Menjalani hubungan jarak jauh seakan menjadi momok yang menakutkan bagi banyak pasangan. Mendapati kenyataan bahwa tak bisa setiap saat bisa menggenggam tangan pasangan atau memeluk tubuhnya kadang menjadi sumber kegundahan paling besar. Kekhawatiran bisa jadi naik dua kali lipat kalau kepastian belum juga diberikan. Kata “Aku percaya kamu,” saja seringnya tak cukup menepis kekhawatiran kalau pacar yang jauh disana tak terpikat dengan sosok lain yang keberadaannya lebih dekat.

Namun sebelum kamu yang saat ini sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan pacar merasa bahwa cobaan yang kalian alami ini yang paling berat, coba pahami dulu perasaan mereka yang sudah menikah tapi terpaksa harus berjauhan. Ada kondisi tertentu yang akhirnya membuat pasangan suami istri tak bisa tinggal serumah. Kalau ditanya mana yang lebih berat, jelas hubungan jarak jauh pasca-menikah jauh lebih berat. Tapi toh selama ini banyak yang adem ayem yang menjalaninya.

1. Menjalani hubungan jarak jauh setelah menikah jauh dari kata mudah. Tapi komitmen bikin lebih kuat

Baik-baik ya disana via markmanson.net

Banyak banget cobaan yang dialami pasangan yang sudah menikah, dari mulai masalah tempat tinggal, mertua, sampai anak. Jika ditambah dengan LDR, semuanya terasa lebih berat. Karena masalah yang timbul setelah menikah saja sudah jauh lebih berat dibandingkan masalah saat pacaran. Ketika terjadi masalah antara pasangan suami istri yang LDR maka permasalahan harus benar-benar diselesaikan dengan sabar dan kepala dingin. Karena ikatan pernikahan bukanlah sesuatu yang main-main dan bisa dengan mudah minta putus seperti orang yang masih pacaran.

Namun komitmen yang tentunya jauh lebih kuat, membuat pasangan suami istri yang menjalani LDR lebih tahan banting. Sebesar apapun badai yang mendera, pasangan yang sudah menikah meski harus terpisahkan jarak tentunya telah berkomitmen untuk melalui bersama.

2. Ketika ada malam-malam yang harus dilalui seorang diri, disana juga akan tercipta ketabahan hati untuk selalu menanti

Advertisement

Terasa sepi

Kelakar yang ditujukan kepada mereka yang baru saja menikah adalah tentang malam-malam yang kini tak lagi dilalui sendiri. Ada pasangan halal yang bisa didusel-dusel manja. Pun ketika ada hal yang terjadi lebih jauh lagi, semua sudah halal untuk dilakukan. Tak dipungkiri, itu memang kebutuhan biologis setiap orang.

Hanya saja bagi pejuang jarak pasangan yang sudah menikah semua jelas berbeda. Kehidupan “normal” sebuah rumah tangga belum tentu bisa dirasakan oleh mereka. Malam-malam yang sepi tanpa ada pasangan di sisi jelas menjadi konsekuensi yang mau tidak mau harus dihadapi. Namun dari sini, justru akan lahir sebuah ketabahan untuk selalu menanti. Kesabaran bukan lagi sekadar hal yang diucapkan ketika merasa kesal dengan pasangan, tetapi juga kesabaran untuk menanti sebuah pertemuan berarti.

3. Hanya karena tak bisa menahan rindu, pasangan menikah yang terpisah jarak tak bisa dengan mudah mengakhiri. Keduanya harus selalu mengingat kenapa memulai semua ini

Mengingat kenapa memulai semua ini via unsplash.com

Mereka yang menjalani LDR sebatas baru pacaran, mungkin bisa mudah memutuskan untuk berpisah ketika sampai di titik tak lagi sanggup berjuang melawan jarak. Hubungan bisa dengan mudah diakhiri, ketika tak lagi ditemukan kesepakatan yang berarti.

Tapi apakah pasangan yang sudah menikah dan harus terpisah jarak tak memiliki rasa rindu? Sehingga mereka bisa terlihat adem ayem dalam menjalani hubungan jarak jauh ini. Jawabannya jelas rindu kadang tak mampu dibendung. Namun inilah salah satu cobaan terberat yang harus mampu mereka taklukkan. Pasangan menikah yang terpisahkan jarak setidaknya harus selalu mengingat kenapa sejak awal bersedia memulai semua ini. Kembali lagi, komitmen yang kuat harus bisa menjadi pondasi.

4. Tapi beruntungnya akan lebih sedikit kekhawatiran yang dirasakan, karena masing-masing tahu dimana hati akan kembali

Tahu kemana hati akan kembali via www.indiaearl.com

Tidak seperti pasangan yang masih dalam tahap pacaran saat menjalani LDR, pasangan yang sudah menikah tahu betul tanggung jawab dan peran masing-masing. Pasangan yang belum menikah bisa saja banyak merasakan kekhawatiran tentang kesetiaan pasangan saat jauh dari pandangan. Tetap mau bertahan atau punya simpanan?

Berbeda dengan pasangan yang sudah menikah, tentunya berharap pernikahan yang dilalui hanya terjadi sekali seumur hidup. Setidaknya kekhawatiran bisa lebih sedikit dirasakan. Karena kedua hati yang sudah terikat ikatan sah selalu tahu tempat kemana harus kembali.

5. Nantinya ketika ada anggota keluarga baru yang hadir, prioritas bukan hanya untuk pasangan saja. Lebih dari itu, ada tanggung jawab besar yang harus digenggam

Ada tanggung jawab baru yang lebih besar via unsplash.com

Waktu ketika prioritas bukan lagi soal pasangan saja melainkan tanggung jawab baru pada sosok anggota keluarga baru yang hadir, cepat atau lambat akan tiba. Semua yang dilakukan pasangan suami istri meski harus terpisah jarak, tak boleh berkurang sedikit pun ketika sudah menjadi orangtua. Jarak jelas jadi penghalang besar, kesulitan yang dialami tak lagi soal kerinduan kepada pasangan semata. Lebih dari itu, ada tanggung jawab baru yang lebih besar yang harus bisa dipikul dengan baik.

Kalau dibandingkan kesulitan mereka yang terpisah jarak masih dalam status pacaran, sepertinya tak akan ada apa-apanya. Karena kehadiran seorang anak di tengah-tengah kehidupan orangtuanya selalu menjadi tanggung jawab yang tak bisa dibilang main-main.

Masih berpikir LDR saat pacaran itu berat? Jangan mengeluh dulu sampai kamu dan dia benar-benar merasakan terpisahkan jarak saat hubungan sudah naik tingkat ke pelaminan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya