?

Sudah berjuang mati=matian, sayang kalau dilepaskan via unsplash.com

Sebuah hubungan mustahil bebas dari masalah. Cekcok dan perdebatan adalah hal yang biasa. Namun seberat apapun masalah kali ini, kamu dan dia sudah sejauh ini. Ingat masalah-masalah yang muncul dan akhirnya teratasi. Ingat juga pertengkaran demi pertengkaran yang pada akhirnya membuat kamu dan dia sama-sama introspeksi. Perjalanan kalian barangkali sudah setengah jalan, apa tidak sayang bila menyerah sekarang? Meski berat, cinta memang butuh perjuangan. Sebuah kerja sama yang apik antara dua orang untuk saling mengesampingkan ego, dan berjalan beriringan dengan perbedaan.

Kelak di ujung perjalanan, tinggal senyum bahagia yang tersisa. Mengingat setiap tangis dan tawa yang mewarnai perjuangan bersama

Menanti akhir perjuangan yang manis via www.juliepepin.com

Cinta memang misteri. Terkadang apa yang mati-matian kita perjuangkan, harus gagal sebab sang pemilik kehidupan mengatakan itu bukan yang digariskan. Namun sebelum memutuskan untuk menyerah, bukankah kita harus berjuang dulu? Berjuang habis-habisan hingga kamu mendapat jawaban apakah ini semua masih bisa diteruskan atau tidak.

Jikalau kelak akhirnya tetap tidak, setidaknya kamu sudah mencoba dan tidak ada yang perlu disesali akibat kesempatan yang dibuang sia-sia. Dan bila akhirnya mampu diteruskan, maka kamu dan dia akan bergandengan tangan di ujung jalan ini. Menatap perjalanan cinta yang penuh tangis dan tawa, dengan perasaan lega dan bangga.

Kisah cinta manusia di dunia nyata memang tidak seindah romansa dalam dongeng cinderella. Ada banyak hal yang harus diperjuangan dalam kerja sama berdua. Tapi bila memang ada orientasi untuk mendewasa bersama-sama, tentu harus bekerja sama untuk mewujudkan itu semua, bukan? Karena ‘bahagia selama-lamanya’ mungkin tidak pernah ada, tanpa rasa haru biru memaknai segala apa yang sudah dilewati bersama-sama.

Jadi, kalau kamu tidak mau harus menunggu 65 tahun untuk bisa bersatu seperti Andre Helen dan David Moakes, berjuang dulu ya :))

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya