Beberapa bulan lalu, ketika sedang berusaha berkonsentrasi ke pekerjaan yang terbuka di tab laptop sembari menahan godaan untuk tidak buka YouTube tiba-tiba berondongan pesan masuk ke WhatsApp saya. Pengirimnya adalah seorang teman dekat, sebut saja Katel, yang saya tahu pasti kalau dia WhatsApp bertubi-tubi pilihannya cuma ada dua: dia baru saja dilamar atau sedang ada masalah besar.

Malam itu juga dia minta bertemu karena kepalanya terasa hampir pecah dan butuh bercerita. Kondisi ini ibarat operasi perdamaian PBB yang harus dieksekusi segera. Karena kalau ditunda taruhannya kewarasan dan nyawa.

Akhirnya kami bertemu di cafe langganan. Saat berjalan mendekatinya yang terlihat sibuk scrolling ponsel dengan muka mbesengut tak enak dipandang dalam hati saya bertanya ihwal apa yang bisa membuatnya galau sekali.

Setelah duduk di depannya, menghela napas sebentar, dia langsung memberondong dengan cerita: “Mon, aku disuruh keluar kerja sama Nando (nama pacarnya – Red.) Setelah nikah nanti aku diminta ngurus rumah aja. Gimana dong ini?”

Katel baru saja dapat promosi di pekerjaan. Dia sedang suka-sukanya berinovasi bersama tim kecilnya. Wajahnya selalu lebih bersemangat saat bercerita bagaimana dia harus mencari cara growth hacking yang murah tapi berdampak besar. Walau sesekali misuh-misuh, dia juga kelihatan bahagia setiap bercerita caranya membagi waktu supaya tetap bisa karaokean dan nonton drama korea di tengah gilanya tuntutan kerja. Dan pastinya gaji yang didapat sekarang bisa memberinya keleluasaan untuk jajan lipen dan skin care tiap bulan.

Advertisement

Tidak pernah bertanya apakah mau jadi Ibu Rumah Tangga via www.pexels.com

“Tadi Nando tanya aku mau jadi istrinya atau jadi wanita karir. Kalau mau jadi istrinya ya keluar dari pekerjaan, fokus ke rumah tangga. Kalau pilih jadi wanita karir ya nggak usah jadi istrinya.”

Malam itu kami tidak mencapai kesepakatan apa-apa. Yang ada kami cuma tertawa-tawa sambil sesekali mengolok keputusannya kenapa dulu mau pacaran dengan Nando tanpa pernah curiga kalau suatu saat akan dirumahkan.

Sepulang dari pertemuan dengan Katel saya jadi berkaca ke kehidupan sendiri. Selama hidup 27 tahun, 4 kali pacaran dengan cowok dari berbagai latar belakang mulai dari Mas-mas Jawa sampai Koko-koko chinese  — kok saya belum pernah ya mendapatkan pertanyaan “Kamu mau jadi Ibu Rumah Tangga nggak kalau nanti nikah sama aku?”

Semua cowok yang pernah dekat seakan mahfum kalau bekerja adalah kebutuhan buat saya. Membayangkan saya duduk manis di rumah sambil minum teh di pagi hari dilanjut yoga buat mereka bisa jadi adalah sebuah anomali. Pernah juga saya pancing-pancing mantan pacar soal pendapat mereka kalau istrinya tidak bekerja. Jawabannya biasanya seragam, “Aku nggak pengen membatasi kamu. Kalau kamu suka kerja ya silakan…”

Padahal cowok-cowok yang sekarang sudah jadi mantan ini sama sekali tidak pernah bertanya apa mau saya. Mereka mengambil asumsi saja dari melihat kegiatan saya sehari-hari yang sepertinya penuh agenda. Karena saya juga hampir tidak pernah mengeluh soal pekerjaan, mereka pikir hidup macam ini adalah hal yang selamanya ingin saya teruskan. Padahal sibuk itu kan kewajiban ya, bukan hobi. Jadi bagaimana mungkin kesibukan bisa dihindari, kalau memang itu sudah jadi tanggung jawabnya? Sementara mengeluh ke pasangan soal pekerjaan juga tidak menyelesaikan masalah. Lebih baik bercerita di waktu pertemuan yang terbatas dengan nada yang manis dan manja supaya tetap dapat esensi mesra-mesraannya.

Dia tidak pernah bertanya macam-macam via www.pexels.com

Sulit ndan kehidupan. Ada orang-orang yang mati-matian nggak mau jadi Ibu-Ibu selow yang nggak bekerja. Sementara ada juga orang macam saya yang sebenarnya ingin jadi wanita domestik saja, tapi nggak ada yang mau percaya!

Sedikit mantan pacar yang mengangguk setuju waktu saya bilang keinginan terbesar saya dalam hidup adalah menjadi seseorang yang bisa bekerja dari rumah. Kesuksesan itu adalah bisa bangun tidur, mandi lalu berjalan ke meja kerja yang jaraknya cuma 10 langkah dari pintu kamar. Sebagian besar dari mereka ketika mendengar keinginan saya akan memandang saya lama lalu bilang, “Lho. Nanti kalau kamu bosen di rumah gimana? Nanti dikira aku yang membatasi kamu nggak boleh berkarya?”

Padahal dalam hati saya pengen teriak, “Mas. Batasi aku Mas. Batasi aku!”

Baru ke pasangan yang sekarang saya jujur dan terbuka soal keinginan untuk jadi wanita yang lebih domestik tapi tetap menghasilkan. Baru pada dia saya bisa bercerita panjang dan jujur soal rasa capek kalau harus terlalu sering berinteraksi dengan orang. Tentang perasaan ingin jadi pribadi yang bebas, tidak terkukung aturan organisasi dalam mengembangkan gagasan. Mengenai harapan untuk punya lebih banyak waktu menyelesaikan proyek-proyek idealis pribadi yang tidak akan bisa tergarap kalau masih harus mengurus tetek bengek profesional a la 9 to 5 tiap hari. Tentang perasaan ingin merumahkan diri karena ingin. Bukan karena tuntutan atau dorongan untuk melayani.

Sebenarnya pasangan yang sekarang membersamai juga tidak pernah bertanya apakah saya mau merumahkan diri saja atau bekerja. Hanya saja dalam setiap cerita-cerita saya dia lebih banyak tersenyum lalu menjawab, “Ya udah. Monggo aja, maumu gimana….”

Lalu diam-diam menyiapkan ruang kerja di calon rumah kecil kami. Sesuai mood board dari Pinterest yang saya kirimkan padanya.

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 🙂 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya