“Kalau sampai akhir tahun ini kamu belum juga dapat pasangan, Ibu bakal carikah kamu jodoh yang lain!”

Kalimat itu menjadi momok paling menyeramkan di sepanjang — hampir 30 tahun aku hidup di dunia. Kalian pasti bisa menebaknya, atau barangkali ada yang juga tengah mengalaminya? Ya, aku adalah wanita berusia matang untuk diperistri orang, namun belum juga punya pasangan yang sesuai idaman. Beberapa kali hubungan percintaanku kandas lantaran berbeda keyakinan. Klise memang, tapi bodohnya selalu kejadian. Dan aku baru menyadari kesulitannya sekarang. Mau nggak mau aku harus segera mencari bakal suami agar nggak dijodohkan dengan lelaki yang nggak aku kenal.

Aku pun mencoba berbagai cara untuk mengusahakan jodohku sendiri, tak terkecuali dengan meminta bantuan teman-temanku untuk menyomblangkan aku dengan seorang lelaki. Nggak mudah memang, meski telah banyak pesan singkat yang masuk ke ponselku dengan sapaan hangat khas lelaki yang mendamba wanita, aku selalu kecewa dan putus asa saat hatiku tak bergetar karenanya. Nggak muluk-muluk sebenarnya, kriteria calon suami yang aku idamkan hanya sebatas ini saja. Mengingat peluangku nggak sebanyak dahulu lantaran diburu waktu.

1. Paras tampan bukan lagi jadi acuan, kesanggupan untuk bisa menjaga dan mengayomi lah yang lebih dibutuhkan

Menjaga dan mengayomi via www.sooziq.com

Nggak bisa dimungkiri memang, penampilan fisik terutama paras wajah yang rupawan menjadi kriteria utama yang diinginkan dalam mencari pasangan. Namun, hal ini agaknya sulit untuk diterapkan pada posisiku, posisi dimana mencari calon suami berparas tampan peluangnya satu banding ratusan dengan calon suami yang mau menghalalkan. Impianku untuk memiliki pasangan yang diukur dari segi fisik sudah luntur dimakan waktu.

Advertisement

Kini, aku nggak terlalu banyak berharap untuk mendapatkan calon suami yang rupawan, asalkan sehat jasmani dan rohaninya. Mampu menjaga, melindungi dan mengayomiku sebagai istrinya saja sudah cukup bagiku. Jika pun dia berparas tampan, aku anggap itu sebagai bonus yang akan aku syukuri selamanya.

2. Meski ada keyakinan untuk meraih kesuksesan bersama, calon suami yang mapan tentu lebih menenangkan jiwa

Mapan dari segi finansial via theculturetrip.com

Banyak yang bilang, rezeki akan datang bagi pasangan yang telah telah sah menjadi suami istri. Anggapan ini sempat meracuni pikiranku. Aku merasa cukup teryakinkan bahwa kelak pasti ada jalan bagiku dan pasanganku (siapapun itu) untuk bisa mendatangkan rezeki. Tak perlu lagi khawatir kami akan kesulitan mencukupi kebutuhan.

Namun, aku akan lebih tenang jika calon suamiku sudah mapan. Bukannya materialis, aku hanya mencoba untuk berpikir logis. Memiliki suami yang sudah mapan tentu akan lebih memudahkan untuk kami mengejar mimpi memiliki kehidupan rumah tangga yang layak, bukan?

3. Punya satu tujuan yang sama, yakni keseriusan untuk melangkah ke jenjang pernikahan dan nggak terjebak dalam status pacaran terlalu lama

Poin ini menjadi salah satu syarat penting yang mesti dipenuhi calon suami. Nggak neko-neko dan mau diajak berumah tangga secepatnya. Meskipun nggak secepat sebulan atau dua bulan ke depan juga, paling nggak lelaki ini punya prinsip yang kuat untuk nggak lagi menganggap remeh sebuah hubungan. Aku mencari lelaki yang mau serius, seserius-seriusnya, bukan serius ala pasangan muda yang tengah dimabuk cinta. Lelaki yang mau diajak berdiskusi soal persiapan menikah, bukan dia yang hanya memikirkan kesenangan belaka. Kapanpun aku siap untuk disahkan, dia juga siap untuk mengesahkan. Simpel.

4. Seindah-indahnya rumah tangga yang dijalani pasangan berbeda keyakinan, memiliki suami yang seiman akan membuat hidup lebih nyaman

Seiman lebih menyamankan via theprayingwoman.com

Beberapa pasangan berani mengambil langkah untuk menikah berbeda keyakinan. Bukan tanpa alasan, meski mereka saling cinta, namun keduanya tetap ingin memegang teguh prinsip spiritualitasnya. Dan, tak sedikit juga yang berjalan bahagia seperti yang diharapkannya. Aku nggak bisa bohong bahwa sebenarnya aku juga mengingini kehidupan rumah tangga dengan nyaman meski berbeda keyakinan. Jika aku mantapkan niatku dari dulu, mungkin aku sudah menikah dan punya bayi mungil saat ini. Kenyataannya tidak.

Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku akan lebih nyaman hidup bersama lelaki yang seiman. Bukan hanya menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab akan kebahagiaanku, suami yang seiman juga akan saling menguatkan lewat satu ibadah dan satu doa. Meskipun aku meyakini bahwa Tuhan itu nggak ada duanya.

Aku bersyukur kepada Tuhan, akhirnya pencarianku berbuah hasil. Kini aku telah menemukan lelaki dengan bayangan masa depan di matanya. Masa depan kami berdua. Semua kriteria yang telah aku sebutkan ada di dalam dirinya. Sosok yang sederhana dan mau menerima aku apa adanya. Kelak, tak lama lagi, kami akan mengarungi kehidupan rumah tangga bersama. Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagimu, para wanita berumur yang tengah mencari sosok lelaki yang tepat untuk mengimami.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya