Sebuah perusahaan periklanan internasional, Saatchi & Saatchi, sedang melancarkan kampanye untuk menyetop bullying atau penggencetan siswa di sekolah. Tagline kampanye mereka? ‘Nerds today, CEOs tomorrow: don’t bully.’

Dengan lagu “I Will Survive” yang diganti liriknya, anak-anak yang menjadi korban penggencetan diberi kesempatan untuk menyuarakan pikiran mereka. “At first I was afraid, I was petrified / They washed my head several times, exposing my behind /But then I spent so many nights working on my grand revenge , I’ll be your boss / I’m gonna make you be my slave!”

Penggencetan atau bullying adalah masalah klasik bagi anak usia sekolah, termasuk di Indonesia. Menurut Nurul Mujahidah dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), pelaku penggencetan siswa tak hanya murid, tetapi juga guru. Misalnya, guru bisa menjatuhkan mental anak dengan menyebut-nyebut kelemahan sang anak di depan teman-temannya.

Di Indonesia sendiri, perilaku bullying makin ‘subur’ dengan adanya budaya plonco di sekolah. Bulan Maret tahun lalu, misalnya, mahasiswa Akademi Maritim Djadajat Jakarta bernama David Richard Djumaati (18) tewas setelah dikeroyok dan dipukuli benda tumpul oleh senior-seniornya. Bulan Desember di tahun yang sama, Fikri Dolasmantia Surya (19), mahasiswa baru di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, tewas dengan dugaan menjadi korban plonco dan kekerasan seksual dalam ospek jurusannya.

Kalau kamu selama ini termasuk di antara yang digencet, kamu harus percaya kalau semua hal jelek yang dikatakan para penggencetmu adalah bohong. Kamu baik, kamu pintar, dan kamu berharga. Hanya dengan mempercayai tiga hal ini kamu bisa bertahan dan merintis kesuksesan.

Advertisement

Kalau kamu selama ini termasuk di antara para penggencet, kamu harus tahu kalau kamu super menyedihkan dan cuma sedang menggali kuburan sendiri. Kalau korban kamu sampai meninggal dunia, hidupmu sebagai pembunuh benar-benar nggak akan pernah sama lagi. Dan kalau korban kamu selamat — seperti yang ditunjukkan video di atas — siap-siap lihat dia meroket sukses jadi CEO sementara kamu cuma akan menghabiskan sepanjang hidupmu menyemir sepatunya sampai kinclong.