Banyak yang bilang, Jogja merupakan kota yang penuh akan ketenangan dan keramahan. Singkat kata, Jogja itu utopis bagi setiap insan yang mengilhami kata-kata Anies Baswedan bahwa bagi setiap orang yang pernah tinggal di Jogja pasti setuju, setiap sudut kota Jogja itu romantis. Tapi bagi saya, Jogja nggak lebih dari sekadar kota rantau yang luput akan orientasi pada materi. Sebab, materi hanya bisa kamu timbun dari ibu kota.

Jogja itu terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. – Joko Pinurbo

Bahkan, ujaran dari Joko Pinurbo pun nggak bisa banyak membantu saya untuk mencintai Jogja seperti orang-orang yang acap mengunggah status ‘gagal move on dari Jogja’ di media sosial. Meski setakat saya sudah berusaha untuk terus mencintai Jogja, tapi rasanya masih ada yang janggal di hati saya untuk berkata jujur. Barangkali, dari kisah ini jugalah para kamerad di Hipwee menyebut saya baperan.

Memang, predikat yang tepat untuk Jogja itu tenang dan ramah. Tapi perlu ditegaskan, Jogja sudah nggak semurah yang kamu bicarakan

Macet juga. via backpackerjakarta.com

Nggak ada yang perlu diragukan lagi dari kedua hal ini dari tubuh Jogja. Penduduk asli Kota Gudeg memang senantiasa memberikan keramahan dan ketenangan dalam bermasyarakat pada siapapun juga yang berinteraksi dengan mereka. Inilah alasan kenapa orang-orang berbondong-bondong pergi ke Jogja. Selebihnya, pasti kamu beranggapan bahwa biaya hidup di Jogja jauh lebih murah dari kota asalmu; Jakarta, Bandung, Medan, hingga Jayapura. Ya, kalau kamu membandingkannya dengan biaya hidup dari kotamu, benar adanya. Tapi bagi yang tinggal di sini? Saya rasa nggak semua sependapat.

Advertisement

Jogja nggak semurah yang kamu bicarakan. Terlebih kalau kamu mendapatkan data ini bertahun-tahun lalu, setelah kamu bervakansi bersama gebetanmu, yang kudian memutuskan untuk tinggal di Jogja setelah menikah nanti. Halah, mimpi!

Jogja itu romantis, tapi cuma bagi mereka yang bercinta. Bagi yang lainnya, biasa saja, ah!

Romantis, buat mereka yang punya pasangan. 🙁 via hipwee.com

Meluruskan lagi asumsi orang yang bilang bahwa di setiap sudut kota Jogja, di setiap jalan, di setiap tempat makan, dan sebagainya itu romantis. Di sepanjang jalan imajiner, Malioboro, Alun-alun Kidul yang marak akan kendaraan berkerlap-kerlip atau angkringan dengan sebatang lilin sebagai penerangnya untuk menikmati sebungkus nasi kucing dan kopi jos, atau beragam pantai pasir putih yang masih sepi pengunjung di sepanjang pesisir Gunung Kidul, memang menawarkan romantisme tingkat absolut yang sangat langka kamu temui di kota lain. Ya, karena ini Jogja!

Tapi bagi saya pribadi atau 6.526 orang yang memiliki nasib seperti saya (yang membagikan dan berkomentar di artikel ini), saya jamin, Jogja nggak seromantis itu. Kecuali memang kamu sudah memiliki tambatan hati, dan kamu ajak plesiran ke Jogja. Nah, itu bakal beda cerita. Begitu menurut teman saya yang sangat menggilai romantisme Jogja, Galih Fajar.

Di Jogja, saya kehilangan segalanya yang berharga. Dari sahabat terdekat, hingga kekasih terhangat…

Kenangan lahak.

Setelah beberapa hari lalu saya menulis tentang rasanya jadi orang yang putus cinta di usia 25-an, sepertinya ada yang masih janggal di hati saya. Seperti ada yang belum tuntas dari apa yang saya rasakan dalam tulisan yang telah dibagikan lebih dari 6 ribu orang bernasib sama seperti saya itu. Jujur saja, tulisan itu saya buat berdasarkan pengalaman dan sedikit imajinasi yang ada.

Pengalaman yang saya alami ketika belum lama menginjakkan kaki di Kota Pelajar, barang tentu, membuat saya mendapat predikat baperan itu. Bagaimana bisa seseorang yang telah menjalin hubungan lama denganmu—begitu ia turut serta hijrah ke Jogja—seketika menanggalkan cintanya padamu dengan alasan yang nggak masuk akal? Semoga saudara Galih Fajar atau Soni, nggak akan menemui nasib seperti ini. Meski keduanya mengaku begitu setia pada kekasihnya—pun saya pernah mengatakan hal itu. Atau mereka penasaran dengan rasanya menjadi seorang yang putus cinta di usia 25-an? Itu sih terserah pada cewek mereka masing-masing, ya.

Tapi harus saya akui, tinggal di Jogja, membuat saya bisa dengan kepala tegak mengamini kata-kata Mbah Tedjo; pergi (tinggal) ke Jogja adalah caraku untuk menertawakan kesibukan orang-orang di Jakarta. Ya, paling nggak, masih ada yang bisa membuat saya bahagia, meski nelangsa dan air mata cukup akrab dengan pribadi saya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya