Aku selalu percaya tidak ada yang kebetulan di dunia. Kegemaranmu mendaki serta bujukanmu untuk terus mengajakku ikut serta, contohnya. Sedari awal kita bertemu puncak-puncak gunung memang sudah menempati posisi tertinggi di hatimu. Katamu mendaki menjadikanmu manusia seutuhnya. Dengan kegiatan yang membuat kaki pegal itu kamu justru bahagia.

Sebagai gadis yang mendampingimu, aku cukup tahu diri untuk tidak merengek agar selalu jadi nomor satu. Tapi setelah sekian lama kita bersama, setelah banyak puncak tertinggi yang kita jamahi berdua — bolehkah aku minta satu hal padamu, pria pendaki tersayangku?

Bolehkah jika kelak kita menikah di Ranu Kumbolo?

Kau harus menyisihkan waktu untuk  jogging setiap hari, renang beberapa kali seminggu sebelum datang melamarku

Bersiaplah, sebab pernikahan ini membutuhkan tenagamu (Kredit Foto: Maharis Wahyu) via journalkinchan.blogspot.com

Aku tak ingin kita menjadi pasangan hidup dalam kukungan tembok dan atap gypsum. Hidup terlalu singkat untuk dilewati dengan pernikahan yang isinya hanya makan, senyum manis dan bersalaman. Ada lebih banyak lapis yang hidup ini tawarkan — lebih dari sekadar resepsi, menyalami tamu undangan yang sebagian besar kita tak kenal.

Advertisement

Semoga kamu pendaki yang handal. Punya otot kaki dan tangan yang pejal. Sebab kelak aku ingin mengajakmu menikah di Ranu Kumbolo. Biar danau di tengah Mahameru dan burung-burung belibis yang menjadi saksi bagaimana kita sepakat menjadi tua bersama.

Sebab apa yang lebih indah dari mengikat janji di tengah alam raya? Tempat yang mampu membuka tabir paling jujur kita sebagai manusia.

Berdua, jalur Ranu Pani akan kita akrabi bersama. Ranu Kumbolo dan Mahameru membuat kita jadi manusia yang kuat dan tebal sabarnya

Jalur Ranu Pani akan kita akrabi bersama. Demi jadi manusia yang tebal sabarnya (Kredit Foto: Maharis Wahyu) via journalkinchan.blogspot.com

Berdua akan kita akrabi jalur Ranu Pani, melewati jalan setapak yang batanya tinggal separuh itu. Mengenakan carrier dengan rain cover warna seragam, hanya berbeda ukuran. Kita akan berjalan depan belakang, kamu yang memimpin perjalanan. Sedang aku tetap saja tak hapal arah jalan.

Sesekali akan kuteriakkan kata, “Break!” setiap udara di paru-paru terasa makin menipis cadangannya. Tanpa keberatan kau akan memperlambat langkah. Sigap kau cari tanah datar tempat kita bisa meletakkan barang untuk kemudian sejenak saling bersandar.

Tahukah kamu, kenapa Ranu Kumbolo jadi tempat sempurna untuk mengukuhkan cinta kita? Sebab di sana kita akan dididik untuk tidak lagi membawa batu di kepala. Kau dan aku harus bekerjasama, demi bisa sampai di tanah yang kita idamkan berdua.

Pernikahan ala Ranu Kumbolo ini minim wangi parfum menyengat dan dekorasi mewah. Meski diliputi bau keringat, kau dan aku merasa inilah kebahagiaan paling berlimpah

Sahabat-sahabat kita akan menanti dengan sabar (Kredit foto: Maharsi Wahyu) via journalkinchan.blogspot.com

Penghulu kita adalah mantan pendaki yang entah bagaimana justru menemukan takdirnya di KUA. Ia sudah membangun tenda terlebih dahulu disana. Ditemani beberapa rekan kita yang rela hari tenangnya diganti dengan keriuhan memasak sarden di atas kompor parafin.

Saat kita datang, mereka akan berjejer dengan kaus dan celana lapangan. Beserta sepatu pendakian. Tak ada aroma parfum menyengat yang menyapa hidung. Bau keringat hasil berjalan jauh memenuhi pembuluh. Tidak akan kita temukan poles riasan cantik dan dekorasi mewah. Burung belibis yang berenang ditengah danau jadi satu-satunya hiasan tambahan. Kau dan aku justru akan saling mengirim tatapan penuh sinyal, lirikan berlapis senyuman.

Memang pernikahan macam inilah yang kita inginkan.

Selepas kau ucap, “Saya terima nikahnya”  — kabut seakan bekerjasama mengelilingi tenda. Membiarkanmu mencumbuiku tanpa lagi khawatir dosa

Kabut seakan bekerjasam mengelilingi tenda (Kredit foto: Maharsi Wahyu via journalkinchan.blogspot.com

Tak perlu waktu lama, hingga kau ucap “Saya terima nikahnya”. Satu kali hela nafas, ringkas.

Terbiasa mengakrabi alam membuatmu tak kesulitan mengatur debaran. Sedang aku hanya menunduk, tak percaya bila kini nama belakangmu sudah sah disematkan. Guyonan teman-teman membuat ketegangan segera menghilang. Sore sudah mulai datang, kita pun sibuk memasak air hangat demi menyeduh cokelat kemasan.

Kita habiskan senja itu di Ranu Kumbolo. Tanpa es buah, minus organ tunggal, tanpa hidangan mewah. Tapi kau dan aku merasa inilah bahagia paling berlimpah.

Saat kabut mulai turun mengembuni tenda, sigap kita tutup pintu tenda di belakang. Lampu berdaya 3 baterai besar sepakat kita matikan. Kubuka sleeping bag yang kini sudah lebih besar, agar kita bisa tidur berdempetan; berbagi kehangatan.

Seperti pria selayaknya, kau pun mencumbui aku tanpa lagi takut dosa. Malam ini tangan dan pejalnya ototmu yang punya kuasa. Aku terlarut dalam ketuk yang kau cipta, tak lagi punya daya.

Esok pagi akan kita hela etape menuju Kali Mati. Curamnya trek Arcopodo, tanjakan pasir, dan gagahnya Mahameru sudah menanti

Esok pagi, Mahameru dan tanjakan pasir gagahnya sudah menanti (Kredit Foto: Maharsi Wahyu) via journalkinchan.blogspot.com

Selepas malam pertama, kau menggamit tanganku melewati tanjakan cinta. Sedikit jumawa, akan kita percundangi mitos yang ada. Sering-sering kita tengokkan kepala ke belakang. Toh sekarang kau dan aku sudah tak terpisahkan.

Lavender di Oro-Oro Ombo jadi saksi kecup-kecup luapan kebahagiaan. Tanjakan selepasnya tak lagi terasa memberatkan. Sudah ada lenganmu yang sanggup jadi pegangan.

Dalam tenda kita di Kalimati, kubisikkan padamu jika malam ini kita harus lebih tahu diri. Malam ini, walau keinginan saling merengkuh sulit dihindari — kita harus tetap menyimpan energi.

Tengah malam nanti akan kubangunkan kau dengan harum roti bakar mentega.

Kita siapkan jiwa, untuk menghadang pasir di puncak tertinggi para dewa.

(Seluruh kredit foto adalah milik Maharsi Wahyu Kinasih. Rekan satu tim pendakian Mahameru)