Senang mendengar kabarmu lagi. Meski tak pernah bertanya padamu, diam-diam aku selalu tahu kabarmu terkini. Tentang usaha yang kini kamu jalankan dan tentang dia yang kini menemani. Termasuk tentang kesibukanmu mempersiapkan hari istimewa yang tinggal beberapa hari lagi.

Tentu hatimu kini berdebar menanti hari itu tiba. Aku bisa membayangkan bagaimana keringat dinginmu yang terus mengucur deras di kening dan telapak tanganmu. Ah, kamu memang terlalu sering membayangkan berbagai skenario yang belum tentu terjadi. Di hari bahagiamu ini ijinkan aku mengucapkan selamat dengan ketulusan hati.

Kedatanganmu dengan kabar bahagia sebenarnya sudah kuduga. Sebagai teman, aku lega juga turut merayakannya

Kabar baik darimu sebenarnya sudah terduga via etsystatic.com

Senja yang biasa-biasa saja itu, mendadak berubah ketika bel rumah berbunyi. Badanku yang tergeletak malas di kasur tak menghiraukannya. Ada bibi ini yang membukakan, pikirku. Hingga suara bibi memanggilku dari dekat pintu kamar, ada tamu, katanya.

Kamu telah menunggu di teras rumah. Tak ada yang berubah dari raut emosimu. Tetap datar seperti dulu. Mungkin sedikit senyum tipis yang kamu usahakan sekilas terlihat. Dalam keadaan yang begitu canggung ini aku hanya bisa mengomentari tubuhmu yang gemukan. Aku tahu, kamu ingin mengundangku ke acaramu. Acara sakral yang telah kau rancang begitu detail bersama keluarga besar dan kekasih hatimu yang baru. Tanpa berpikir panjang, aku pun menjanjikan untuk hadir pada hari bahagiamu.

Advertisement

Bukan berarti aku masih menyimpan rasa. Namun selepas kemunculanmu di depan pintu kisah kita seakan kembali terputar di kepala

Kenangan itu datang lagi. Saat-saat dulu kita masih merajut rindu. via www.slideshare.net

Menjelang hari-hari bahagiamu, aku justru terbawa pada kisah lama kita. Saat-saat kita masih menjalani masa-masa penjajakan. Kala itu, aku begitu bingung setiap kali bertemu denganmu. Aku tahu kamu pun begitu. Kita memang masih belum paham cara membawa diri kala itu. Yang kita tahu, kita saling memberi kabar setiap hari, makan malam dan nonton bioskop setiap Sabtu, dan lari pagi di hari Minggu. Tak pernah sedikitpun pembicaraan tentang masa depan membayangi kita.

Kisah kita memang cukup indah, tapi tenang, itu tak berarti aku masih menyimpan rasa padamu. Perasaanku padamu telah lama selesai sejak… sejak aku sadar bahwa cinta bukan lah hanya soal cowok tampan dan populer di sekolah yang membanggakan jika dibawa ke acara pensi. Lebih dari itu, cinta adalah soal menemukan kecocokan dan menyatukan perbedaan. Itu yang tak pernah kita miliki.

Kita pernah jatuh cinta begitu dalam. Namun egoisme dan sifat keras kepala ternyata lebih punya daya bungkam

Semuanya masih tersimpan rapi dalam sebuah kotak yang kusebut memori via poetryvoice.wordpress.com

Rangkaian kisah kita masih tersimpan rapi dalam memoriku. Mulai awal perkenalan kita di bawah pohon. Waktu itu kita sama-sama anak baru yang masih lugu. Aku bahkan masih ingat warna jaket dan sepatu yang kamu gunakan. Hari-hari kita berlalu sebagai sepasang teman yang cukup dekat. Beberapa proyek mempertemukan kita untuk kita kerjakan bersama. Sama seperti saat ini, kamu tetap sosok pemalu yang begitu irit bicara. Berkali-kali, aku memperlihatkan sikap yang bisa dibilang lebih agresif, namun kamu tetap diam. Lagi-lagi, kamu hanya merespon dengan senyum tipis.

Entah ada angin apa, kamu pun mulai berani untuk menampilkan diri. Jantung serasa berhenti sejenak, ketika dengan tergagap kamu memintaku menjadi pacarmu. Di malam itu, aku tak bisa memejamkan mata semalaman. Hari-hari kita pun berubah. Jejaring sosial penuh dengan kegiatan kita tanpa peduli komentar yang lain.

Hingga kita mulai menyadari sesuatu, kita memiliki pandangan berbeda tentang kehidupan. Aku sosok yang selalu haus akan petualangan. Tak pernah puas pada kenyamanan. Sedangkan kamu seorang dengan ketenangan yang selau bertahan pada zona nyaman. Aku tak mungkin memaksamu mengikuti caraku, pun kamu tak bisa membawaku menurutimu. Kita sudah pernah berusaha keras mencoba, namun tetap tak bisa.

Kita memang gagal sebagai dua orang yang saling cinta. Tapi apapun yang terjadi, kau pula yang mendampingiku jadi lebih dewasa

Bagaimanapun, kau lah yang membuatku jadi dewasa via tumblr.com

Percayalah, aku tak pernah menyesali perpisahan kita atau pun menangisinya. Aku sangat lega ketika akhirnya kita memutuskan untuk tak lagi bersama. Aku juga tak pernah menganggap hubungan kita suatu kesia-siaan. Semua yang pernah kita lewati adalah proses yang begitu indah bagiku. Bersamamu aku merasa berada dalam sebuah petualangan dimana aku dituntut untuk memecahkan berbagai teka-teki dalam diriku sendiri. Ya. Setelah berpisah denganmu, aku mengerti apa yang aku inginkan. Hubungan sederhana, seperti yang kita jalani, terlalu membosankan untukku. Datar tanpa ada tantangan sedikit pun. Aku pun yakin, apa yang kita lalui membuatmu sadar, kamu membutuhkan seseorang yang selalu ada untuk mendampingimu. Bersyukurlah kita pernah bersama, kawan.

Hari ini, aku melihatmu menyandingnya dengan penuh cahaya. Aku turut bahagia. Kutahu, kisahmu kali ini akan diamini semesta

Semoga kisahmu kali ini diamini semesta via imgkid.com

Seperti janjiku, aku akan datang memberimu ucapan selamat yang tulus dari lubuk hatiku. Aku melihat kegelisahanmu telah berganti terganti oleh secerca senyum. Dengan langkah pasti, kamu menyanding dia yang telah sah menjadi kekasih halalmu. Lihatlah, gadismu begitu anggun meski tanpa mahkota. Aku yakin setelah denganku, kamu mulai selektif dalam memilih pendamping karena aku pun begitu dan ini menjadi pilihanmu yang terakhir, semoga juga selamanya.

Tak sedikit pun ada kekecewaan melihatmu bersanding dengannya. Justru, aku sangat bahagia, karena kini kamu telah menemukan apa yang kamu cari. Selamat menemuh hidup baru, kawan lama, maaf jika mungkin aku pernah berbuat sesuatu yang kurang menyenangkan bagimu. Pesanku, jadilah pemimpin yang tegas untuk keluargamu. Selalu perlakukan istrimu selayaknya ratu. Semoga kalian menjadi keluarga yang penuh berkah.

Dariku,

sahabat yang dulu sempat kau cinta